Cara Membuat Anggaran Bulanan dari Nol yang Benar-benar Kamu Pakai
Cara membuat anggaran bulanan dari nol: catat penghasilan bersih, lacak pengeluaran nyata sebulan, kelompokkan, tetapkan pos, lalu evaluasi tiap bulan.

Cara membuat anggaran bulanan yang benar-benar bertahan urutannya begini: catat penghasilan bersihmu, lacak pengeluaran nyatamu selama satu bulan penuh, kelompokkan hasilnya, baru tetapkan angka untuk tiap pos, lalu evaluasi di akhir bulan. Perhatikan urutan dua langkah pertama, karena di situlah kebanyakan orang tersandung: mereka menetapkan angka lebih dulu, lalu berharap hidupnya menyesuaikan. Bank Indonesia dalam modul edukasi keuangannya menyebut tiga langkah utama menyusun anggaran adalah mengetahui penghasilan, mencatat pengeluaran, baru membandingkan keduanya. Panduan ini membahas prosesnya dari nol, kenapa anggaran yang rumusnya benar tetap berhenti dipakai di bulan kedua, dan bagaimana menyusunnya kalau penghasilanmu tidak tetap.
Lacak dulu, susun kemudian
Kalau ada satu hal dari panduan ini yang layak kamu bawa pulang, ini dia: melacak pengeluaran nyatamu selama satu bulan jauh lebih menentukan daripada memilih persentase yang tepat.
Ini bertentangan dengan hampir semua konten anggaran yang beredar. Biasanya artikel dimulai dari rumus, lalu pembaca diminta mencocokkan hidupnya dengan rumus itu. Urutannya terbalik. Rumus alokasi adalah cara membagi angka yang sudah kamu ketahui. Kalau angkanya belum kamu ketahui, kamu bukan sedang menganggarkan, kamu sedang menebak dengan rapi.
Materi pelatihan Bank Indonesia menyentuh persoalan ini dengan jujur. Modul budgeting mereka meminta pengajar menanyakan total pengeluaran bulanan peserta, lalu mencatat bahwa sebagian besar peserta akan kesulitan menjawab secara pasti karena mereka tidak mencatat pengeluarannya. Pengajar kemudian diminta menyampaikan bahwa agar kita bisa mengetahui total pengeluaran dengan mudah, sangat penting membiasakan diri mencatat setiap pengeluaran, sebab dengan pencatatan kita jadi lebih sadar dan lebih terkontrol dalam memakai uang.
Perhatikan yang tidak dikatakan di situ. Tidak ada persentase. Yang diminta lebih dulu adalah datanya.
Kenapa ini penting secara praktis? Karena anggaran yang disusun dari tebakan selalu meleset di tempat yang sama, yaitu pos yang paling sering kamu pakai. Kamu menebak biaya makan Rp1.500.000, kenyataannya Rp2.300.000. Selisih Rp800.000 itu harus diambil dari suatu tempat, dan tempat yang paling gampang dikorbankan adalah pos tabungan. Anggaran belum sempat berumur satu bulan, tetapi tujuannya sudah gagal.
Kalau kamu melacak dulu, hal yang berbeda terjadi. Kamu tidak lagi berdebat dengan dirimu sendiri soal seberapa boros dirimu. Datanya di depan mata, lengkap dengan hal-hal yang tidak kamu ingat pernah kamu beli. Dari situ anggaran berubah fungsi: bukan lagi daftar janji, melainkan keputusan tentang angka yang sudah kamu ketahui.
Satu bulan penuh memberi gambaran paling utuh karena mencakup tagihan yang cuma muncul sekali sebulan. Tetapi kalau menunggu sebulan terasa terlalu lama dan kamu ingin mulai minggu ini, dua minggu sudah cukup untuk membongkar pola belanja harianmu. Yang penting kamu melacak sesuatu yang nyata sebelum menuliskan target apa pun.

Lima langkah menyusun anggaran dari nol
Setelah urutannya benar, prosesnya sendiri sederhana. Lima langkah, dan tidak satu pun butuh keahlian khusus.
Pertama, tetapkan penghasilan bersihmu. Bukan gaji yang tertulis di kontrak, melainkan uang yang benar-benar mendarat di rekening setelah pajak dan potongan wajib. Kalau kamu pekerja lepas atau pedagang, kurangi dulu modal dan biaya operasional dari omzet. Angka bersih ini yang jadi atap anggaranmu. Semua pos di bawahnya harus muat di dalamnya.
