Lompat ke konten
Menabung

Obligasi Adalah: Pengertian, Cara Kerja, Jenis, dan Risikonya untuk Pemula

Obligasi adalah surat utang yang membayar kupon berkala. Pahami cara kerjanya, jenis, pajak kupon, dan kapan obligasi justru bisa merugikan kamu.

Tim Redaksi Uang Bijak12 menit bacaDitinjau Ahmad Thariq Syauqi
Tumpukan koin yang meninggi berjajar di meja kayu bersama jam pasir, menggambarkan kupon obligasi yang dibayar berkala sampai jatuh tempo

Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan untuk meminjam dana dari investor, dengan janji membayar imbalan berupa kupon secara berkala dan mengembalikan pokok pada saat jatuh tempo. Menurut OJK, ketika kamu membeli obligasi, pada dasarnya kamu sedang memberikan pinjaman kepada pihak yang menerbitkannya. Jadi posisimu bukan pemilik, melainkan pemberi pinjaman. Sampai di sini terdengar sederhana dan tenang, dan sebagian besar memang begitu. Tapi ada bagian yang jarang muncul di brosur: harga obligasi bisa turun, penerbit korporasi bisa gagal bayar, kuponmu dipotong pajak, dan obligasi tidak dijamin LPS. Panduan ini membahas cara kerjanya, jenisnya, biayanya, dan yang paling penting, kapan obligasi justru merugikan kamu.

Cara kerja obligasi, dijelaskan tanpa jargon

Bayangkan pemerintah atau sebuah perusahaan butuh dana besar untuk membiayai proyek. Alih-alih meminjam ke satu bank, mereka memecah pinjaman itu menjadi potongan kecil dan menjualnya ke banyak orang. Setiap potongan itulah obligasi. Kamu menyerahkan sejumlah uang di awal, lalu penerbit membayarmu kupon secara berkala sampai jatuh tempo, dan mengembalikan pokoknya di akhir.

Ada empat istilah yang perlu kamu kenal supaya tidak bingung membaca dokumen resmi:

  • Nilai nominal (par). Nilai pokok obligasi yang jadi dasar perhitungan pembayaran kepadamu saat jatuh tempo.
  • Kupon. Imbalan berkala, dinyatakan dalam persentase terhadap nilai nominal. OJK mencatat kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulan.
  • Jatuh tempo. Tanggal ketika penerbit wajib mengembalikan pokok investasimu. Tanggalnya sudah pasti sejak awal penerbitan.
  • Penerbit. Pihak yang berutang, bisa pemerintah atau perusahaan. Identitas penerbit inilah yang paling menentukan tingkat risikomu.

Dana yang terkumpul dipakai untuk pembiayaan nyata. OJK menyebut pemerintah dapat memanfaatkannya untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan tol atau sarana transportasi, sementara perusahaan memakainya untuk pengembangan usaha dan ekspansi bisnis.

Perbedaan mendasar dengan saham sering terlewat oleh pemula. Kalau kamu membeli saham, kamu jadi pemilik sebagian perusahaan dan ikut menanggung naik-turunnya kinerja tanpa batas waktu. Kalau kamu membeli obligasi, kamu jadi kreditur: imbalanmu sudah ditentukan di depan dan ada tanggal berakhirnya. Itu sebabnya potensi untungnya lebih terbatas, tetapi arus kasnya lebih mudah diperkirakan.

Poin kunci: obligasi memberi kepastian jadwal, bukan kepastian nilai. Kupon dan tanggal jatuh temponya pasti sejak awal, tetapi harga obligasi di antara dua titik itu tetap bergerak.
Ilustrasi alur kerja obligasi dari investor ke penerbit lalu kembali berupa kupon
Kamu meminjamkan dana, penerbit membayar kupon berkala dan mengembalikan pokok saat jatuh tempo

Jenis obligasi yang bisa dibeli investor ritel Indonesia

Untuk investor perorangan, pilihannya terbagi dua kelompok besar: surat berharga negara (SBN) dan obligasi korporasi. Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa obligasi korporasi diterbitkan perusahaan swasta nasional termasuk BUMN dan BUMD, sedangkan Surat Utang Negara (SUN) adalah surat pengakuan utang yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002. Versi syariahnya, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara, diatur lewat Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008.

Di kelompok SBN ritel, ada empat nama yang rutin ditawarkan: ORI, Sukuk Ritel (SR), Savings Bond Ritel (SBR), dan Sukuk Tabungan (ST). Banyak orang mengira keempatnya nyaris sama dan cuma beda label syariah. Padahal pembedanya yang paling menentukan nasib uangmu adalah satu hal: bisa atau tidak dijual sebelum jatuh tempo.

