Lompat ke konten
Keuangan Keluarga

Cara Menyusun Anggaran Rumah Tangga: Membagi Penghasilan Keluarga Tanpa Ribut

Cara menyusun anggaran rumah tangga: sepakati dulu model pengelolaan uang berdua, baru susun posnya. Tiga model, kontribusi timpang, dan pos terlewat.

Tim Redaksi Uang Bijak13 menit bacaDitinjau Ahmad Thariq Syauqi
Meja makan kayu dengan dua cangkir kopi dan sebuah buku catatan terbuka

Cara menyusun anggaran rumah tangga yang bertahan tidak dimulai dari rumus pembagian, melainkan dari satu kesepakatan: uang siapa yang menjadi uang siapa. Setelah itu barulah posnya disusun, lalu dana darurat, proteksi, dan investasi menyusul di belakangnya. Perhatikan urutan itu, karena anggaran keluarga jarang runtuh gara-gara persentasenya keliru. Ia runtuh karena angkanya ditetapkan sepihak, lalu dilanggar diam-diam oleh pihak yang tidak pernah benar-benar setuju. OJK menegaskan bahwa setiap keputusan keuangan pasangan perlu dicapai berdasarkan kesepakatan dan komunikasi. Panduan ini membahas tiga model pengelolaan uang pasangan beserta konsekuensi jujurnya, cara membagi kontribusi saat penghasilan kalian timpang, pos yang paling sering terlewat, dan kenapa jatah uang pribadi untuk masing-masing justru membuat anggaran keluarga lebih kuat.

Kalau yang kamu cari adalah mekanik dasarnya, yaitu cara melacak pengeluaran dan menetapkan pos, semuanya sudah dibahas di panduan anggaran bulanan. Halaman ini mengambil bagian yang tidak bisa diselesaikan oleh spreadsheet mana pun: uangnya milik dua orang, dan dua orang itu punya kepala masing-masing.

Anggaran keluarga jarang gagal karena rumusnya salah

Ini poin utama panduan ini, dan sebaiknya kamu bawa pulang meski tidak membaca sisanya: anggaran rumah tangga yang berantakan hampir selalu punya masalah kesepakatan, bukan masalah aritmetika.

Perhatikan pola yang berulang. Satu orang, biasanya yang merasa paling peduli soal uang, duduk semalam suntuk menyusun anggaran yang rapi. Posnya lengkap, persentasenya masuk akal, angkanya bahkan sudah dibulatkan dengan cantik. Anggaran itu lalu disampaikan ke pasangannya sebagai hasil jadi. Pasangannya mengangguk, karena menolak angka yang terlihat rasional itu melelahkan dan berisiko jadi pertengkaran. Dua bulan kemudian anggarannya jebol, dan yang menyusun merasa dikhianati sementara yang mengangguk merasa tidak pernah benar-benar ditanya.

Tidak ada yang salah dengan rumusnya. Yang salah adalah anggaran itu tidak pernah jadi milik berdua. Angka yang dipaksakan sepihak tidak akan dilawan secara terbuka, ia akan dilanggar diam-diam, dan itu jauh lebih merusak daripada perdebatan di awal.

OJK menempatkan persoalan ini sebagai pola perilaku keuangan yang perlu dihindari pasangan, dan bahasanya cukup tegas. Membangun hubungan yang setara dalam hal keuangan, kata mereka, membuat pasangan merasa dilibatkan dalam upaya mencapai tujuan bersama. Materi yang sama meminta pasangan menyusun kesepakatan bersama mengenai anggaran dan skala prioritas keuangan, lalu menjalankannya secara konsisten dan bertanggung jawab. Perhatikan kata "kesepakatan bersama" di situ. Bukan pemberitahuan, bukan sosialisasi.

Fondasi kesepakatan itu adalah transparansi, dan transparansi punya arti yang lebih tidak nyaman daripada yang biasanya orang bayangkan. Menurut OJK, pasangan perlu menceritakan yang sebenar-benarnya tentang kondisi keuangan masing-masing, mulai dari penghasilan, pengeluaran, hingga utang. Bagian utang inilah yang paling sering ditunda, dan OJK menyertakan alasan yang tidak main-main: ada kasus seseorang baru mengetahui pasangannya memiliki utang yang sangat banyak setelah pasangannya pergi, sehingga mau tidak mau ia harus menanggung utang tersebut.

