Lompat ke konten
Menabung

Deposito Adalah: Cara Kerja, Bunga, Pajak, dan Jaminan LPS

Deposito adalah simpanan berjangka dengan bunga tetap. Pahami cara kerjanya, pajak final 20%, batas jaminan LPS, penalti pencairan, dan imbal hasil riilnya.

Tim Redaksi Uang BijakDiperbarui 12 menit bacaDitinjau Ahmad Thariq Syauqi
Aula utama perbankan di Museum De Javasche Bank dengan deretan loket kasir berjeruji kayu dan besi, lampu gantung, dan tangga besi menuju lantai atas
Loket kasir bank sudah berganti rupa, tetapi prinsip deposito tetap sama: uang dititipkan untuk jangka waktu tertentu dengan bunga yang disepakati di awal. Foto: Ulumarifah / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Deposito adalah simpanan bank yang pencairannya mengikuti jangka waktu dalam perjanjian antara nasabah dan bank. Imbalannya umumnya ditetapkan sejak awal, tetapi pencairan sebelum jatuh tempo dapat dikenai penalti. Nasabah perlu memeriksa bunga, pajak, tenor, serta ketentuan penjaminan LPS.

Kalau deposito non-ARO lupa dicairkan saat jatuh tempo, apa yang terjadi?

Non-ARO berarti deposito tidak diperpanjang otomatis, tetapi detail pencairan tetap mengikuti perjanjian dan kanal pembukaannya. Setelah jatuh tempo, bunga biasanya berhenti dihitung menurut ketentuan produk. Jangan menganggap dana hilang atau otomatis masuk tabungan sebelum memeriksa rekening pencairan dan menghubungi bank.

Bank dan rujukanPerlakuan yang disebut sumber
MandiriNon-ARO digital dicairkan otomatis ke rekening sumber pada tanggal jatuh tempo; produk cabang dapat memerlukan pencairan nasabah.
BNIProduk menyediakan pilihan ARO atau non-ARO; pencairan dan penempatan bunga mengikuti RIPLAY serta instruksi rekening.
BRIDeposito yang tidak diperpanjang dan belum dicairkan setelah jatuh tempo tidak mendapat bunga selama dana mengendap melewati jatuh tempo.
CIMB NiagaJika deposito jatuh tempo tidak diperpanjang tetapi instruksi pencairan tidak lengkap, bunga atau bagi hasil tidak dihitung setelah tanggal jatuh tempo.

Sumber: Mandiri Deposito Rupiah, BNI Deposito, BRI ketentuan deposito, dan CIMB Niaga Deposito Berjangka.

Deposito adalah simpanan yang pencairannya hanya dapat dilakukan pada jangka waktu tertentu dan dengan syarat tertentu, sesuai definisi OJK Sikapi Uangmu. Sederhananya, kamu menitipkan uang ke bank dan berjanji tidak mengambilnya selama tenor yang disepakati, lalu bank membalas dengan bunga yang umumnya lebih tinggi daripada tabungan biasa. Sampai di situ terdengar menyenangkan.

Yang jarang diceritakan brosur adalah tiga hal yang menentukan berapa yang benar-benar masuk ke kantongmu: bunganya dipotong pajak final 20%, jaminan LPS punya batas dan syarat yang bisa gugur justru saat bunganya menarik, dan pencairan sebelum jatuh tempo umumnya kena denda. Artikel ini membedah semuanya, lengkap dengan hitungannya.

Apa itu deposito? Pengertian dan contohnya

Pengertian deposito yang paling aman dipegang adalah versi regulator: menurut OJK Sikapi Uangmu, deposito adalah simpanan di bank yang hanya bisa dicairkan pada jangka waktu tertentu dan dengan syarat tertentu. Itulah pembeda utamanya dari tabungan. Tabungan boleh kamu ambil kapan saja, sedangkan deposito sengaja dikunci sampai jatuh tempo. Jadi kalau ditanya "deposito itu apa", jawaban singkatnya: tabungan berjangka di bank, dananya terkunci selama tenor, dan sebagai imbalannya kamu mendapat bunga yang umumnya lebih tinggi daripada tabungan biasa.