InstrumenPenerbitSifat imbal hasilBisa dijual di pasar sekunderTenor umum
ORIPemerintah (konvensional)Ditetapkan per seriYa, antar investor domestikDitetapkan per seri
SR (Sukuk Ritel)Pemerintah (syariah)Tetap sampai jatuh tempoYa, antar investor domestik3 atau 5 tahun
SBR (Savings Bond Ritel)Pemerintah (konvensional)Mengambang dengan batas minimalTidak, tetapi ada early redemptionJangka pendek
ST (Sukuk Tabungan)Pemerintah (syariah)Mengambang dengan batas minimalTidak, tetapi ada early redemption2 atau 4 tahun
Obligasi korporasiPerusahaan, termasuk BUMN dan BUMDBervariasi menurut penerbitYa, bila tercatat di bursaBervariasi

OJK menjelaskan Sukuk Ritel memakai akad wakalah dengan imbal hasil berupa ujrah yang bersifat tetap sejak awal hingga jatuh tempo, dibayarkan setiap bulan, dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder antar investor domestik. Sukuk Tabungan sebaliknya: tenornya lebih pendek, imbal hasilnya mengambang dengan batas minimal sehingga tidak turun di bawah tingkat tertentu, dan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Sebagai gantinya tersedia fasilitas early redemption dalam porsi dan periode tertentu. Pola yang sama berlaku pada SBR, yang juga tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder namun menyediakan pengajuan pelunasan sebelum jatuh tempo.

Konsekuensinya jelas dan sering disalahpahami. ORI dan SR memberi kamu pintu keluar lewat pasar, tetapi pintu itu membuka ke harga pasar yang bisa lebih rendah dari modalmu. SBR dan ST mengunci kamu sampai jatuh tempo, tetapi justru karena itu kamu tidak terpapar fluktuasi harga. Fleksibilitas dan stabilitas di sini saling menukar, bukan saling melengkapi.

Detail setiap seri berbeda dan diumumkan dalam memorandum informasi saat masa penawaran. Nominal minimum, tenor, dan besaran imbal hasil ditetapkan per seri, jadi angka dari seri tahun lalu belum tentu berlaku untuk seri berikutnya.

Dari mana keuntungan obligasi sebenarnya datang

Ada dua sumber, dan hanya satu yang bisa kamu andalkan.

Yang pertama adalah kupon. Ini imbalan rutin yang dibayarkan sampai jatuh tempo dan ditetapkan sebagai persentase dari nilai nominal. OJK mencatat tingkat kupon obligasi biasanya lebih tinggi daripada tingkat bunga yang ditawarkan deposito perbankan. Inilah daya tarik utamanya, dan sifatnya relatif dapat diperkirakan.

Yang kedua adalah capital gain, yaitu selisih ketika kamu menjual obligasi lebih tinggi daripada harga belimu. OJK menyebut pemegang obligasi memang dapat memperjualbelikan obligasi yang dimilikinya, dan selisih lebihnya disebut capital gain. Tapi perhatikan kalimat OJK sendiri soal ORI: capital gain hanya bisa didapat bila harga jual lebih tinggi daripada harga saat kamu beli, dan kalau yang terjadi sebaliknya, pasti ada kerugian yang didapat. Capital gain bukan bonus otomatis. Ia hanyalah kemungkinan yang setara besarnya dengan kemungkinan capital loss.

Buat pemula, cara paling sehat memandang obligasi adalah menganggap kupon sebagai satu-satunya keuntungan yang kamu rencanakan, dan capital gain sebagai kejutan yang mungkin tidak datang. Kalau kamu berniat menahan sampai jatuh tempo, pergerakan harga di tengah jalan sebenarnya tidak relevan bagimu, karena pokok akan dikembalikan sesuai nilai nominal. Masalah baru muncul ketika kamu terpaksa menjual lebih awal. Kalau uang itu berpotensi kamu butuhkan sewaktu-waktu, tempatnya bukan di obligasi, melainkan di dana darurat atau instrumen likuid seperti reksadana pasar uang.

Kapan obligasi justru merugikan kamu

Bagian ini jarang ditulis penjual produk, padahal paling menentukan.

Risiko suku bunga. Ini yang paling sering mengejutkan pemula, dan mekanismenya dijelaskan gamblang oleh Bursa Efek Indonesia. Ketika suku bunga pasar naik sementara kupon obligasimu tetap, imbal hasil riil yang kamu pegang jadi relatif lebih kecil dibanding pilihan baru di pasar. Akibatnya terjadi aksi jual, dan harga obligasi tersebut turun. Berlaku sebaliknya juga: saat suku bunga turun, harga obligasi cenderung naik. Jadi obligasi dan suku bunga bergerak berlawanan arah. Kalau kamu membeli obligasi bertenor panjang lalu suku bunga naik, di layar aplikasimu nilainya akan merah, dan itu normal, bukan kesalahan sistem.

