Cara Menabung Dana Pendidikan Anak Sejak Dini: Hitung Target dan Pilih Wadahnya
Cara menabung dana pendidikan anak: hitung target dari biaya sekolah hari ini, lalu pilih wadahnya sesuai jangka waktu. Makin dekat, makin rendah risikonya.

Inti dari cara menabung dana pendidikan anak ada di dua keputusan, bukan pada produk yang kamu beli. Pertama, hitung berapa target dananya: ambil biaya sekolah incaran hari ini, lalu proyeksikan ke tahun anak benar-benar masuk. Kedua, pilih wadah menyimpannya berdasarkan jarak waktu ke hari pemakaian, bukan berdasarkan janji imbal hasil. Prinsipnya satu kalimat: makin dekat waktu pakainya, makin rendah risiko yang boleh kamu ambil. Artikel ini membahas cara menghitung targetnya, memilih wadah per jangka waktu, dan membaca produk asuransi pendidikan secara jujur.
Dana darurat dulu, baru dana pendidikan
Urutan ini sering dilewati, padahal menentukan. Dana pendidikan adalah komitmen jangka panjang yang setorannya harus jalan bertahun-tahun. Kalau kamu belum punya bantalan untuk kejadian tak terduga, satu gangguan penghasilan akan memaksa kamu berhenti menyetor, membongkar tabungan pendidikan yang sudah terkumpul, atau berutang. Semua opsi itu merusak rencana yang sudah kamu bangun rapi.
Menurut OJK Sikapi Uangmu, dana darurat ideal adalah 6 kali pengeluaran bulanan kalau kamu lajang atau belum punya tanggungan, dan setidaknya 9 sampai 12 kali pengeluaran bulanan kalau kamu sudah berkeluarga. Karena kamu sedang menyiapkan dana untuk anak, artinya kamu masuk kelompok kedua. Angkanya memang terasa besar, tetapi tidak perlu terkumpul sekaligus. Bahas lengkapnya ada di panduan dana darurat, dan targetnya bisa kamu hitung cepat lewat kalkulator dana darurat.
Ada alasan teknis kenapa urutannya begini. Dana darurat berfungsi sebagai peredam kejut untuk seluruh rencana keuanganmu. Ketika peredam itu ada, dana pendidikan tidak perlu ikut menanggung guncangan. Kamu jadi bisa membiarkannya bekerja sesuai jangka waktunya tanpa terganggu kebutuhan mendadak. Tanpa peredam itu, dana pendidikan otomatis berubah peran menjadi dana darurat cadangan, dan biasanya dibongkar pada saat yang paling tidak menguntungkan.
Ini bukan berarti kamu harus menunggu dana darurat penuh 12 kali dulu baru boleh mulai menabung pendidikan. Yang realistis: amankan dulu bantalan minimal beberapa bulan pengeluaran, lalu jalankan keduanya berbarengan dengan porsi yang kamu sanggupi. Yang penting dana pendidikan tidak dibangun di atas fondasi yang kosong.
Menghitung target: dari biaya hari ini ke tahun anak masuk
Menghitung target dana pendidikan sebenarnya sederhana. Kamu butuh tiga bahan: biaya sekolah incaran menurut harga hari ini, berapa tahun lagi anak masuk, dan perkiraan kenaikan biaya per tahun di sekolah tersebut. Rumusnya: biaya hari ini dikalikan (1 + tingkat kenaikan) dipangkatkan jumlah tahun.
Bahan pertama harus lengkap. OJK Sikapi Uangmu mengingatkan bahwa segala aspek biaya patut diperhitungkan, mulai dari uang pendaftaran atau uang pangkal, SPP bulanan, biaya ekstrakurikuler, uang buku, seragam, sampai transport, sejak masuk sampai lulus. Perlu juga diingat durasi tiap jenjang: SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dan perguruan tinggi 4 tahun. Banyak orang hanya menghitung uang pangkal lalu kaget dengan total sebenarnya.
