Deposito Adalah: Cara Kerja, Bunga, Pajak, dan Jaminan LPS
Deposito adalah simpanan berjangka dengan bunga tetap. Pahami cara kerjanya, pajak final 20%, batas jaminan LPS, penalti pencairan, dan imbal hasil riilnya.

Deposito adalah simpanan yang pencairannya hanya dapat dilakukan pada jangka waktu tertentu dan dengan syarat tertentu, sesuai definisi OJK Sikapi Uangmu. Sederhananya, kamu menitipkan uang ke bank dan berjanji tidak mengambilnya selama tenor yang disepakati, lalu bank membalas dengan bunga yang umumnya lebih tinggi daripada tabungan biasa. Sampai di situ terdengar menyenangkan. Yang jarang diceritakan brosur adalah tiga hal yang menentukan berapa yang benar-benar masuk ke kantongmu: bunganya dipotong pajak final 20%, jaminan LPS punya batas dan syarat yang bisa gugur justru saat bunganya menarik, dan pencairan sebelum jatuh tempo umumnya kena denda. Artikel ini membedah semuanya, lengkap dengan hitungannya.
Cara kerja deposito, dari bilyet sampai jatuh tempo
Alurnya cukup lurus. Kamu menyetor sejumlah dana, memilih tenor, lalu menerima bukti kepemilikan berupa bilyet atau sertifikat. Bunga bisa dibayarkan setiap bulan atau sekaligus saat jatuh tempo, tergantung kesepakatan. Saat tenor berakhir, kamu berhak menerima pokok beserta bunga yang sudah dipotong pajak.
OJK mencatat deposito berjangka umumnya tersedia dalam tenor 1, 3, 6, dan 12 sampai dengan 24 bulan. Deposito berjangka mencantumkan nama pemilik, baik perorangan maupun lembaga. Ada juga sertifikat deposito yang diterbitkan atas unjuk tanpa mencantumkan nama pemilik, dan karena itu bisa diperjualbelikan kepada pihak lain. Perbedaan ini penting kalau kamu mempertimbangkan sisi likuiditas dan pewarisan.
Satu fitur yang perlu kamu kenali sejak awal adalah ARO atau automatic roll over. Deposito yang jatuh tempo bisa diperpanjang secara otomatis tanpa kamu datang ke bank. Fitur ini nyaman, tetapi ada sisi yang mudah terlewat: perpanjangan mengikuti bunga yang berlaku pada saat itu. Kalau suku bunga sedang turun, depositomu diperpanjang di bunga baru yang lebih rendah tanpa ada yang menelepon untuk memberitahumu. Banyak orang baru sadar setelah beberapa periode berlalu.
Kebalikannya adalah skema non-ARO, yaitu deposito yang berhenti dengan sendirinya saat jatuh tempo. Pokok dan bunganya tidak diperpanjang, melainkan tersedia untuk kamu ambil atau dipindahbukukan sesuai instruksi yang kamu tetapkan saat pembukaan. OJK memang menyebut pembayaran deposito dapat dilakukan secara tunai maupun non tunai melalui pemindahbukuan. Konsekuensi lupa jatuh tempo berbeda pada dua skema ini, dan keduanya sama-sama merugikan dengan cara masing-masing. Pada ARO, kamu terkunci lagi untuk satu tenor penuh di bunga yang belum tentu kamu setujui seandainya ditanya. Pada non-ARO, dana itu justru bisa menganggur begitu saja tanpa bunga deposito sampai kamu sempat mengurusnya. Sebagian bank juga membedakan perpanjangan pokok saja dengan perpanjangan pokok beserta bunganya, dan pilihan itu memengaruhi hasil akhir yang kamu terima. Tanyakan skema mana yang berlaku pada depositomu sejak awal, jangan berasumsi, dan catat sendiri tanggal jatuh temponya alih-alih menunggu diingatkan bank.
Menurut OJK, keuntungan memiliki deposito antara lain bunganya umumnya lebih tinggi daripada bentuk simpanan lain, dananya bisa dijadikan agunan kredit, membantu perencanaan keuangan karena jangka waktunya jelas, dan simpanannya dijamin Lembaga Penjamin Simpanan. OJK juga mengingatkan hal yang harus diperhatikan: pastikan kamu menerima bilyet atau surat berharganya, dan pastikan tingkat suku bunga yang kamu terima sudah sesuai dengan ketentuan LPS. Poin terakhir itu terdengar administratif, padahal di situlah letak jebakan terbesarnya, dan akan kita bahas tersendiri.