Ada satu kenyataan hukum yang perlu kamu tahu sebelum melangkah lebih jauh, dan ia mengubah cara membaca ketiga model di bawah. OJK menjelaskan bahwa tanpa perjanjian pranikah, harta dan utang yang didapat selama masa pernikahan adalah milik bersama. Dengan perjanjian pranikah, harta dan utang itu menjadi milik masing-masing. Artinya, memisahkan rekening bukan berarti memisahkan tanggung jawab. Utang pasangan tetap bisa menjadi utangmu, betapa pun rapinya kalian membagi tagihan. Ini bukan alasan untuk saling curiga, melainkan alasan kenapa keterbukaan bukan sekadar etika hubungan.

Poin kunci: anggaran keluarga yang dilanggar diam-diam biasanya adalah anggaran yang tidak pernah disepakati sejak awal. Perdebatan satu jam di depan sepakat lebih murah daripada pelanggaran senyap selama setahun.
Meja kayu dengan buku catatan terbuka, sebuah pena, dan dua cangkir teh berdampingan
Anggaran keluarga yang bertahan lahir dari percakapan berdua, bukan dari perhitungan satu orang

Tiga model pengelolaan uang pasangan

Setelah kesepakatan jadi prinsip, pertanyaan pertama yang harus dijawab bukan "berapa persen untuk makan", melainkan "uang ini masuk ke mana". Ada tiga model yang umum dipakai, dan setiap model membeli sesuatu dengan mengorbankan sesuatu yang lain.

Jangan berharap panduan ini memilihkan satu untukmu. OJK sendiri menulis bahwa tidak ada jurus yang baku mengenai pembagian peran antara ayah dan ibu dalam perencanaan keuangan. Siapa pun yang bilang satu model pasti lebih unggul sedang menjual keyakinannya sendiri, bukan menjelaskan keadaanmu.

ModelCara kerjanyaYang kamu dapatYang kamu bayarBiasanya cocok kalau
Gabung penuhSeluruh penghasilan berdua masuk ke satu pos bersama, semua pengeluaran keluar dari situGambaran keuangan paling utuh, tujuan bersama gampang didanai, terasa satu timSetiap belanja kecil terasa diawasi, yang berpenghasilan lebih kecil rawan merasa sungkan, mudah berubah jadi kontrol kalau satu pihak dominanPenghasilan kalian mirip, atau salah satu tidak berpenghasilan, dan kalian nyaman terbuka penuh
Pisah penuhMasing-masing memegang penghasilannya sendiri, tagihan dibagi per pos atau per nominalOtonomi tinggi, nyaris tanpa gesekan soal belanja kecil, cocok untuk yang punya usaha terpisahTidak ada yang memegang gambaran utuh, tujuan bersama gampang terlantar, dan secara hukum harta serta utang tetap bersama tanpa perjanjian pranikahKeduanya berpenghasilan dan terbiasa mandiri, atau ada usaha yang keuangannya memang harus terpisah
HibridaAda pos bersama untuk kebutuhan dan tujuan keluarga, sisanya jadi uang pribadi masing-masingTujuan bersama tetap terdanai sambil ruang pribadi tetap ada, gesekan belanja kecil hilangKesepakatan awalnya paling rinci dan paling melelahkan, perlu ditinjau ulang tiap kali penghasilan berubahKalian ingin transparansi tanpa merasa diawasi terus, dan bersedia berunding di awal

Model gabung penuh punya kelebihan yang nyata: tidak ada yang tersembunyi, dan tujuan besar seperti rumah atau pendidikan anak paling mudah dikejar karena semua amunisi ada di satu tempat. Tetapi model ini juga yang paling mudah berubah menjadi hubungan yang timpang. OJK memberi contoh yang tajam: ada pola di mana satu pihak menyimpan seluruh aset keuangan di rekening pribadi sehingga pasangannya tidak memiliki akses keuangan, tidak punya kebebasan mengelola uang, dan kehilangan kemandirian finansial. OJK menyebut pola seperti ini menciptakan ketidaksetaraan. Gabung penuh yang sehat adalah gabung penuh dengan dua pemegang kunci, bukan satu bendahara dan satu peminta.