Tiga unsur yang selalu ada dalam setiap deposito:

  • Pokok, yaitu uang yang kamu setor di awal.
  • Tenor, yaitu lama penguncian. OJK mencatat pilihan yang umum adalah 1, 3, 6, dan 12 sampai 24 bulan.
  • Bunga, yang dipotong Pajak Penghasilan final 20% sesuai PP Nomor 131 Tahun 2000.

Contoh deposito (ilustrasi hitungan, bukan penawaran bank mana pun): kamu menyetor Rp10.000.000 dengan tenor 12 bulan dan misalkan bunganya 4% per tahun. Bunga brutonya Rp400.000. Karena jumlah simpanannya di atas Rp7.500.000, bunga itu dipotong pajak 20% atau Rp80.000, sehingga yang kamu terima bersih Rp320.000. Saat jatuh tempo kamu mendapatkan kembali Rp10.000.000 ditambah Rp320.000. Angka 4% di sini sengaja dipilih supaya mudah dihitung. Bunga sungguhan berbeda di tiap bank dan tiap periode, jadi selalu cek di bilyet atau situs resmi banknya, dan bandingkan dengan tingkat bunga penjaminan LPS yang dibahas di bawah.

Cara kerja deposito, dari bilyet sampai jatuh tempo

Alurnya cukup lurus. Kamu menyetor sejumlah dana, memilih tenor, lalu menerima bukti kepemilikan berupa bilyet atau sertifikat. Bunga bisa dibayarkan setiap bulan atau sekaligus saat jatuh tempo, tergantung kesepakatan. Saat tenor berakhir, kamu berhak menerima pokok beserta bunga yang sudah dipotong pajak.

OJK mencatat deposito berjangka umumnya tersedia dalam tenor 1, 3, 6, dan 12 sampai dengan 24 bulan. Deposito berjangka mencantumkan nama pemilik, baik perorangan maupun lembaga. Ada juga sertifikat deposito yang diterbitkan atas unjuk tanpa mencantumkan nama pemilik, dan karena itu bisa diperjualbelikan kepada pihak lain. Perbedaan ini penting kalau kamu mempertimbangkan sisi likuiditas dan pewarisan.

Satu fitur yang perlu kamu kenali sejak awal adalah ARO atau automatic roll over. Deposito yang jatuh tempo bisa diperpanjang secara otomatis tanpa kamu datang ke bank. Fitur ini nyaman, tetapi ada sisi yang mudah terlewat: perpanjangan mengikuti bunga yang berlaku pada saat itu. Kalau suku bunga sedang turun, depositomu diperpanjang di bunga baru yang lebih rendah tanpa ada yang menelepon untuk memberitahumu. Banyak orang baru sadar setelah beberapa periode berlalu.

Kebalikannya adalah skema non-ARO, yaitu deposito yang berhenti dengan sendirinya saat jatuh tempo. Pokok dan bunganya tidak diperpanjang, melainkan tersedia untuk kamu ambil atau dipindahbukukan sesuai instruksi yang kamu tetapkan saat pembukaan. OJK memang menyebut pembayaran deposito dapat dilakukan secara tunai maupun non tunai melalui pemindahbukuan. Konsekuensi lupa jatuh tempo berbeda pada dua skema ini, dan keduanya sama-sama merugikan dengan cara masing-masing. Pada ARO, kamu terkunci lagi untuk satu tenor penuh di bunga yang belum tentu kamu setujui seandainya ditanya. Pada non-ARO, dana itu justru bisa menganggur begitu saja tanpa bunga deposito sampai kamu sempat mengurusnya. Sebagian bank juga membedakan perpanjangan pokok saja dengan perpanjangan pokok beserta bunganya, dan pilihan itu memengaruhi hasil akhir yang kamu terima. Tanyakan skema mana yang berlaku pada depositomu sejak awal, jangan berasumsi, dan catat sendiri tanggal jatuh temponya alih-alih menunggu diingatkan bank.

Menurut OJK, keuntungan memiliki deposito antara lain bunganya umumnya lebih tinggi daripada bentuk simpanan lain, dananya bisa dijadikan agunan kredit, membantu perencanaan keuangan karena jangka waktunya jelas, dan simpanannya dijamin Lembaga Penjamin Simpanan. OJK juga mengingatkan hal yang harus diperhatikan: pastikan kamu menerima bilyet atau surat berharganya, dan pastikan tingkat suku bunga yang kamu terima sudah sesuai dengan ketentuan LPS. Poin terakhir itu terdengar administratif, padahal di situlah letak jebakan terbesarnya, dan akan kita bahas tersendiri.