Kedua, lacak pengeluaran nyatamu selama sebulan. Catat semuanya, termasuk yang kecil. Modul Bank Indonesia menyebut tantangan terbesar dalam pencatatan keuangan justru pengeluaran kecil yang sering lupa dicatat, misalnya parkir atau jajan. Kalau melacak dari nol terasa berat, curang sedikit: buka mutasi rekening dan riwayat dompet digitalmu tiga bulan terakhir. Sebagian besar jejaknya sudah tercatat di sana tanpa kamu sadari.
Ketiga, kelompokkan hasilnya. Jangan langsung membuat dua puluh kategori. Tiga kelompok besar sudah cukup untuk mulai, dan justru lebih mungkin bertahan.
| Kelompok | Isinya | Sifatnya | Cara memperlakukan |
|---|---|---|---|
| Pengeluaran tetap | Sewa, cicilan, premi asuransi, langganan internet | Jumlahnya sama tiap bulan | Salin apa adanya, ini lantai anggaranmu |
| Pengeluaran variabel | Makan, transportasi, listrik, jajan, hiburan | Berubah tiap bulan | Pakai angka nyata hasil pelacakan, bukan angka idealmu |
| Tabungan dan bayar utang | Dana darurat, pelunasan utang, investasi | Kamu yang menentukan | Sisihkan di awal, jangan tunggu sisa |
Bank Indonesia membedakan pengeluaran menjadi yang wajib dan tidak wajib, rutin dan tidak rutin, serta tetap dan tidak tetap. Kamu tidak perlu memakai semua sumbu itu sekaligus. Mulai dari tiga kelompok di atas, tambah rincian nanti kalau memang terasa kurang, bukan sebaliknya.
Keempat, tetapkan angka untuk tiap pos. Di sinilah rumus alokasi baru masuk, dan sekarang ia berguna karena kamu punya data untuk diadu dengannya. Kalau kamu ingin memakai kerangka pembagian yang populer, pembahasan lengkapnya ada di panduan aturan 50/30/20. Yang perlu diketahui di sini cuma satu: kerangka mana pun boleh kamu sesuaikan. OJK sendiri tidak menampilkan satu formula tunggal. Materi Sikapi Uangmu justru mencontohkan formula 10:20:30:40, yaitu 10% biaya sosial, 20% tabungan, investasi, dan proteksi, 30% cicilan utang, serta 40% biaya rumah tangga, lalu menyebut setiap komponennya dapat kamu modifikasi sesuai tujuan keuangan yang sudah dibuat.
Kelima, evaluasi di akhir bulan. Anggaran bulan pertama adalah hipotesis, bukan kontrak. Bandingkan rencana dengan kenyataan, cari pos yang jebol, lalu perbaiki angkanya untuk bulan depan.
Kenapa anggaran yang kamu buat berhenti dipakai
Bagian ini yang paling jarang dibahas, padahal ini yang sebenarnya menentukan. Menyusun anggaran itu mudah dan bisa selesai dalam satu malam. Memakainya sampai bulan keenam adalah cerita yang sama sekali berbeda.
Ada empat sebab yang berulang, dan keempatnya soal desain anggaran, bukan soal kamu kurang disiplin.
Terlalu rinci sampai melelahkan. Ini penyebab paling umum dan paling ironis, karena justru lahir dari niat baik. Orang memulai dengan dua puluh kategori, mencatat tiap transaksi Rp5.000, dan merekonsiliasi tiap malam. Dua minggu kemudian ada satu hari yang terlewat, lalu dua hari, dan catatannya tidak pernah dibuka lagi. Anggaran yang menuntut ketelitian akuntan akan kalah oleh hari-harimu yang sibuk. Tiga sampai lima kategori yang bertahan setahun jauh lebih berharga daripada dua puluh kategori sempurna yang bertahan tiga minggu.
Dibuat dari angka ideal, bukan angka nyata. Ini kelanjutan dari kesalahan urutan tadi. Waktu menyusun anggaran, kamu sedang berada dalam suasana hati yang optimistis, dan orang yang optimistis menuliskan versi terbaik dari dirinya. Biaya makan ditulis seolah kamu masak tiap hari. Ongkos ditulis seolah kamu tidak pernah terburu-buru. Anggaran itu lalu bertemu dengan bulan yang biasa saja, dan kalah. Yang paling merusak bukan melesetnya, melainkan rasanya: kamu merasa gagal padahal yang salah cuma angka yang tidak pernah realistis sejak awal.