Kabar baiknya, kerugian itu baru menjadi nyata kalau kamu menjual. BEI juga mencatat semakin dekat obligasi ke tanggal jatuh temponya, harganya akan semakin mendekati nilai nominal. Artinya waktu bekerja memulihkan harga, selama penerbitnya sanggup membayar.

Risiko gagal bayar. Di sinilah identitas penerbit menentukan segalanya. OJK menyatakan jika kamu membeli obligasi korporasi, terdapat kemungkinan terjadi gagal bayar baik kupon maupun nilai pokok akibat kondisi keuangan atau perekonomian yang tidak menguntungkan. Untuk mengukurnya, obligasi diperingkat secara berkala oleh lembaga pemeringkat efek. BEI menjelaskan ketika peringkat sebuah obligasi turun, itu mengindikasikan risiko penerbit tidak memenuhi kewajibannya makin besar dan berpotensi gagal bayar, yang pada akhirnya menekan harga obligasi tersebut. Bandingkan dengan SUN: OJK menyebut keunggulan SUN justru pada minimnya risiko gagal bayar, karena pembayaran kupon dan pokoknya dijamin Undang-Undang SUN dan setiap tahun dianggarkan dalam APBN.

Risiko likuiditas. Harga di pasar sekunder terbentuk dari permintaan dan penawaran. Tidak ada yang menjamin selalu ada pembeli di harga yang kamu inginkan pada hari kamu butuh uang. Dan untuk SBR serta ST, pintu pasar sekunder memang tidak ada sama sekali. Kamu hanya bisa mengandalkan jendela early redemption yang terbatas porsi dan periodenya.

Waspada: kalimat "obligasi negara aman" itu benar untuk risiko gagal bayar, tetapi tidak berlaku untuk harga. Negara menjamin kupon dan pokokmu dibayar pada jadwalnya, bukan menjamin harga obligasimu tidak turun bulan depan. Dua hal ini sering dicampur, dan pencampuran itulah yang bikin orang panik menjual rugi di waktu yang salah.
Grafik hubungan terbalik antara suku bunga pasar dan harga obligasi
Saat suku bunga pasar naik, harga obligasi cenderung turun, dan sebaliknya

Pajak kupon dan biaya yang jarang disebut di brosur

Kupon yang diiklankan selalu angka bruto. Yang sampai ke rekeningmu lebih kecil.

Dasarnya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2021. Pasal 2 ayat (1) menegaskan penghasilan berupa bunga obligasi yang diterima wajib pajak dalam negeri dikenai pajak penghasilan yang bersifat final, dan ayat (2) menetapkan tarifnya sebesar 10% dari dasar pengenaan pajak. Aturan ini berlaku sejak diundangkan pada 30 Agustus 2021.

Perhatikan cakupannya, karena ini sering disalahpahami. Pasal 1 mendefinisikan Obligasi sebagai surat utang, surat utang negara, dan obligasi daerah berjangka waktu lebih dari 12 bulan yang diterbitkan pemerintah maupun nonpemerintah, termasuk sukuk. Jadi ORI, SR, SBR, ST, dan obligasi korporasi sama-sama masuk. Tidak ada instrumen SBN ritel yang bebas dari potongan ini.

Yang paling jarang dibahas: capital gain kamu juga kena pajak. Pasal 2 ayat (3) huruf b menetapkan dasar pengenaan pajak untuk diskonto dari obligasi dengan kupon adalah selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan, tidak termasuk bunga berjalan. Artinya untung dari menjual obligasi lebih mahal bukan penghasilan bersih, melainkan ikut dipotong 10% final. Sisi baiknya, ayat (4) menyebut kalau kamu justru rugi saat menjual, diskonto negatif itu dapat diperhitungkan terhadap dasar pengenaan pajak atas bunga obligasi berjalan.

Sekarang bandingkan dengan tetangganya. Bunga deposito dan tabungan dikenai pajak final sebesar 20% dari jumlah bruto untuk wajib pajak dalam negeri berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000 Pasal 2. Jadi secara perpajakan, kupon obligasi diperlakukan dua kali lebih ringan daripada bunga deposito. Ini keunggulan nyata yang justru jarang dijelaskan saat orang membandingkan keduanya di rekening bank.