Jam pasir berbingkai tiang kuningan dan alas kayu berdiri di atas meja putih, berisi pasir halus berwarna terang
Begitu bilyet diterbitkan, dana menunggu sampai tenor habis. Bunga dihitung untuk masa itu, lalu pokok dan bunga cair pada tanggal jatuh tempo. Foto: Habib M'henni / Wikimedia Commons, CC BY 3.0

Pajak 20% yang memangkas bunga sebelum sampai ke kamu

Inilah pemotongan yang paling sering diabaikan pemula. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000, penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan dipotong Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 20% dari jumlah bruto untuk wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. Kata kuncinya ada dua: bruto dan final.

Bruto berarti pajak dihitung dari bunga penuh, bukan dari sisa setelah biaya apa pun. Final berarti bank memotongnya langsung di sumber dan urusannya selesai di situ. Kamu tidak perlu menyetor sendiri, tetapi kamu juga tidak bisa menawar atau mengurangi tarifnya. Konsekuensi praktisnya sederhana: angka bunga yang dipajang di brosur bukan angka yang kamu terima. Yang kamu terima adalah 80% darinya.

Ada satu pengecualian yang berguna untuk penabung kecil. PP 131/2000 membebaskan pemotongan pajak sepanjang jumlah deposito dan tabungan tersebut tidak melebihi Rp7.500.000 dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah. Perhatikan bahwa patokannya adalah jumlah simpanannya, bukan jumlah bunganya. Frasa "bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah" juga bukan hiasan: memecah dana besar menjadi banyak rekening kecil untuk mengejar pembebasan ini sudah diantisipasi aturannya.

Contoh hitungan: misalkan kamu menempatkan Rp100.000.000 selama 12 bulan dengan bunga 6% per tahun (angka ilustrasi, bukan tawaran produk). Bunga brutonya Rp6.000.000. Pajak final 20% memotong Rp1.200.000, sehingga bunga bersih yang kamu terima Rp4.800.000. Artinya imbal hasil efektifmu bukan 6%, melainkan 4,8%. Selisih Rp1.200.000 itu tidak pernah muncul di spanduk promosi.

Kebiasaan yang sehat: setiap kali melihat penawaran bunga deposito, kalikan otomatis dengan 0,8 di kepalamu. Bunga 5% jadi 4%. Bunga 4% jadi 3,2%. Angka hasil perkalian itulah yang layak kamu bandingkan dengan pilihan lain, termasuk dengan laju inflasi.

Bunga tinggi justru bisa membatalkan jaminan LPS

Bagian ini yang paling jarang dijelaskan, padahal dampaknya paling besar. Banyak orang mengira semua deposito di bank otomatis aman karena "kan dijamin LPS". Kenyataannya jaminan itu bersyarat.

Lewat Kalkulator 3T LPS, LPS menyatakan menjamin simpanan nasabah di bank hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Namun agar simpanan benar-benar dijamin, nasabah harus memenuhi syarat 3T:

  1. Tercatat dalam pembukuan bank.
  2. Tingkat bunga simpanan yang diterima nasabah tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS.
  3. Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.

Syarat kedua itulah jebakannya. Tingkat bunga penjaminan LPS ditetapkan per periode dan bisa berubah. Untuk periode 1 Oktober 2026 sampai 31 Januari 2027, LPS menetapkan tingkat bunga penjaminan sebesar 3,75% untuk simpanan rupiah di bank umum, 2% untuk simpanan valuta asing di bank umum, dan 6,25% untuk simpanan rupiah di BPR. Angka ini adalah plafon penjaminan, bukan janji bunga yang akan kamu terima, dan wajib kamu cek ulang ke LPS untuk periode yang sedang berlaku saat kamu membuka deposito.

Logikanya jadi terbalik dari dugaan umum: ketika sebuah bank menawarkan bunga di atas tingkat bunga penjaminan, tawaran itu bukan bonus, melainkan penanda bahwa simpanan tersebut keluar dari payung jaminan. Kalau bank itu kemudian dilikuidasi, simpanan yang bunganya melebihi plafon tidak masuk kategori layak bayar. Kamu menukar jaminan negara dengan selisih bunga beberapa persen.