Bahan ketiga adalah bagian yang paling banyak dikarang orang di internet, jadi mari jujur di sini.
Soal angka inflasi pendidikan
Angka "inflasi pendidikan 10 sampai 15 persen per tahun" beredar sangat luas di blog keuangan, dan memang muncul juga di satu artikel OJK Sikapi Uangmu yang menyebut kenaikan biaya pendidikan "sekitar 10-15%". Masalahnya, artikel itu tidak mencantumkan dari mana angka tersebut diambil, periodenya kapan, dan jenjang mana yang diukur. Jadi kamu sebaiknya tidak memperlakukannya sebagai angka keramat untuk perencanaan.
Yang bisa kamu pertanggungjawabkan ada dua. Pertama, untuk inflasi umum, pakai data resmi BPS: pada Juni 2026, inflasi tahunan tercatat 3,34% dengan Indeks Harga Konsumen 111,89. BPS juga memelihara seri resmi inflasi tahunan kelompok pendidikan yang bisa kamu cek sendiri kapan saja. Kedua, dan ini yang paling relevan, tanyakan langsung ke sekolahnya.
Saran itu bukan karangan kami. OJK Sikapi Uangmu secara eksplisit menulis bahwa penting untuk benar-benar tahu berapa inflasi pendidikan yang menjadi kebijakan setiap sekolah, dan cara memastikannya adalah bertanya langsung ke administrasi sekolah impian, walaupun anak baru akan masuk misalnya lima tahun lagi. Artikel yang sama juga menyebut ada sekolah swasta yang menaikkan uang pangkal sampai 20% per tahun. Artinya rentang kenaikan antar sekolah itu lebar, dan rata-rata nasional tidak akan memberi tahu kamu apa pun tentang sekolah yang benar-benar kamu incar.

Perhatikan pelajaran dari contoh kedua. Mengabaikan kenaikan biaya membuat kamu menargetkan Rp60.000.000 padahal kebutuhannya sekitar Rp190.300.000. Selisih itu bukan detail kecil, dan itulah kenapa proyeksi wajib dilakukan meski angkanya perlu kamu cari sendiri. OJK juga menegaskan bahwa untuk kebutuhan yang jaraknya lebih dari 10 tahun seperti biaya perguruan tinggi, inflasi memang patut diperhitungkan agar rencana hari ini sanggup mengimbangi kenaikan biaya nanti. Kamu bisa mencoba berbagai skenario setoran lewat simulasi investasi.
Memilih wadah menurut jarak ke hari pemakaian
Ini bagian inti artikel ini. Setelah target ketemu, pertanyaannya bukan "instrumen apa yang hasilnya paling tinggi", melainkan "berapa lama lagi uang ini akan dipakai". OJK Sikapi Uangmu menyebut salah memilih instrumen sebagai salah satu penyebab rencana dana pendidikan gagal, dan bentuk kesalahannya bisa dua arah: instrumen jangka pendek dipakai untuk kebutuhan jangka panjang sehingga hasilnya kurang maksimal, atau sebaliknya.
Logikanya begini. Instrumen yang harganya berfluktuasi butuh waktu untuk pulih ketika nilainya sedang turun. Kalau kamu punya 15 tahun, penurunan di tahun ketiga masih punya banyak waktu untuk berbalik. Kalau kamu hanya punya 2 tahun, penurunan di tahun pertama bisa belum pulih ketika tagihan datang, dan kamu tidak punya pilihan selain mencairkannya dalam kondisi rugi. Waktu adalah bantalan risiko, dan bantalan itu menipis setiap tahun.