Model pisah penuh menyelesaikan masalah rasa diawasi, dan bagi banyak pasangan itu bukan hal sepele. Persoalannya, ketika tidak ada satu pun yang memegang peta utuh, keluarga bisa merasa aman padahal tidak. Materi edukasi DJKN Kementerian Keuangan menegaskan bahwa jika suami dan istri sama-sama bekerja, pemasukan keduanya wajib didata dan dihitung. Pisah penuh tetap bisa jalan, asal angka keduanya tetap ditumpuk di satu tabel yang kalian lihat bersama. Yang dipisah rekeningnya, bukan informasinya.

Model hibrida adalah kompromi yang paling banyak dipakai diam-diam, meski jarang diakui sebagai metode. Bentuknya sederhana: sepakati pos bersama untuk semua kebutuhan dan tujuan keluarga, lalu sisanya menjadi jatah pribadi masing-masing. Ongkosnya ada di depan, karena kalian harus berunding lebih rinci di awal soal apa saja yang masuk pos bersama dan berapa jatah pribadinya. Ongkos itu dibayar sekali, sementara manfaatnya berjalan tiap bulan.

Membagi kontribusi kalau penghasilan kalian timpang

Begitu model dipilih, muncul pertanyaan yang paling sering memicu keheningan canggung: kalau penghasilan kalian berbeda jauh, siapa menyetor berapa.

Ada dua jawaban yang umum. Yang pertama membagi rata dalam rupiah, misalnya kebutuhan bersama Rp6.000.000 lalu masing-masing menyetor Rp3.000.000. Yang kedua membagi proporsional terhadap penghasilan, sehingga yang berpenghasilan lebih besar menyetor lebih besar juga.

Pembagian rata terdengar paling adil, dan justru di situ jebakannya. Adil dalam rupiah tidak berarti adil dalam beban.

Contoh hitungan: misalkan penghasilan bersih kalian Rp8.000.000 dan Rp4.000.000, dengan kebutuhan bersama Rp6.000.000 per bulan. Kalau dibagi rata, keduanya menyetor Rp3.000.000. Yang berpenghasilan Rp8.000.000 masih menyisakan Rp5.000.000, atau 62,5% dari penghasilannya. Yang berpenghasilan Rp4.000.000 tinggal punya Rp1.000.000, atau 25%. Kalau dibagi proporsional, setorannya menjadi Rp4.000.000 dan Rp2.000.000, sehingga keduanya sama-sama menyisakan 50% penghasilannya. Angka ini ilustrasi, ganti dengan angka nyatamu.

Perhatikan apa yang sebenarnya diukur di situ. Pembagian rata membuat nominal setorannya sama, tetapi harga yang dibayar tiap orang berbeda jauh. Yang satu menyerahkan 37,5% penghasilannya, yang lain menyerahkan 75%. Uang yang tersisa untuk keperluan pribadi, orang tua, atau sekadar bernapas, jadi timpang. Inilah kenapa pihak yang berpenghasilan lebih kecil sering merasa ada yang tidak beres tanpa bisa menjelaskannya: secara nominal ia diperlakukan setara, secara beban ia menanggung dua kali lipat.

Pembagian proporsional menyamakan ukuran yang lebih relevan, yaitu porsi penghasilan yang diserahkan untuk keluarga. Nominalnya berbeda, rasanya sebanding. Cara ini juga lebih tahan terhadap perubahan, karena saat salah satu naik penghasilan atau kehilangan pekerjaan, angkanya tinggal disesuaikan tanpa perlu merundingkan ulang seluruh prinsipnya.

Meski begitu, proporsional bukan tanpa cacat. Ia menuntut keduanya membuka angka penghasilan yang sebenarnya, dan sebagian orang tidak nyaman dengan itu. Ia juga bisa terasa seperti menghukum yang berpenghasilan lebih besar kalau tidak dibarengi kesepakatan bahwa sisanya benar-benar hak masing-masing. Dan ada situasi di mana pembagian rata memang lebih masuk akal, misalnya ketika penghasilan kalian memang mirip, atau ketika salah satu punya tanggungan keluarga besar yang tidak terlihat di slip gaji.