Waspada: bunga deposito yang terdengar terlalu manis biasanya berada di atas tingkat bunga penjaminan LPS, dan itu berarti simpananmu tidak dijamin. Sebelum menandatangani, cek tingkat bunga penjaminan periode berjalan di situs resmi LPS, lalu bandingkan dengan bunga yang ditawarkan. Ingat juga batas Rp2 miliar berlaku per nasabah per bank, sehingga menaruh seluruh dana besar di satu bank membuat kelebihannya berada di luar jaminan.
Pemain sirkus berjalan di atas tali tinggi sambil memegang tongkat penyeimbang panjang, disorot lampu ungu dengan tenda sirkus di latar
Simpanan dengan bunga di atas tingkat bunga penjaminan LPS ibarat berjalan di tali tanpa jaring pengaman. Kalau bank bermasalah, jaminan itu tidak ikut menangkapmu. Foto: Georgios Liakopoulos / Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0

Menghitung imbal hasil riil setelah pajak dan inflasi

Sekarang kita gabungkan dua fakta di atas dan tambahkan satu variabel yang sering dilupakan: inflasi. Bunga deposito membuat saldo rekeningmu naik, tetapi yang menentukan kamu untung atau tidak adalah apakah kenaikan itu mengalahkan kenaikan harga barang.

BPS mencatat inflasi Indonesia sebesar 3,28% secara tahunan pada September 2026. Angka inflasi bergerak setiap bulan, jadi perlakukan ini sebagai potret satu waktu dan cek rilis terbaru BPS saat kamu membaca artikel ini. Mari kita pakai sebagai patokan hitung.

Bunga nominal per tahun (ilustrasi)Bunga setelah pajak final 20%Selisih terhadap inflasi 3,28%Masih dijamin LPS (plafon 3,75%)?
3,00%2,40%-0,88%Ya
3,75%3,00%-0,28%Ya, tepat di batas atas
4,50%3,60%+0,32%Tidak
6,00%4,80%+1,52%Tidak
8,00%6,40%+3,12%Tidak

Baca tabel itu pelan-pelan, karena isinya menyimpan kesimpulan yang tidak nyaman. Supaya bunga bersih setelah pajak bisa menyamai inflasi 3,28%, bunga nominal yang kamu butuhkan adalah sekitar 4,10% per tahun. Padahal plafon penjaminan LPS untuk simpanan rupiah di bank umum pada periode berjalan adalah 3,75%. Dengan kata lain, pada kombinasi angka periode ini, deposito rupiah yang masih sepenuhnya dijamin LPS secara matematis tidak bisa mengalahkan inflasi. Kamu harus memilih salah satu: tetap di dalam payung jaminan sambil menerima daya beli yang menyusut tipis, atau mengejar bunga lebih tinggi dengan melepas jaminan itu.

Poin kunci: deposito melindungi nominal uangmu, bukan daya belinya. Saldo Rp100.000.000 yang tumbuh jadi Rp103.000.000 setelah setahun terlihat untung, tetapi dengan inflasi 3,28%, daya belinya setara sekitar Rp99.729.000 dalam harga awal tahun, alias turun sekitar Rp271.000. Ini bukan alasan menghindari deposito, melainkan alasan untuk tidak menyebutnya "investasi yang menguntungkan".

Ini juga menjelaskan kenapa pertanyaan "deposito untung berapa?" sebenarnya salah bentuk. Pertanyaan yang lebih berguna: untuk tujuan apa uang ini disimpan, dan apakah kepastian nominalnya lebih berharga daripada potensi pertumbuhannya? Kalau kamu menabung untuk uang muka rumah delapan bulan lagi, kepastian jelas menang. Kalau kamu menyimpan dana pensiun tiga puluh tahun lagi sepenuhnya di deposito, aritmetika di atas bekerja melawanmu setiap tahun. Untuk konteks tujuan jangka panjang, kamu bisa menimbangnya bersama instrumen lain seperti yang dibahas di hub menabung dan pengantar obligasi.