Pajak 20% yang memangkas bunga sebelum sampai ke kamu
Inilah pemotongan yang paling sering diabaikan pemula. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000, penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan dipotong Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 20% dari jumlah bruto untuk wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. Kata kuncinya ada dua: bruto dan final.
Bruto berarti pajak dihitung dari bunga penuh, bukan dari sisa setelah biaya apa pun. Final berarti bank memotongnya langsung di sumber dan urusannya selesai di situ. Kamu tidak perlu menyetor sendiri, tetapi kamu juga tidak bisa menawar atau mengurangi tarifnya. Konsekuensi praktisnya sederhana: angka bunga yang dipajang di brosur bukan angka yang kamu terima. Yang kamu terima adalah 80% darinya.
Ada satu pengecualian yang berguna untuk penabung kecil. PP 131/2000 membebaskan pemotongan pajak sepanjang jumlah deposito dan tabungan tersebut tidak melebihi Rp7.500.000 dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah. Perhatikan bahwa patokannya adalah jumlah simpanannya, bukan jumlah bunganya. Frasa "bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah" juga bukan hiasan: memecah dana besar menjadi banyak rekening kecil untuk mengejar pembebasan ini sudah diantisipasi aturannya.
Kebiasaan yang sehat: setiap kali melihat penawaran bunga deposito, kalikan otomatis dengan 0,8 di kepalamu. Bunga 5% jadi 4%. Bunga 4% jadi 3,2%. Angka hasil perkalian itulah yang layak kamu bandingkan dengan pilihan lain, termasuk dengan laju inflasi.
Bunga tinggi justru bisa membatalkan jaminan LPS
Bagian ini yang paling jarang dijelaskan, padahal dampaknya paling besar. Banyak orang mengira semua deposito di bank otomatis aman karena "kan dijamin LPS". Kenyataannya jaminan itu bersyarat.
Lewat Kalkulator 3T LPS, LPS menyatakan menjamin simpanan nasabah di bank hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Namun agar simpanan benar-benar dijamin, nasabah harus memenuhi syarat 3T:
- Tercatat dalam pembukuan bank.
- Tingkat bunga simpanan yang diterima nasabah tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS.
- Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.
Syarat kedua itulah jebakannya. Tingkat bunga penjaminan LPS ditetapkan per periode dan bisa berubah. Untuk periode 1 Juli sampai 30 September 2026, LPS menetapkan tingkat bunga penjaminan sebesar 3,75% untuk simpanan rupiah di bank umum, 2% untuk simpanan valuta asing di bank umum, dan 6,25% untuk simpanan rupiah di BPR. Angka ini adalah plafon penjaminan, bukan janji bunga yang akan kamu terima, dan wajib kamu cek ulang ke LPS untuk periode yang sedang berlaku saat kamu membuka deposito.
Logikanya jadi terbalik dari dugaan umum: ketika sebuah bank menawarkan bunga di atas tingkat bunga penjaminan, tawaran itu bukan bonus, melainkan penanda bahwa simpanan tersebut keluar dari payung jaminan. Kalau bank itu kemudian dilikuidasi, simpanan yang bunganya melebihi plafon tidak masuk kategori layak bayar. Kamu menukar jaminan negara dengan selisih bunga beberapa persen.

Menghitung imbal hasil riil setelah pajak dan inflasi
Sekarang kita gabungkan dua fakta di atas dan tambahkan satu variabel yang sering dilupakan: inflasi. Bunga deposito membuat saldo rekeningmu naik, tetapi yang menentukan kamu untung atau tidak adalah apakah kenaikan itu mengalahkan kenaikan harga barang.