Satu catatan yang sering terlewat: pemasukan yang didata bukan hanya gaji pokok. DJKN menyebut pemasukan tidak rutin seperti uang dinas, uang makan, atau penghasilan dari bisnis juga patut dihitung. Anggaran yang cuma mengakui gaji bulanan akan terus terkejut oleh uang yang datang dan pergi tanpa pernah tercatat.

Pos yang sering terlewat di anggaran keluarga

Anggaran rumah tangga biasanya lengkap di bagian yang kelihatan, seperti makan, listrik, transportasi, dan cicilan. Yang jebol justru pos yang tidak muncul tiap bulan, sehingga mudah dianggap tidak ada.

Dana darurat keluarga, dan ukurannya berbeda dari waktu kamu lajang. Ini pos yang paling sering dibawa dengan angka lama. Menurut OJK Sikapi Uangmu, dana darurat ideal adalah 6 kali pengeluaran bulanan untuk yang lajang atau belum punya tanggungan, tetapi 9 sampai 12 kali pengeluaran bulanan untuk yang sudah berkeluarga atau punya tanggungan. Bedanya bukan sedikit. Kalau pengeluaran rumah tanggamu Rp7.000.000 per bulan, patokannya bukan Rp42.000.000 melainkan Rp63.000.000 sampai Rp84.000.000. Alasannya masuk akal: makin banyak orang yang bergantung pada penghasilan kalian, makin besar akibat dari satu gangguan. Cara menghitung dan menyimpannya dibahas di panduan dana darurat, dan targetnya bisa kamu hitung lewat kalkulator dana darurat.

Proteksi. Pos ini sering dilewati karena terasa seperti membayar sesuatu yang mudah-mudahan tidak terpakai. Padahal begitu ada tanggungan, perhitungannya berubah. OJK menyebut asuransi jiwa cocok untuk yang sudah punya risiko finansial seperti anak dan orang tua yang sudah pensiun, sementara asuransi kesehatan menjaga agar uang yang dikumpulkan bertahun-tahun tidak lenyap oleh satu biaya pengobatan. OJK juga mengingatkan hal yang gampang lupa: kalau kalian berdua sudah dapat asuransi kesehatan dari kantor, pastikan anak-anak juga sudah terlindungi, karena fasilitas kantor sering berhenti di karyawannya. Perbedaan tiap jenisnya dibahas di panduan jenis asuransi dan asuransi jiwa.

Biaya tidak rutin. Ini pembunuh anggaran keluarga yang paling senyap: uang sekolah dan seragam, servis kendaraan, mudik, kondangan, hadiah, iuran lingkungan. Semuanya bukan kejutan, semuanya bisa diperkirakan, dan hampir tidak pernah masuk anggaran karena tidak muncul tiap bulan. Cara menanganinya sederhana, yaitu jumlahkan perkiraan setahun lalu bagi dua belas, dan sisihkan sebesar hasilnya tiap bulan. Menariknya, formula alokasi yang dicontohkan OJK sudah mengakomodasi sebagiannya. Formula 10:20:30:40 versi mereka menempatkan 10% untuk biaya sosial seperti donasi, sumbangan, dan zakat, 20% untuk menabung, proteksi, dan investasi, 30% untuk cicilan utang, serta 40% untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Kondangan dan sumbangan punya rumahnya sendiri di situ, bukan menumpang di uang makan.

Uang pribadi masing-masing. Pos yang paling sering dianggap kemewahan, padahal ia yang menahan sisanya agar tidak roboh. Bagian berikutnya membahas kenapa.

Pendidikan anak. Pos jangka panjang yang biayanya naik lebih cepat daripada dugaan kebanyakan orang tua, dan pembahasan lengkapnya ada di panduan dana pendidikan anak.