Penalti pencairan dan kenapa deposito bukan dana darurat ideal

Deposito punya satu sifat yang tidak bisa ditawar: dananya terkunci. OJK menyatakan bahwa pencairan deposito sebelum jatuh tempo umumnya dikenakan denda. Besaran dendanya ditetapkan masing-masing bank dan tidak seragam secara nasional, jadi tidak ada satu angka yang bisa kami sebut di sini sebagai patokan. Yang bisa kami sarankan konkret: baca ketentuan penaltinya di bilyet atau perjanjian pembukaan sebelum menyetor, bukan saat kamu sedang panik butuh uang.

Ada baiknya kamu paham dulu kenapa denda itu ada, supaya tidak terasa sebagai jebakan sepihak. Bunga deposito bisa lebih tinggi daripada tabungan justru karena kamu menjanjikan tenor. Kepastian itu yang bernilai bagi bank, sebab dana yang dipastikan tidak diambil selama beberapa bulan ke depan bisa mereka kelola dan salurkan kembali dengan lebih leluasa dibanding dana yang sewaktu-waktu ditarik. Ketika kamu membatalkan janji tenor lebih awal, bank kehilangan kepastian itu, dan denda berfungsi mengompensasi sekaligus menahan pembatalan mendadak. Jadi penalti sebenarnya adalah harga dari fleksibilitas yang sejak awal memang kamu tukar dengan bunga lebih tinggi.

Bentuk penaltinya sendiri berbeda-beda antar bank. Ada yang memotong bunga yang sudah berjalan sehingga hasil yang kamu harapkan menyusut atau bahkan hangus sama sekali, ada pula yang mengenakan denda yang dihitung dari nilai pokok. Perbedaan bentuk ini penting karena dampaknya tidak sama: potongan bunga paling terasa saat kamu mencairkan mendekati jatuh tempo, sedangkan denda atas pokok menggigit paling dalam justru pada deposito bernilai besar. Karena bentuk sekaligus besarannya ditetapkan masing-masing bank dan bukan diatur seragam secara nasional, tidak ada satu angka yang jujur bisa kami sebut sebagai patokan di sini. Satu-satunya cara mengetahuinya adalah membaca perjanjian bankmu sendiri, dan itu pekerjaan lima menit yang sering dilewati orang.

Di sinilah deposito sering salah tempat. Dana darurat punya dua syarat mutlak, yaitu aman dan likuid. Deposito memenuhi syarat pertama dengan sangat baik selama bunganya di bawah plafon LPS. Syarat kedua justru dilawannya secara desain. Dana darurat dibutuhkan tepat pada saat yang tidak bisa kamu jadwalkan, sedangkan deposito hanya bebas dicairkan pada tanggal yang sudah ditentukan berbulan-bulan sebelumnya. Memaksa mencairkannya lebih awal berarti membayar denda persis di momen keuanganmu sedang paling rapuh.

Karena itu banyak orang memakai pendekatan berlapis. Lapisan paling depan berupa dana yang benar-benar bisa diambil kapan saja, misalnya di rekening yang dipisahkan dari rekening harian seperti dibahas pada panduan menabung di bank, atau di instrumen yang pencairannya relatif cepat seperti reksa dana pasar uang. Perlu dicatat jujur: reksa dana pasar uang tidak dijamin LPS dan nilainya tidak dijamin tetap, jadi kelebihannya ada di likuiditas, bukan pada jaminan. Barulah lapisan berikutnya, yaitu dana yang sudah pasti tidak dipakai dalam waktu dekat, masuk akal ditempatkan di deposito.

Kalau kamu belum tahu berapa besar bantalan yang perlu disiapkan lebih dulu, hitung dengan kalkulator dana darurat sebelum memutuskan berapa yang boleh dikunci di deposito. Urutannya penting: amankan likuiditas dulu, kunci sisanya kemudian.

Wadah plastik bening bertutup berisi gulungan uang kertas dan tumpukan uang logam, diletakkan di atas karpet bermotif
Dana darurat harus bisa diambil kapan saja tanpa potongan. Deposito justru mengunci dana sampai jatuh tempo dan mengenakan penalti kalau dicairkan lebih awal. Foto: Сергей Михель / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Deposito dibanding tabungan, reksa dana pasar uang, dan obligasi

Membandingkan produk keuangan sebaiknya dilakukan pada karakternya, bukan pada janji imbal hasilnya. Berikut perbandingan sifat yang bisa kamu jadikan kerangka berpikir. Tabel ini tidak memuat angka imbal hasil karena angka tersebut bergerak dan berbeda antar penerbit, dan kami tidak akan mengarangnya.