BPS mencatat inflasi Indonesia sebesar 3,34% secara tahunan pada Juni 2026. Angka inflasi bergerak setiap bulan, jadi perlakukan ini sebagai potret satu waktu dan cek rilis terbaru BPS saat kamu membaca artikel ini. Mari kita pakai sebagai patokan hitung.
| Bunga nominal per tahun (ilustrasi) | Bunga setelah pajak final 20% | Selisih terhadap inflasi 3,34% | Masih dijamin LPS (plafon 3,75%)? |
|---|---|---|---|
| 3,00% | 2,40% | -0,94% | Ya |
| 3,75% | 3,00% | -0,34% | Ya, tepat di batas atas |
| 4,50% | 3,60% | +0,26% | Tidak |
| 6,00% | 4,80% | +1,46% | Tidak |
| 8,00% | 6,40% | +3,06% | Tidak |
Baca tabel itu pelan-pelan, karena isinya menyimpan kesimpulan yang tidak nyaman. Supaya bunga bersih setelah pajak bisa menyamai inflasi 3,34%, bunga nominal yang kamu butuhkan adalah sekitar 4,175% per tahun. Padahal plafon penjaminan LPS untuk simpanan rupiah di bank umum pada periode berjalan adalah 3,75%. Dengan kata lain, pada kombinasi angka periode ini, deposito rupiah yang masih sepenuhnya dijamin LPS secara matematis tidak bisa mengalahkan inflasi. Kamu harus memilih salah satu: tetap di dalam payung jaminan sambil menerima daya beli yang menyusut tipis, atau mengejar bunga lebih tinggi dengan melepas jaminan itu.
Ini juga menjelaskan kenapa pertanyaan "deposito untung berapa?" sebenarnya salah bentuk. Pertanyaan yang lebih berguna: untuk tujuan apa uang ini disimpan, dan apakah kepastian nominalnya lebih berharga daripada potensi pertumbuhannya? Kalau kamu menabung untuk uang muka rumah delapan bulan lagi, kepastian jelas menang. Kalau kamu menyimpan dana pensiun tiga puluh tahun lagi sepenuhnya di deposito, aritmetika di atas bekerja melawanmu setiap tahun. Untuk konteks tujuan jangka panjang, kamu bisa menimbangnya bersama instrumen lain seperti yang dibahas di hub menabung dan pengantar obligasi.
Penalti pencairan dan kenapa deposito bukan dana darurat ideal
Deposito punya satu sifat yang tidak bisa ditawar: dananya terkunci. OJK menyatakan bahwa pencairan deposito sebelum jatuh tempo umumnya dikenakan denda. Besaran dendanya ditetapkan masing-masing bank dan tidak seragam secara nasional, jadi tidak ada satu angka yang bisa kami sebut di sini sebagai patokan. Yang bisa kami sarankan konkret: baca ketentuan penaltinya di bilyet atau perjanjian pembukaan sebelum menyetor, bukan saat kamu sedang panik butuh uang.
Ada baiknya kamu paham dulu kenapa denda itu ada, supaya tidak terasa sebagai jebakan sepihak. Bunga deposito bisa lebih tinggi daripada tabungan justru karena kamu menjanjikan tenor. Kepastian itu yang bernilai bagi bank, sebab dana yang dipastikan tidak diambil selama beberapa bulan ke depan bisa mereka kelola dan salurkan kembali dengan lebih leluasa dibanding dana yang sewaktu-waktu ditarik. Ketika kamu membatalkan janji tenor lebih awal, bank kehilangan kepastian itu, dan denda berfungsi mengompensasi sekaligus menahan pembatalan mendadak. Jadi penalti sebenarnya adalah harga dari fleksibilitas yang sejak awal memang kamu tukar dengan bunga lebih tinggi.
Bentuk penaltinya sendiri berbeda-beda antar bank. Ada yang memotong bunga yang sudah berjalan sehingga hasil yang kamu harapkan menyusut atau bahkan hangus sama sekali, ada pula yang mengenakan denda yang dihitung dari nilai pokok. Perbedaan bentuk ini penting karena dampaknya tidak sama: potongan bunga paling terasa saat kamu mencairkan mendekati jatuh tempo, sedangkan denda atas pokok menggigit paling dalam justru pada deposito bernilai besar. Karena bentuk sekaligus besarannya ditetapkan masing-masing bank dan bukan diatur seragam secara nasional, tidak ada satu angka yang jujur bisa kami sebut sebagai patokan di sini. Satu-satunya cara mengetahuinya adalah membaca perjanjian bankmu sendiri, dan itu pekerjaan lima menit yang sering dilewati orang.