Tidak ada pos untuk kesenangan. Anggaran tanpa jatah jajan akan runtuh, dan runtuhnya lebih cepat daripada yang kamu kira. Alasannya bukan soal angka, melainkan soal rasa. Anggaran yang menghapus semua kesenangan berubah jadi hukuman, dan tidak ada orang yang bertahan lama menghukum dirinya sendiri secara sukarela. Yang terjadi berikutnya bisa ditebak: satu pelanggaran kecil, rasa bersalah, lalu belanja besar sebagai pelampiasan. Pos kesenangan yang jujur, betapa pun kecilnya, adalah katup pengaman yang membuat sisa anggaranmu tetap berdiri. OJK bahkan menyarankan hal yang lebih halus lagi, yaitu membiasakan diri menentukan batas pengeluaran tertinggi untuk suatu barang atau kebutuhan sejak awal, misalnya saat membeli kado atau makan di luar akhir pekan, lalu berpegang pada batas itu. Kamu tetap boleh bersenang-senang, cuma dengan pagar yang kamu pasang sendiri.
Tidak pernah dievaluasi. Anggaran yang dibuat sekali lalu ditinggal akan cepat basi, karena hidupmu berubah dan angkanya tidak. Sewa naik, ada tanggungan baru, langganan bertambah diam-diam. OJK menempatkan evaluasi berkala sebagai langkah tersendiri dalam perencanaan keuangan, dengan tiga isi yang konkret: buat catatan harta dan utang, buat catatan penghasilan dan pengeluaran, lalu periksa kemampuan dompetmu secara berkala. Tanpa langkah ini kamu tidak akan tahu keuanganmu sedang sehat atau tidak sampai keadaan memaksamu tahu.

Menganggarkan penghasilan yang tidak tetap
Hampir semua panduan anggaran diam-diam berasumsi kamu karyawan dengan gaji tetap tiap tanggal 25. Untuk pekerja lepas, pedagang, pengemudi ojek daring, atau siapa pun yang penghasilannya naik turun, asumsi itu tidak berlaku, dan panduannya jadi terasa seperti ditulis untuk orang lain.
Prinsipnya sebenarnya cuma satu, tetapi menentukan: pakai bulan terendahmu sebagai dasar anggaran, bukan rata-rata.
Rata-rata terdengar masuk akal dan justru di situ jebakannya. Misalkan enam bulan terakhirmu berkisar antara Rp3.000.000 sampai Rp9.000.000, dengan rata-rata sekitar Rp5.500.000. Kalau kamu menganggarkan Rp5.500.000, kamu baik-baik saja di bulan yang ramai dan babak belur di bulan yang sepi. Padahal bulan sepi itu bukan kejadian luar biasa, ia bagian normal dari pekerjaanmu, dan pasti datang lagi. Menganggarkan dari rata-rata berarti membangun hidup di atas uang yang belum tentu ada.
Kalau dasarnya Rp3.000.000, kamu memaksa dirimu menjawab pertanyaan yang paling penting: apakah biaya hidup wajibku muat di bulan terburukku? Kalau muat, kamu aman sepanjang tahun. Kalau tidak muat, itu informasi berharga yang perlu kamu tahu sekarang, bukan nanti saat bulan sepi datang.
Lalu bagaimana dengan kelebihan di bulan yang ramai? Perlakukan sebagai penambal, bukan sebagai kenaikan gaji. Uang di atas basis masuk lebih dulu ke bantalan darurat sampai penuh, baru sisanya boleh naik ke pos lain. Cara ini membalik pengalaman yang biasa dirasakan pekerja lepas: alih-alih bulan sepi menghantui bulan ramai, bulan ramai yang membiayai bulan sepi.
Bank Indonesia sendiri mengakui bahwa penghasilan tidak selalu seragam. Modul mereka meminta pembaca mengenali penghasilan yang tetap maupun tidak tetap, rutin maupun tidak rutin, dan menegaskan bahwa penyusunan anggaran bersifat fleksibel, tidak kaku. Kamu punya izin untuk menyesuaikan bentuknya. Yang tidak bisa ditawar cuma prinsip terakhirnya: pengeluaran tidak boleh melebihi penghasilan.
Buku tulis, spreadsheet, atau aplikasi
Pertanyaan alat biasanya muncul paling awal, padahal ia paling tidak menentukan. Bank Indonesia menyebutnya sambil lalu saja: penyusunan anggaran dapat dilakukan secara manual maupun dengan bantuan aplikasi. Tidak ada yang diistimewakan.