Waspada: perhatikan pos cicilan. OJK menyebut rasio utang terhadap pendapatan yang sehat adalah kurang dari 30%, dan di atas itu keuanganmu belum bisa disebut sehat. Materi DJKN memberi satu pengecualian yang wajar: utang untuk kebutuhan primer yang tidak mungkin dipenuhi dalam waktu dekat, seperti KPR rumah, masih dapat diterima meski melewati batas itu. Selebihnya, angka 30% layak kamu perlakukan sebagai pagar, bukan target.
Beberapa amplop kertas cokelat dan sebuah toples kaca berisi uang koin di atas permukaan kayu
Pos yang tidak datang tiap bulan tetap perlu disisihkan tiap bulan

Jatah pribadi dan rapat bulanan yang singkat

Sekarang bagian yang paling sering ditolak lebih dulu sebelum dipikirkan: setiap orang perlu punya sejumlah uang yang boleh dihabiskan tanpa perlu dilaporkan.

Kedengarannya seperti celah untuk berbohong. Kenyataannya kebalikannya. Pos ini justru menghapus kebutuhan untuk berbohong.

Bayangkan anggaran tanpa jatah pribadi. Setiap rupiah punya tujuan, dan setiap pengeluaran di luar tujuan itu harus dijelaskan. Lalu hidup terjadi. Kamu membeli kopi Rp25.000, atau mentraktir teman lama yang kebetulan bertemu, atau membeli mainan kecil untuk keponakan. Tidak satu pun dari itu salah, tetapi semuanya butuh penjelasan. Setelah beberapa kali menjelaskan hal remeh, orang berhenti menjelaskan. Bukan karena ingin curang, melainkan karena melelahkan. Dari situ jaraknya pendek menuju kebiasaan menyembunyikan struk, membulatkan angka, dan menjawab "ah, itu cuma sedikit". Anggaran yang menuntut pertanggungjawaban atas segalanya justru melahirkan ketidakjujuran atas hal-hal kecil.

Jatah pribadi memotong rantai itu di pangkalnya. Kalau sudah disepakati bahwa masing-masing punya, misalnya, Rp500.000 sebulan yang bebas dipakai, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Kopi tadi keluar dari jatahnya. Tidak ada penjelasan, tidak ada rasa bersalah, tidak ada kebohongan kecil yang menumpuk jadi kebiasaan.

Perhatikan baik-baik apa yang tidak dilaporkan di sini. Yang tidak dilaporkan hanya cara membelanjakannya. Besarnya, keberadaannya, dan sumbernya tetap terbuka dan disepakati berdua. Ini yang membedakannya dari uang rahasia, dan bedanya bukan soal teknis.

Batasnya juga harus jelas, dan di sini OJK tidak memberi ruang tafsir. OJK menyebut membeli barang mewah atau mengajukan pinjaman tanpa persetujuan pasangan sebagai perilaku yang menciptakan rasa curiga dalam hubungan. Jadi jatah pribadi berlaku untuk pengeluaran kecil sehari-hari, bukan untuk keputusan besar. Cara paling bersih adalah menyepakati satu angka ambang, misalnya di atas Rp1.000.000 wajib dibicarakan berdua, apa pun sumbernya. Satu kalimat itu menyelesaikan hampir semua perdebatan soal batas.

Satu hal lagi yang membuat semuanya berjalan: rapat keuangan rutin yang singkat. OJK menyarankan komunikasi ini dilakukan setidaknya sebulan sekali untuk mengevaluasi kembali tanggung jawab yang dipegang masing-masing, dan menyebut masalah keuangan sebagai salah satu sumber ketidakharmonisan dalam hubungan keluarga. Materi OJK lain menambahkan bahwa evaluasi dilakukan dengan menengok catatan pengeluaran dan pemasukan keluarga sebulan sebelumnya.

Versi yang realistis cukup lima belas menit dengan tiga pertanyaan. Pos mana yang jebol? Kenapa jebol, apakah kejadian sekali atau memang angkanya yang tidak pernah realistis? Apa satu hal yang kita ubah bulan depan? Sudah, tutup. Rapat yang singkat dan membosankan tiap bulan jauh lebih berguna daripada pembicaraan panjang yang cuma muncul saat sudah ada yang marah. Kalau kalian ingin alat resmi tanpa mengunduh apa pun, OJK menyediakan kalkulator periksa anggaran di situs Sikapi Uangmu, dan gambaran kesehatan keuangan yang lebih menyeluruh bisa kamu susuri lewat panduan financial check-up.