Di sinilah deposito sering salah tempat. Dana darurat punya dua syarat mutlak, yaitu aman dan likuid. Deposito memenuhi syarat pertama dengan sangat baik selama bunganya di bawah plafon LPS. Syarat kedua justru dilawannya secara desain. Dana darurat dibutuhkan tepat pada saat yang tidak bisa kamu jadwalkan, sedangkan deposito hanya bebas dicairkan pada tanggal yang sudah ditentukan berbulan-bulan sebelumnya. Memaksa mencairkannya lebih awal berarti membayar denda persis di momen keuanganmu sedang paling rapuh.
Karena itu banyak orang memakai pendekatan berlapis. Lapisan paling depan berupa dana yang benar-benar bisa diambil kapan saja, misalnya di rekening yang dipisahkan dari rekening harian seperti dibahas pada panduan menabung di bank, atau di instrumen yang pencairannya relatif cepat seperti reksa dana pasar uang. Perlu dicatat jujur: reksa dana pasar uang tidak dijamin LPS dan nilainya tidak dijamin tetap, jadi kelebihannya ada di likuiditas, bukan pada jaminan. Barulah lapisan berikutnya, yaitu dana yang sudah pasti tidak dipakai dalam waktu dekat, masuk akal ditempatkan di deposito.
Kalau kamu belum tahu berapa besar bantalan yang perlu disiapkan lebih dulu, hitung dengan kalkulator dana darurat sebelum memutuskan berapa yang boleh dikunci di deposito. Urutannya penting: amankan likuiditas dulu, kunci sisanya kemudian.

Deposito dibanding tabungan, reksa dana pasar uang, dan obligasi
Membandingkan produk keuangan sebaiknya dilakukan pada karakternya, bukan pada janji imbal hasilnya. Berikut perbandingan sifat yang bisa kamu jadikan kerangka berpikir. Tabel ini tidak memuat angka imbal hasil karena angka tersebut bergerak dan berbeda antar penerbit, dan kami tidak akan mengarangnya.
| Aspek | Tabungan | Deposito | Reksa dana pasar uang | Obligasi / SBN ritel |
|---|---|---|---|---|
| Likuiditas | Sangat tinggi, bisa diambil kapan saja | Rendah, terkunci sampai jatuh tempo | Relatif tinggi, pencairan butuh proses beberapa hari kerja | Bergantung produk dan pasar sekunder |
| Jaminan LPS | Ya, selama memenuhi 3T dan batas Rp2 miliar | Ya, selama memenuhi 3T dan batas Rp2 miliar | Tidak dijamin LPS | Tidak dijamin LPS |
| Kepastian nilai pokok | Nominal tetap | Nominal tetap | Nilai unit dapat berubah | Harga dapat berfluktuasi bila dijual sebelum jatuh tempo |
| Pajak atas hasil | PPh final atas bunga | PPh final 20% atas bunga | Perlakuan pajak berbeda, cek prospektus | Perlakuan pajak berbeda, cek ketentuan penerbit |
| Cocok untuk | Kebutuhan harian dan dana darurat | Dana bertujuan dengan tanggal jelas | Bantalan likuid jangka pendek | Tujuan berjangka menengah dan panjang |
Kesimpulan yang jujur: deposito unggul pada kepastian, bukan pada pertumbuhan. Ia mengalahkan tabungan biasa dari sisi bunga, dan mengalahkan hampir semua instrumen dari sisi ketenangan pikiran, selama kamu disiplin menjaga bunganya di bawah plafon LPS. Tetapi ia kalah telak dari sisi likuiditas dibanding tabungan, dan kalah dari sisi potensi pertumbuhan jangka panjang dibanding instrumen pasar modal seperti yang dibahas pada pengantar reksa dana.
Perlu ditegaskan juga bahwa "tidak dijamin LPS" bukan berarti "penipuan" atau "pasti rugi". Artinya hanya satu: risikonya ditanggung mekanisme lain, bukan oleh penjaminan simpanan negara. Sebaliknya, "dijamin LPS" juga bukan berarti "pasti untung", karena seperti hitungan sebelumnya, jaminan itu melindungi nominal dan tidak melindungi daya beli. Dua kalimat ini sering ditukar-tukar dalam percakapan sehari-hari, dan menukarnya adalah cara tercepat mengambil keputusan yang keliru.