Mari jujur soal ini, karena tidak banyak yang mau mengatakannya: alat paling canggih bukan alat terbaik. Yang menang adalah yang benar-benar kamu buka tiap hari.
| Alat | Kekuatannya | Kelemahannya | Cocok kalau |
|---|---|---|---|
| Buku tulis | Tidak ada pengalih perhatian, mencatat manual bikin sadar | Menjumlahkan sendiri, rawan hilang | Kamu ingin merasakan tiap pengeluaran |
| Spreadsheet | Gratis, fleksibel, menghitung otomatis | Perlu diisi dari rekap, mudah kelewat | Kamu nyaman dengan angka dan rumus |
| Aplikasi | Cepat, sebagian bisa menarik data transaksi | Notifikasinya mudah diabaikan, ada yang berbayar dan menampilkan iklan produk | Kamu butuh pencatatan di tempat, saat itu juga |
Ada catatan menarik dari materi edukasi DJKN Kementerian Keuangan tentang kakeibo, metode pencatatan keuangan rumah tangga dari Jepang yang diperkenalkan jurnalis Hani Motoko pada 1904 lewat majalah perempuan Fujin no Tomo. Metode berusia lebih dari seabad itu dijalankan dengan buku catatan biasa, dan tetap bekerja. Tulisan yang sama mencatat bahwa di Indonesia kakeibo sering sulit dipertahankan dalam jangka panjang, dengan penyebab utama rendahnya konsistensi dalam mencatat pengeluaran harian. Disebut juga bahwa pembayaran digital seperti kartu dan dompet elektronik membuat pengeluaran terasa kurang terlihat, sehingga pembelian impulsif jadi lebih mudah terjadi.
Simpulannya agak melawan intuisi. Kemudahan membayar adalah bagian dari masalah, jadi menambah kemudahan pada alat pencatatnya belum tentu menolong. Buku tulis yang memaksamu berhenti sepuluh detik untuk menulis Rp25.000 mungkin justru bekerja lebih baik daripada aplikasi yang mencatat semuanya diam-diam tanpa pernah kamu lihat.
Kalau kamu ingin alat resmi tanpa mengunduh apa pun, OJK menyediakan kalkulator periksa anggaran di situs Sikapi Uangmu. Pilih satu alat, pakai tiga bulan, lalu nilai. Berpindah-pindah aplikasi tiap dua minggu adalah bentuk lain dari menunda.

Urutan yang benar sebelum uangmu diinvestasikan
Anggaran sering dianggap urusan remeh yang bisa dilewati, sementara investasi dianggap bagian yang serius. Urutannya justru terbalik, dan membaliknya mahal.
Tanpa anggaran, kamu tidak tahu berapa yang benar-benar bisa kamu sisihkan tiap bulan. Yang terjadi biasanya begini: seseorang menyetor ke instrumen investasi dengan jumlah yang terasa "kira-kira mampu", lalu dua bulan kemudian ada kebutuhan mendesak dan setoran itu ditarik lagi. Uangnya tidak sempat bekerja, dan kadang keluar di saat yang paling tidak menguntungkan.
Urutan yang lebih aman ada tiga tingkat.
Anggaran lebih dulu, karena ia yang memberitahumu berapa ruang yang sebenarnya ada. Angka setoran yang berasal dari anggaran adalah angka yang bisa kamu pertahankan, bukan angka yang terasa mampu saat kamu sedang bersemangat.
Dana darurat berikutnya. Ruang yang ditemukan anggaran dipakai untuk ini dulu, dan targetnya sudah punya patokan resmi. Menurut OJK Sikapi Uangmu, dana darurat ideal adalah 6 kali pengeluaran bulanan untuk yang lajang atau belum punya tanggungan, dan 9 sampai 12 kali pengeluaran bulanan untuk yang berkeluarga atau punya tanggungan. Patokannya pengeluaran, bukan penghasilan, dan di situlah anggaranmu berguna lagi: kamu sudah tahu angka pengeluaran nyatamu. Cara menghitung dan menyimpannya dibahas lengkap di panduan dana darurat, dan targetmu sendiri bisa kamu hitung lewat kalkulator dana darurat.
Investasi paling akhir. Setelah bantalan darurat terisi, uang yang disetorkan punya izin untuk diam dalam jangka panjang, dan justru itu syarat agar investasi masuk akal.
Kalau target dana darurat terasa jauh, pecah jadi sasaran yang lebih pendek dan punya tenggat, seperti yang dibahas di panduan menabung dengan target waktu. Memisahkan rekening juga membantu, karena uang yang tidak terlihat lebih sulit terpakai, dan cara memilih rekeningnya dibahas di panduan menabung di bank.