AspekTabunganDepositoReksa dana pasar uangObligasi / SBN ritel
LikuiditasSangat tinggi, bisa diambil kapan sajaRendah, terkunci sampai jatuh tempoRelatif tinggi, pencairan butuh proses beberapa hari kerjaBergantung produk dan pasar sekunder
Jaminan LPSYa, selama memenuhi 3T dan batas Rp2 miliarYa, selama memenuhi 3T dan batas Rp2 miliarTidak dijamin LPSTidak dijamin LPS
Kepastian nilai pokokNominal tetapNominal tetapNilai unit dapat berubahHarga dapat berfluktuasi bila dijual sebelum jatuh tempo
Pajak atas hasilPPh final atas bungaPPh final 20% atas bungaPerlakuan pajak berbeda, cek prospektusPerlakuan pajak berbeda, cek ketentuan penerbit
Cocok untukKebutuhan harian dan dana daruratDana bertujuan dengan tanggal jelasBantalan likuid jangka pendekTujuan berjangka menengah dan panjang

Kesimpulan yang jujur: deposito unggul pada kepastian, bukan pada pertumbuhan. Ia mengalahkan tabungan biasa dari sisi bunga, dan mengalahkan hampir semua instrumen dari sisi ketenangan pikiran, selama kamu disiplin menjaga bunganya di bawah plafon LPS. Tetapi ia kalah telak dari sisi likuiditas dibanding tabungan, dan kalah dari sisi potensi pertumbuhan jangka panjang dibanding instrumen pasar modal seperti yang dibahas pada pengantar reksa dana.

Perlu ditegaskan juga bahwa "tidak dijamin LPS" bukan berarti "penipuan" atau "pasti rugi". Artinya hanya satu: risikonya ditanggung mekanisme lain, bukan oleh penjaminan simpanan negara. Sebaliknya, "dijamin LPS" juga bukan berarti "pasti untung", karena seperti hitungan sebelumnya, jaminan itu melindungi nominal dan tidak melindungi daya beli. Dua kalimat ini sering ditukar-tukar dalam percakapan sehari-hari, dan menukarnya adalah cara tercepat mengambil keputusan yang keliru.

Kapan deposito masuk akal untukmu

Setelah semua catatan kritis di atas, deposito tetap punya tempat yang sah. Ia masuk akal ketika beberapa kondisi ini terpenuhi sekaligus.

  • Uangnya punya tanggal pakai yang jelas. Biaya sekolah semester depan, uang muka yang akan dibayar delapan bulan lagi, atau modal usaha yang cair tahun depan. Tenor deposito bisa kamu samakan dengan tanggal kebutuhan itu.
  • Kamu tidak boleh rugi nominal sepeser pun. Untuk uang yang jumlahnya sudah pasti akan dipakai, fluktuasi bukan risiko yang layak diambil demi tambahan sedikit imbal hasil.
  • Kamu butuh pagar dari diri sendiri. Kalau uang di tabungan selalu bocor, kunci deposito bekerja sebagai rem perilaku. Ini manfaat psikologis yang nyata dan jarang diakui.
  • Dana daruratmu sudah aman lebih dulu. Deposito adalah lapisan setelah bantalan likuid tersedia, bukan pengganti bantalan itu.
  • Bunganya kamu jaga di bawah plafon penjaminan LPS dan total simpananmu per bank berada dalam batas Rp2 miliar, supaya jaminannya benar-benar berlaku.

Sebaliknya, pikirkan ulang kalau kamu berharap deposito membuat uangmu bertumbuh signifikan, atau kalau dana itu berpotensi kamu butuhkan mendadak. Untuk tujuan pertumbuhan jangka panjang, aritmetika pajak dan inflasi yang kita bongkar tadi akan terus bekerja melawanmu.

Langkah praktis sebelum membuka deposito: cek tingkat bunga penjaminan LPS periode berjalan, bandingkan dengan bunga yang ditawarkan bank, kalikan bunga itu dengan 0,8 untuk memperkirakan hasil setelah pajak, bandingkan hasilnya dengan inflasi terbaru dari BPS, lalu baca ketentuan penalti dan ARO di bilyet. Lima langkah itu memakan waktu belasan menit dan menyelamatkanmu dari kebanyakan penyesalan yang biasa terjadi.