Kapan deposito masuk akal untukmu
Setelah semua catatan kritis di atas, deposito tetap punya tempat yang sah. Ia masuk akal ketika beberapa kondisi ini terpenuhi sekaligus.
- Uangnya punya tanggal pakai yang jelas. Biaya sekolah semester depan, uang muka yang akan dibayar delapan bulan lagi, atau modal usaha yang cair tahun depan. Tenor deposito bisa kamu samakan dengan tanggal kebutuhan itu.
- Kamu tidak boleh rugi nominal sepeser pun. Untuk uang yang jumlahnya sudah pasti akan dipakai, fluktuasi bukan risiko yang layak diambil demi tambahan sedikit imbal hasil.
- Kamu butuh pagar dari diri sendiri. Kalau uang di tabungan selalu bocor, kunci deposito bekerja sebagai rem perilaku. Ini manfaat psikologis yang nyata dan jarang diakui.
- Dana daruratmu sudah aman lebih dulu. Deposito adalah lapisan setelah bantalan likuid tersedia, bukan pengganti bantalan itu.
- Bunganya kamu jaga di bawah plafon penjaminan LPS dan total simpananmu per bank berada dalam batas Rp2 miliar, supaya jaminannya benar-benar berlaku.
Sebaliknya, pikirkan ulang kalau kamu berharap deposito membuat uangmu bertumbuh signifikan, atau kalau dana itu berpotensi kamu butuhkan mendadak. Untuk tujuan pertumbuhan jangka panjang, aritmetika pajak dan inflasi yang kita bongkar tadi akan terus bekerja melawanmu.
Langkah praktis sebelum membuka deposito: cek tingkat bunga penjaminan LPS periode berjalan, bandingkan dengan bunga yang ditawarkan bank, kalikan bunga itu dengan 0,8 untuk memperkirakan hasil setelah pajak, bandingkan hasilnya dengan inflasi terbaru dari BPS, lalu baca ketentuan penalti dan ARO di bilyet. Lima langkah itu memakan waktu belasan menit dan menyelamatkanmu dari kebanyakan penyesalan yang biasa terjadi.
Terakhir, satu catatan penting. Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan bukan saran, rekomendasi, atau ajakan berinvestasi maupun menempatkan dana pada produk tertentu. Seluruh angka bunga yang muncul adalah ilustrasi hitungan, bukan tawaran produk. Tingkat bunga penjaminan LPS, tarif pajak, dan laju inflasi dapat berubah sewaktu-waktu, jadi verifikasi selalu ke sumber resmi LPS, DJP, dan BPS sebelum mengambil keputusan. Keputusan keuangan tetap ada di tanganmu dan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi serta tujuanmu sendiri. Baca juga disclaimer kami.
Apa itu deposito?
Berapa pajak bunga deposito?
Apakah semua deposito dijamin LPS?
Apa yang terjadi kalau deposito dicairkan sebelum jatuh tempo?
Apakah bunga deposito bisa kalah dari inflasi?
Apa itu ARO pada deposito?
Lebih baik deposito atau reksa dana pasar uang untuk dana darurat?
Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.
Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab
Sumber
OJK Sikapi Uangmu - DepositoDefinisi dan karakteristik depositoDJP - PP Nomor 131 Tahun 2000 tentang PPh atas Bunga Deposito dan TabunganPajak bunga depositoLPS - Tingkat Bunga Penjaminan per PeriodeTingkat bunga penjaminanLPS - Kalkulator 3T dan Batas Simpanan DijaminSyarat 3T dan batas Rp2 miliarBPS - Inflasi Juni 2026InflasiOJK Sikapi Uangmu - Dana DaruratDana daruratSetiap angka dan klaim di artikel ini dirujuk ke sumber resmi di atas beserta tanggalnya.
Panduan lain yang berkaitan.
Obligasi Adalah: Pengertian, Cara Kerja, Jenis, dan Risikonya untuk Pemula
Cara Menabung 10 Juta dalam 3 Bulan: Hitungan, Metode Alokasi, dan Langkah Praktis
Cara Menabung di Bank untuk Pemula: Pilih Rekening, Biaya Admin, dan Jaminan LPS
Masih ada yang ingin ditanyakan soal menabung? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.
Tanya via WhatsApp