| Jarak ke hari pakai | Yang paling penting | Wadah yang lazim dipertimbangkan | Yang wajib disadari |
|---|---|---|---|
| Di bawah 3 tahun | Uang utuh dan siap dicairkan | Tabungan, deposito, reksa dana pasar uang | Imbal hasil terbatas. Simpanan bank dijamin LPS sesuai batas dan syarat, reksa dana tidak |
| 3 sampai 10 tahun | Keseimbangan, tanpa kejutan besar | Kombinasi instrumen pendapatan tetap dan pasar uang | Nilainya tetap bisa naik turun dan tidak dijamin LPS |
| Di atas 10 tahun | Ada waktu untuk pulih | Boleh porsi yang lebih agresif sesuai profil risikomu | Tidak ada jaminan hasil. Nilai bisa turun, bahkan minus |
Tabel itu peta, bukan resep. Untuk kebutuhan jangka pendek, karakter deposito dan reksa dana pasar uang memang dirancang untuk menjaga nilai, bukan melipatgandakannya. Untuk jangka menengah, instrumen berbasis surat utang seperti obligasi punya karakter yang berbeda lagi. Sementara untuk jangka paling panjang, porsi yang lebih agresif masuk akal secara matematis, tetapi tetap tidak ada yang menjamin hasilnya.
OJK menambahkan dua hal praktis. Jangan bergantung pada satu jenis instrumen saja, dan pisahkan rencana dana pendidikan untuk setiap anak, karena kebutuhan dan jangka waktunya berbeda. Pemisahan itu membuat perhitungan setoran bulanan lebih mudah dan evaluasinya lebih jelas. Kalau anakmu masih bayi, OJK bahkan memetakan tahapannya: biaya playgroup dan taman kanak-kanak yang sekitar tiga tahun lagi masuk kategori jangka menengah, begitu pula masuk SD, sementara SMP, SMA, dan kuliah masuk kategori jangka panjang. Satu anak bisa butuh beberapa wadah sekaligus dengan jangka waktu berbeda.
Kenapa mendekati hari H bukan waktunya agresif
Ada anggapan yang perlu diluruskan: menempatkan dana pendidikan di instrumen berfluktuasi tajam saat anak tinggal 2 tahun lagi masuk sekolah sering dianggap sebagai strategi agresif yang berani. Sebenarnya itu bukan strategi, itu risiko nyata yang tidak dibayar dengan apa pun.
Alasannya, kamu sedang mengambil risiko tanpa punya alat untuk menanggungnya. Tanggal pembayaran uang pangkal tidak bisa kamu geser. Sekolah tidak akan menunggu sampai nilai portofoliomu pulih. OJK Sikapi Uangmu menyatakannya tanpa basa-basi untuk porsi investasi di unit link, dan logikanya berlaku umum: nilai investasi dapat naik, turun, bahkan minus. Kalau minusnya kebetulan datang di tahun kamu harus membayar, tidak ada mekanisme apa pun yang menyelamatkan rencana itu.

Karena itu, praktik yang masuk akal adalah menurunkan risiko secara bertahap seiring mendekatnya hari pemakaian. Dana kuliah anak yang masih 15 tahun lagi boleh ditempatkan lebih agresif hari ini. Tetapi ketika tinggal 2 sampai 3 tahun, dana yang sama sebaiknya sudah dipindahkan ke wadah yang menjaga nilai. Yang kamu kejar di tahun-tahun terakhir bukan lagi pertumbuhan, melainkan kepastian bahwa uangnya ada dan utuh saat dibutuhkan.
Kebalikannya juga berlaku dan sama merugikannya. Menaruh dana kuliah yang masih 15 tahun lagi seluruhnya di tabungan biasa berarti membiarkan daya belinya tergerus, sementara biaya sekolah terus naik. Kesalahan ini lebih sunyi karena tidak terlihat sebagai kerugian, tetapi ujungnya sama: target tidak tercapai.