Contoh hitungan (angka contoh, bukan patokan dan bukan proyeksi): misalkan kamu memegang obligasi bernilai nominal Rp10.000.000 dengan kupon 6% per tahun. Kupon bruto setahun = Rp600.000. Pajak final 10% = Rp60.000, sehingga yang kamu terima Rp540.000. Andaikan dana yang sama ditaruh di deposito dengan bunga 6% per tahun, pajaknya 20% = Rp120.000, sehingga tersisa Rp480.000. Ganti angka contoh ini dengan tingkat kupon seri yang benar-benar sedang ditawarkan. Kamu bisa menguji skenario di simulasi investasi.

Selain pajak, ada biaya yang bergantung pada jalur pembelianmu. Transaksi di pasar sekunder lewat perusahaan efek umumnya membawa biaya transaksi, dan kamu juga menghadapi selisih antara harga beli dan harga jual yang berlaku saat itu. Besarannya berbeda antar penyedia dan berubah dari waktu ke waktu, jadi tanyakan langsung ke agen penjual atau mitra distribusimu, dan minta angkanya hitam di atas putih sebelum menyetor.

Mengapa "obligasi pasti aman" tidak sepenuhnya benar

Ini anggapan paling umum yang perlu diluruskan, dan jawabannya bergantung pada siapa penerbitnya.

Untuk SBN, dasar keamanannya kuat dan legal. Pembayaran kupon dan pokok SUN dijamin negara sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002, dan pemerintah menganggarkannya dalam APBN setiap tahun. Risiko gagal bayarnya, dalam bahasa OJK, minim. Itu jaminan yang serius dan bukan basa-basi pemasaran.

Untuk obligasi korporasi, ceritanya lain. Tidak ada negara di belakangnya, hanya kemampuan keuangan perusahaan penerbit. Dan di sinilah satu fakta yang perlu kamu tahu sebelum tergoda kupon tinggi: obligasi tidak dijamin LPS. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 Pasal 10 menyebutkan LPS menjamin simpanan nasabah bank yang berbentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Obligasi tidak ada dalam daftar itu, karena obligasi memang bukan simpanan bank. Kalau penerbit korporasi gagal bayar, tidak ada lembaga penjamin yang mengganti uangmu, dan kamu masuk antrean kreditur.

Karena itu, kupon korporasi yang jauh lebih tinggi dari SBN bukan hadiah gratis. Itu kompensasi atas risiko tambahan yang kamu tanggung sendiri. Semakin tinggi kupon yang ditawarkan dibanding instrumen sejenis, semakin besar risiko yang sedang dibayar mahal oleh penerbitnya. Peringkat efek ada justru untuk membantumu menakar itu, jadi bacalah sebelum membeli, bukan sesudah.

Kesimpulan jujurnya: obligasi negara memang termasuk instrumen berisiko rendah dari sisi gagal bayar, tetapi tidak satu pun obligasi kebal terhadap pergerakan harga, dan obligasi korporasi punya lapisan risiko yang benar-benar nyata. Menyebut semuanya "aman" tanpa membedakan penerbit adalah penyederhanaan yang bisa mahal harganya.

Langkah memulai dan hal yang wajib kamu cek sendiri

Kalau setelah membaca semua di atas kamu merasa obligasi cocok dengan tujuanmu, ini urutan yang masuk akal:

  1. Amankan fondasinya lebih dulu. Obligasi punya tanggal jatuh tempo dan harganya bisa turun, jadi ia bukan pengganti bantalan likuid. Pastikan dana daruratmu beres sebelum mengunci uang bertahun-tahun.
  2. Cocokkan tenor dengan kebutuhan uangmu. Ini keputusan terpenting. Kalau uangnya mungkin kamu butuhkan dalam dua tahun, obligasi bertenor lima tahun memaksamu menjual di harga pasar, apa pun kondisinya saat itu.
  3. Pilih jalur yang sesuai. SBN ritel dijual pemerintah lewat agen penjual atau mitra distribusi resmi selama masa penawaran, dan OJK mencatat SR maupun ST dapat diakses mulai dari Rp1 juta. Obligasi korporasi dibeli lewat perusahaan efek.
  4. Baca memorandum informasi seri yang ditawarkan. Di sanalah kupon, tenor, minimum pemesanan, jadwal pembayaran, dan ketentuan early redemption ditulis resmi. Jangan mengandalkan tangkapan layar promosi atau angka dari seri tahun lalu.
  5. Untuk korporasi, cek peringkatnya. Lalu tanyakan pada dirimu apakah selisih kuponnya sepadan dengan risiko gagal bayar yang kamu tanggung sendiri tanpa jaring pengaman LPS.
  6. Hitung angka bersih, bukan angka brosur. Kurangi kupon dengan pajak final 10% dan biaya yang berlaku di penyedia tempatmu bertransaksi.