Kalender meja dan secangkir teh diletakkan di sudut meja kerja kayu
Rapat keuangan lima belas menit tiap bulan mengalahkan pembicaraan panjang yang cuma muncul saat ada masalah

Urutan yang benar sebelum uang keluarga diinvestasikan

Setelah kesepakatan jadi dan posnya berdiri, urutan berikutnya menentukan apakah semua kerja tadi bertahan atau cuma jadi catatan cantik.

Urutannya lima tingkat: kesepakatan, anggaran, dana darurat, proteksi, baru investasi.

Kesepakatan lebih dulu, karena tanpa itu semua angka di bawahnya cuma milik satu orang. Ini yang membedakan anggaran rumah tangga dari anggaran pribadi. Kalau anggaranmu sendiri meleset, kamu berdebat dengan dirimu sendiri dan selesai. Kalau anggaran keluarga meleset tanpa kesepakatan, yang rusak bukan cuma angkanya.

Anggaran berikutnya, karena ia yang memberitahu berapa ruang yang sebenarnya ada tiap bulan. Kerangka mana pun boleh kalian pakai di tahap ini, entah 10:20:30:40 versi OJK atau kerangka lain seperti aturan 50/30/20. OJK sendiri menyebut setiap komponen formulanya dapat dimodifikasi sesuai tujuan keuangan yang sudah dibuat, jadi tidak ada yang perlu dianggap suci. Untuk keluarga, DJKN menambahkan satu langkah yang gampang dilewati: susun skala prioritas, dahulukan kebutuhan primer, lalu sekunder, baru tersier.

Dana darurat setelahnya, dengan patokan 9 sampai 12 kali pengeluaran bulanan tadi kalau kalian punya tanggungan. DJKN membedakan tiga kantong yang sering dicampur orang: dana darurat yang disimpan di tempat mudah ditarik karena tidak ada yang tahu kapan dibutuhkan, dana tabungan untuk tujuan tertentu yang justru sebaiknya disimpan di tempat yang lebih sulit ditarik, dan dana investasi untuk tujuan berjangka panjang. Tiga kantong, tiga sifat, tiga tempat.

Proteksi sebelum investasi, karena investasi yang tumbuh baik pun tidak berarti banyak kalau satu kejadian besar memaksa kalian membongkarnya. Proteksi menutup risiko yang tidak sanggup ditanggung sendiri.

Investasi paling akhir. Bukan karena tidak penting, tetapi karena ia baru masuk akal setelah ada bantalan di bawahnya. Uang yang diinvestasikan sebelum dana darurat terisi hampir pasti akan ditarik di saat yang paling tidak menguntungkan, dan begitu ia ditarik, semua rencana jangka panjangnya batal. OJK menempatkan pos proteksi dan investasi bersama-sama pada porsi minimal 20% dari total anggaran, dan urutan di dalamnya tidak boleh terbalik.

Satu kebiasaan kecil yang menopang seluruh urutan ini, dan OJK menuliskannya dengan tegas: sisihkan tabungan secara rutin, bukan menyisakan. Bedanya satu huruf, hasilnya berbeda jauh. Menyisihkan berarti uangnya pindah di awal bulan. Menyisakan berarti berharap ada sisa di akhir bulan, dan untuk rumah tangga dengan tanggungan, sisa di akhir bulan hampir selalu nol.

Catatan: artikel ini bersifat edukasi, bukan saran atau rekomendasi investasi. Kondisi tiap keluarga berbeda dan tidak ada model pengelolaan uang yang cocok untuk semua pasangan. Pertimbangkan situasi kalian sendiri sebelum mengambil keputusan keuangan, dan baca disclaimer kami.

Anggaran rumah tangga yang berhasil biasanya tidak terlihat mengesankan. Posnya sedikit, angkanya sudah beberapa kali direvisi, dan ada satu baris bernama jatah pribadi yang kelihatan tidak produktif. Justru itu tandanya ia dibuat oleh dua orang yang benar-benar berbicara, bukan oleh satu orang yang benar-benar rajin. Panduan lain di pilar keuangan keluarga bisa jadi langkah berikutnya setelah anggaran kalian jalan.