Membaca asuransi pendidikan tanpa ilusi
Asuransi pendidikan adalah produk yang paling sering ditawarkan ketika orang tua bertanya soal dana pendidikan, jadi bagian ini perlu digarap serius. Menurut OJK Sikapi Uangmu, di Indonesia ada dua jenis: asuransi dwiguna (endowment) dan asuransi unit link. Keduanya menggabungkan proteksi jiwa dengan komponen pengembangan dana, dan manfaat proteksinya nyata: kalau orang tua meninggal atau cacat total, biaya pendidikan anak tetap terjamin. Itu nilai yang tidak diberikan tabungan biasa.
Yang perlu kamu pahami adalah mekanisme biayanya, bukan janji brosurnya. Unit link dalam regulasi dikenal sebagai PAYDI (Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi) berdasarkan POJK Nomor 23/POJK.05/2015. Premi yang kamu bayar tidak seluruhnya masuk ke investasi. OJK Sikapi Uangmu menjelaskan bahwa pada tahun pertama biasanya hanya sekitar 20% premi yang ditempatkan untuk investasi, sisanya untuk pembayaran premi asuransi. Porsi investasi naik bertahap sampai sekitar tahun kelima, dan baru pada tahun keenam 100% ditempatkan pada investasi.
Di atas itu ada tumpukan biaya yang OJK rinci sendiri: biaya asuransi, biaya perolehan polis atau akuisisi (termasuk komisi agen), biaya administrasi, biaya pengelolaan dana, biaya pengalihan dana, biaya penarikan, biaya top up, dan biaya penghentian polis. Soal biaya akuisisi, OJK Sikapi Uangmu menulis terang-terangan bahwa jika membeli polis unit link, jangan berharap meraih investasi optimal di lima tahun pertama, karena hasil investasi akan dikurangi biaya akuisisi. Bahkan disebutkan ada produk yang membebankan biaya akuisisi sampai 41% dari setoran premi untuk lima tahun pertama.
Gabungan dua mekanisme itulah yang menjelaskan keluhan klasik "kok nilai tunainya kecil sekali padahal sudah bayar bertahun-tahun". Bukan karena ada yang curang, tetapi karena memang begitu cara kerjanya, dan itu sering tidak dijelaskan dengan cukup jelas saat penawaran. Artikel OJK yang sama menyebut informasi soal risiko dan biaya ini kerap tidak diketahui konsumen karena faktor agen yang kurang menjelaskan.
Lalu apa alternatifnya? OJK Sikapi Uangmu sendiri menyarankan kamu membandingkan lebih dulu: membeli satu paket proteksi plus investasi sekaligus, atau membelinya terpisah. Artikel itu mencatat bahwa dengan memisahkan keduanya, kamu jauh lebih leluasa mengatur keputusan keuangan, bisa mengurangi atau menghentikan investasi tanpa kehilangan perlindungan asuransi. Disebutkan pula bahwa investasi di unit link cenderung tidak tumbuh seoptimal produk investasi terpisah, dengan biaya tinggi sebagai penyebabnya, dan konsumen sulit melacak ke mana dananya diinvestasikan serta biaya apa saja yang timbul.
Jadi pendekatan yang layak dipertimbangkan adalah memisahkan dua kebutuhan yang memang berbeda. Untuk proteksi, pelajari asuransi jiwa murni yang fokus menjual perlindungan dengan premi yang jauh lebih transparan, dan kenali dulu ragam produk asuransi yang ada. Untuk pengembangan dana, pakai instrumen investasi yang kamu pilih sendiri sesuai jangka waktunya, seperti dibahas di bagian sebelumnya. Ini bukan berarti asuransi pendidikan selalu keputusan buruk. Untuk sebagian keluarga, kemudahan satu produk dan disiplin bayar premi punya nilai tersendiri. Yang penting kamu memutuskannya sambil tahu persis biayanya, bukan karena mengira nilai tunainya akan tumbuh seperti tabungan.