Terakhir, satu catatan penting. Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan bukan saran, rekomendasi, atau ajakan berinvestasi maupun menempatkan dana pada produk tertentu. Seluruh angka bunga yang muncul adalah ilustrasi hitungan, bukan tawaran produk. Tingkat bunga penjaminan LPS, tarif pajak, dan laju inflasi dapat berubah sewaktu-waktu, jadi verifikasi selalu ke sumber resmi LPS, DJP, dan BPS sebelum mengambil keputusan. Keputusan keuangan tetap ada di tanganmu dan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi serta tujuanmu sendiri. Baca juga disclaimer kami.

Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu deposito?
Menurut OJK, deposito adalah simpanan yang pencairannya hanya dapat dilakukan pada jangka waktu tertentu dan dengan syarat tertentu. Uangmu dikunci selama tenor yang disepakati, misalnya 1, 3, 6, 12, sampai 24 bulan, dan sebagai gantinya bank memberi bunga yang umumnya lebih tinggi daripada tabungan biasa.
Berapa pajak bunga deposito?
Bunga deposito dipotong Pajak Penghasilan final sebesar 20% dari jumlah bruto untuk wajib pajak dalam negeri, sesuai PP Nomor 131 Tahun 2000. Pajak ini dipotong langsung oleh bank, jadi bunga yang kamu terima sudah bersih. Bunga dari deposito dan tabungan yang jumlahnya tidak melebihi Rp7.500.000 dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah dibebaskan dari pemotongan ini.
Apakah semua deposito dijamin LPS?
Tidak otomatis. LPS menjamin simpanan sampai Rp2 miliar per nasabah per bank, tetapi simpananmu harus memenuhi syarat 3T: tercatat dalam pembukuan bank, tingkat bunga tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS, dan kamu tidak melakukan tindakan yang merugikan bank. Kalau bunga yang kamu terima melebihi tingkat bunga penjaminan, simpanan itu tidak dijamin.
Apa yang terjadi kalau deposito dicairkan sebelum jatuh tempo?
OJK menyebut pencairan deposito sebelum jatuh tempo umumnya dikenakan denda. Besaran dendanya ditetapkan masing-masing bank dan bukan angka seragam nasional, jadi kamu perlu membacanya di bilyet atau perjanjian pembukaan deposito sebelum menyetor dana.
Apakah bunga deposito bisa kalah dari inflasi?
Bisa, dan ini sering terjadi. Bunga deposito dihitung sebelum pajak, sehingga yang benar-benar kamu terima adalah 80% dari bunga nominal. Kalau sisa imbal hasil setelah pajak lebih kecil daripada laju inflasi, daya beli uangmu tetap menurun meskipun saldo rekeningmu bertambah.
Apa itu ARO pada deposito?
ARO atau automatic roll over adalah fitur perpanjangan otomatis. Deposito yang jatuh tempo diperpanjang sendiri untuk tenor yang sama tanpa kamu datang ke bank. Perlu diperhatikan karena perpanjangan mengikuti bunga yang berlaku saat itu, yang bisa berbeda dari bunga periode sebelumnya.
Lebih baik deposito atau reksa dana pasar uang untuk dana darurat?
Untuk dana darurat, syarat utamanya adalah likuiditas, dan deposito justru mengunci dana sampai jatuh tempo serta mengenakan denda kalau dicairkan lebih awal. Reksa dana pasar uang umumnya lebih mudah dicairkan, tetapi tidak dijamin LPS dan nilainya tidak dijamin tetap. Ini bukan rekomendasi produk, melainkan perbedaan karakter yang perlu kamu timbang sendiri.
Kalau deposito non-ARO lupa dicairkan saat jatuh tempo, apa yang terjadi?
Perlakuannya mengikuti bank dan kanal pembukaan. Contohnya, Mandiri menyebut deposito non-ARO digital dicairkan otomatis ke rekening sumber, sedangkan BRI menyatakan dana yang belum dicairkan tidak mendapat bunga untuk hari kelebihan. Cek bilyet atau RIPLAY bankmu dan hubungi bank bila dana belum masuk.
Tentang penulis
Tim Redaksi Uang Bijak
Redaksi Editorial · Profil & kredensial

Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.

Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab

Masih ada yang ingin ditanyakan soal menabung? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.

Tanya via WhatsApp