Pertanyaan yang sering diajukan
Bagaimana cara menyusun anggaran rumah tangga untuk pasangan baru?
Mulai dari kesepakatan, bukan dari angka. Sepakati dulu model pengelolaan uang kalian, yaitu digabung penuh, dipisah penuh, atau hibrida, lalu buka kondisi keuangan masing-masing termasuk utang. Setelah itu baru susun pos pengeluaran bersama, tentukan kontribusi tiap orang, dan sepakati jatah pribadi masing-masing. OJK menyebut pembicaraan soal siapa yang mencatat kas keluarga dan apakah perlu tabungan bersama sebaiknya dilakukan sejak sebelum atau tepat setelah menikah.
Lebih baik uang suami istri digabung atau dipisah?
Tidak ada satu jawaban yang benar untuk semua pasangan. OJK sendiri menyatakan tidak ada jurus baku mengenai pembagian peran keuangan antara ayah dan ibu. Gabung penuh memberi transparansi paling tinggi tetapi bisa terasa saling mengawasi, pisah penuh memberi otonomi tetapi membuat gambaran utuh keuangan keluarga jadi kabur, dan hibrida mencoba mengambil sisi baik keduanya dengan biaya kesepakatan awal yang lebih rinci. Yang menentukan bukan modelnya, melainkan apakah kalian benar-benar menyepakatinya.
Berapa dana darurat untuk keluarga?
Menurut OJK Sikapi Uangmu, dana darurat ideal untuk yang sudah berkeluarga atau punya tanggungan adalah 9 sampai 12 kali pengeluaran bulanan, bukan 6 kali seperti patokan untuk yang masih lajang. Patokannya dihitung dari total pengeluaran rutin rumah tangga, bukan dari penghasilan. Semakin banyak orang yang bergantung pada penghasilan kalian, semakin besar bantalan yang perlu disiapkan.
Bagaimana membagi kontribusi kalau penghasilan saya dan pasangan timpang?
Ada dua cara umum, yaitu membagi rata dalam rupiah atau membagi proporsional terhadap penghasilan masing-masing. Pembagian rata terlihat adil di atas kertas tetapi menghabiskan porsi penghasilan yang jauh lebih besar bagi yang berpenghasilan lebih kecil, sehingga sisa uang bebasnya jadi timpang. Pembagian proporsional membuat keduanya menyisakan persentase penghasilan yang sebanding, meski nominal setorannya berbeda.
Apakah boleh punya uang pribadi yang tidak dilaporkan ke pasangan?
Boleh, selama jumlahnya disepakati terbuka sejak awal dan berlaku untuk kedua belah pihak. Yang tidak perlu dilaporkan hanya cara membelanjakannya di dalam batas itu, bukan keberadaan atau besarnya. OJK menegaskan bahwa keputusan besar seperti membeli barang mewah atau mengajukan pinjaman tanpa persetujuan pasangan justru menimbulkan rasa curiga, jadi tetapkan batas nominal yang di atasnya wajib dibicarakan berdua.
Seberapa sering anggaran rumah tangga perlu dievaluasi?
OJK menyarankan komunikasi keuangan pasangan dilakukan rutin setidaknya sebulan sekali untuk mengevaluasi kembali tanggung jawab yang dipegang masing-masing. Evaluasinya cukup membandingkan anggaran dengan pengeluaran nyata bulan sebelumnya, lalu memutuskan satu hal yang diubah bulan depan. Rapat yang singkat dan rutin jauh lebih berguna daripada pembahasan panjang yang cuma muncul saat sudah ada masalah.
Apa urutan yang benar setelah anggaran rumah tangga jadi?
Urutannya adalah kesepakatan, anggaran, dana darurat, proteksi, baru investasi. Anggaran memberitahu berapa ruang yang benar-benar ada tiap bulan, dana darurat memakai ruang itu lebih dulu, lalu proteksi menutup risiko yang tidak sanggup ditanggung sendiri. Investasi diletakkan paling akhir karena ia baru masuk akal setelah keluarga punya bantalan dan uangnya punya izin untuk diam dalam jangka panjang.
Tentang penulis
Tim Redaksi Uang Bijak
Redaksi Editorial · Profil & kredensial

Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.

Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab

Masih ada yang ingin ditanyakan soal keuangan keluarga? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.

Tanya via WhatsApp