Kupon, harga, dan imbal hasil bergerak sepanjang waktu, jadi tidak ada angka evergreen yang bisa dipegang selamanya. Cek langsung ke sumber resmi saat kamu hendak memesan: pengumuman seri di situs Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko untuk SBN ritel, serta informasi produk di situs OJK dan Bursa Efek Indonesia. Kalau kamu masih menimbang instrumen lain untuk tujuan jangka menengah, bandingkan juga dengan reksadana, atau telusuri pilihan lain di panduan menabung kami.

Terakhir, dan ini penting: artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan bukan saran, ajakan, atau rekomendasi investasi. Uang Bijak tidak menjual produk obligasi dan tidak berafiliasi dengan penerbit mana pun. Keputusan investasi ada di tanganmu, sebaiknya diambil setelah membaca dokumen resmi produk dan menyesuaikannya dengan kondisi keuanganmu sendiri. Baca juga disclaimer kami.

Layar laptop menampilkan halaman dokumen padat di meja kerja, menggambarkan memorandum informasi seri SBN ritel
Selalu baca memorandum informasi resmi seri yang sedang ditawarkan sebelum memesan
Pertanyaan yang sering diajukan
Obligasi adalah apa secara sederhana?
Obligasi adalah surat utang. Saat kamu membeli obligasi, kamu sedang meminjamkan uang kepada penerbitnya, baik pemerintah maupun perusahaan. Sebagai imbalannya, penerbit membayar kupon secara berkala dan mengembalikan pokok saat jatuh tempo. Posisimu adalah pemberi pinjaman, bukan pemilik perusahaan seperti pada saham.
Apakah investasi obligasi bisa rugi?
Bisa. Ada tiga sumber kerugian utama. Pertama, harga obligasi turun saat suku bunga pasar naik, sehingga kamu rugi kalau menjualnya sebelum jatuh tempo. Kedua, penerbit korporasi bisa gagal bayar kupon atau pokok. Ketiga, kamu mungkin sulit menjual di harga yang kamu mau karena harga di pasar sekunder terbentuk dari permintaan dan penawaran.
Berapa pajak kupon obligasi di Indonesia?
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2021 Pasal 2, bunga obligasi yang diterima wajib pajak dalam negeri dikenai pajak penghasilan final sebesar 10% dari dasar pengenaan pajak. Ketentuan ini berlaku sejak 30 Agustus 2021 dan mencakup surat utang negara serta sukuk. Pajaknya dipotong otomatis, jadi kupon yang masuk ke rekeningmu sudah bersih.
Apa bedanya ORI, SR, SBR, dan ST?
Perbedaan terpentingnya ada pada kemampuan dijual di pasar sekunder. ORI dan Sukuk Ritel (SR) dapat diperdagangkan di pasar sekunder antar investor domestik. Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan (ST) tidak dapat diperdagangkan, tetapi biasanya menyediakan fasilitas early redemption untuk mencairkan sebagian dana lebih awal. SR memberi imbal hasil tetap, sedangkan SBR dan ST memakai skema mengambang dengan batas minimal.
Apakah obligasi dijamin LPS?
Tidak. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 Pasal 10 menyebut LPS menjamin simpanan nasabah bank berbentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. Obligasi bukan simpanan bank, sehingga berada di luar cakupan penjaminan LPS. Untuk surat berharga negara, pembayaran kupon dan pokoknya dijamin negara lewat undang-undang, bukan lewat LPS.
Berapa minimum uang untuk mulai membeli SBN ritel?
Menurut OJK, Sukuk Ritel dan Sukuk Tabungan dapat diakses mulai dari Rp1 juta. Nominal minimum, tenor, dan besaran imbal hasil bisa berbeda pada setiap seri, jadi selalu cek memorandum informasi resmi seri yang sedang ditawarkan sebelum memesan.
Lebih baik obligasi atau deposito?
Keduanya menjawab kebutuhan berbeda, jadi tidak ada jawaban tunggal. Kupon obligasi umumnya lebih tinggi daripada bunga deposito dan pajaknya lebih ringan (10% final dibanding 20% final untuk bunga deposito). Namun deposito di bank peserta dijamin LPS dan nilainya tidak berfluktuasi, sedangkan harga obligasi bisa naik-turun dan obligasi tidak dijamin LPS.
Tentang penulis
Tim Redaksi Uang Bijak
Redaksi Editorial · Profil & kredensial

Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.

Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab

Masih ada yang ingin ditanyakan soal menabung? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.

Tanya via WhatsApp