Evaluasi bulanan yang tidak melelahkan
Langkah terakhir ini paling sering dilewati karena terdengar seperti pekerjaan tambahan. Padahal versi yang jujur cukup lima belas menit, dan ia yang menentukan apakah anggaranmu masih hidup di bulan keenam.
Cukup tiga pertanyaan. Pos mana yang jebol? Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk tahu angka mana yang perlu diperbaiki. Kenapa jebol? Bedakan sebab satu kali, misalnya servis kendaraan mendadak, dari sebab berulang, misalnya biaya makan yang memang tidak pernah muat sejak awal. Yang satu kali biarkan lewat, yang berulang harus mengubah angka anggaranmu. Apa satu hal yang diubah bulan depan? Satu saja, bukan sepuluh.
Perhatikan bahwa jawaban dari pertanyaan pertama sering bukan "kamu boros", melainkan "angkanya salah". Anggaran yang jebol di pos yang sama tiga bulan berturut-turut sedang memberitahumu bahwa anggarannya yang tidak realistis, bukan kamu yang tidak disiplin. Naikkan angka pos itu, lalu turunkan pos lain untuk mengimbangi. Ini bukan menyerah, ini menyesuaikan rencana dengan kenyataan, dan itu memang gunanya evaluasi.
Satu kebiasaan kecil yang berdampak besar, dan OJK menuliskannya dengan tegas: sisihkan tabungan secara rutin, bukan menyisakan. Bedanya cuma satu huruf tetapi hasilnya berbeda jauh. Menyisihkan berarti uang itu pindah di awal bulan, sebelum sempat ikut terpakai. Menyisakan berarti berharap ada sisa di akhir bulan, dan sisa di akhir bulan hampir selalu nol. OJK juga menyebut mencatat semua pemasukan dan pengeluaran secara teratur sebagai kebiasaan pertama yang perlu dibudayakan, karena dari situ kamu bisa tahu kapan harus mengerem pengeluaran dan kapan boleh sedikit bersantai.
Anggaran yang benar-benar kamu pakai jarang terlihat mengesankan. Ia biasanya berantakan, cuma punya beberapa kategori, dan berisi angka yang sudah beberapa kali direvisi. Justru itu tandanya ia hidup. Anggaran yang rapi dan cantik tetapi berhenti diisi sejak minggu ketiga tidak pernah menolong siapa pun. Kalau kamu ingin melangkah lebih jauh setelah anggaranmu jalan, panduan lain di pilar mengatur uang dan menabung bisa jadi langkah berikutnya.
Bagaimana cara membuat anggaran bulanan untuk pemula?
Berapa lama harus melacak pengeluaran sebelum membuat anggaran?
Kenapa anggaran yang saya buat selalu gagal dijalankan?
Bagaimana membuat anggaran kalau penghasilan saya tidak tetap?
Anggaran bulanan sebaiknya pakai aplikasi, spreadsheet, atau buku tulis?
Anggaran dihitung dari gaji kotor atau gaji bersih?
Setelah anggaran jadi, apa langkah berikutnya?
Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.
Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab
Sumber
Bank Indonesia - Panduan Modul Edukasi Keuangan Digital Tingkat Dasar, Modul 2: Budgeting (2026)Tahapan menyusun anggaranOJK Sikapi Uangmu - Resep Keluarga Sejahtera: Ayo Rencanakan Keuangan!Langkah perencanaan dan evaluasiOJK Sikapi Uangmu - Kebiasaan Keuangan yang Harus Mulai Kamu Terapkan Sejak Sekarang!Mencatat pemasukan dan pengeluaranOJK Sikapi Uangmu - Yakin Keuangan Kamu Udah Sehat? Yuk, Cek Bersama!Ciri keuangan tidak sehatOJK Sikapi Uangmu - Dana DaruratDana daruratOJK Sikapi Uangmu - Kalkulator Periksa AnggaranAlat bantu resmiDJKN Kementerian Keuangan - Kakeibo dan Gaya Hidup SederhanaAlat pencatatan dan konsistensiSetiap angka dan klaim di artikel ini dirujuk ke sumber resmi di atas beserta tanggalnya.
Panduan lain yang berkaitan.
Financial Check Up: Rasio Sederhana untuk Menilai Kondisi Keuangan Sendiri
Aturan 50/30/20: Cara Memakainya dan Kapan Porsinya Perlu Disesuaikan
Cara Menabung Dana Pendidikan Anak Sejak Dini: Hitung Target dan Pilih Wadahnya
Masih ada yang ingin ditanyakan soal mengatur uang? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.
Tanya via WhatsApp