Perbedaan mendasarnya juga ditegaskan OJK: asuransi pendidikan diterbitkan perusahaan asuransi dengan fungsi utama proteksi dan cocok untuk tujuan jangka panjang di atas 5 tahun, sedangkan tabungan pendidikan diterbitkan bank, fungsi utamanya simpanan, simpanannya dijamin LPS sehingga risikonya relatif kecil, dan lebih cocok untuk tujuan jangka pendek maupun menengah. Kalau kamu membeli asuransi pendidikan lewat bank, ingat bahwa bank hanya berperan sebagai agen penjual.
Kesalahan yang sering membuat rencana meleset

Selain salah memilih instrumen, OJK Sikapi Uangmu mencatat beberapa jebakan lain yang layak kamu antisipasi sejak awal.
- Berpatokan pada sekolah negeri favorit saja. Banyak orang tua menghitung berdasarkan sekolah negeri karena dananya lebih kecil. Kalau anak ternyata tidak diterima, dibutuhkan dana tambahan besar untuk masuk swasta yang setara kualitasnya. OJK menyarankan menyiapkan dana berdasarkan kemungkinan biaya tertinggi di antara pilihan sekolahmu, supaya kamu tetap punya opsi.
- Menunda karena merasa masih lama. Ini kesalahan yang paling sering terjadi. Padahal dengan mulai sejak dini, dana yang perlu disisihkan tiap bulan justru jauh lebih terjangkau.
- Salah memperkirakan waktu. Perkiraan waktu harus disesuaikan dengan usia anak saat ini, karena tiap jenjang punya jarak waktu berbeda dan menuntut wadah yang berbeda pula.
- Menggabung dana semua anak. Kebutuhan dan jangka waktu tiap anak berbeda, jadi menggabungnya membuat perhitungan kabur dan evaluasi sulit.
- Lupa memperhitungkan biaya kuliah luar negeri secara utuh. Kalau itu targetnya, OJK mengingatkan bahwa selain inflasi biaya pendidikan, kamu perlu memperhitungkan kurs rupiah terhadap mata uang negara setempat dan biaya hidup di sana.
Memulai dari sekarang, sekecil apa pun
Kalau semua uraian di atas terasa berat, ambil langkah kecil dulu. Mulai dengan menelepon atau mendatangi administrasi sekolah incaran dan menanyakan dua hal: berapa total biaya masuk hari ini, dan berapa kebijakan kenaikannya per tahun. Satu percakapan itu mengubah rencanamu dari tebakan menjadi hitungan.
Setelah itu, tentukan jarak waktunya, hitung targetnya dengan rumus di atas, lalu bagi dengan jumlah bulan yang tersisa untuk tahu setoran minimalnya. Kalau angkanya terasa mustahil, itu informasi berharga, bukan kegagalan. Artinya kamu perlu menyesuaikan pilihan sekolah, memperpanjang waktu persiapan, atau menambah pemasukan. Lebih baik tahu sekarang daripada tahu dua bulan sebelum pendaftaran.
Langkah berikutnya bersifat teknis: pisahkan rekening atau produk untuk tiap anak, otomatiskan setorannya setiap kali gajian sebelum uang terpakai untuk hal lain, dan pilih wadahnya sesuai jarak waktu seperti pada tabel tadi. Tinjau ulang minimal setahun sekali, terutama setelah kamu mendapat informasi terbaru dari sekolah. Kebiasaan menyetor otomatis juga bisa kamu bangun dari hal sederhana seperti menabung rutin di bank. Topik keluarga lainnya bisa kamu telusuri di hub keuangan keluarga.
Satu hal terakhir yang perlu ditegaskan. Tidak ada produk yang bisa menjamin biaya pendidikan anakmu akan tertutup, dan siapa pun yang menjanjikan itu sedang menyederhanakan sesuatu yang tidak sederhana. Yang bisa kamu kendalikan hanya tiga: mulai lebih awal, memakai angka yang benar-benar kamu verifikasi ke sekolahnya, dan menaruh uangnya di wadah yang sesuai dengan kapan uang itu akan dipakai. Seluruh isi artikel ini bersifat edukasi dan bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan akhir ada padamu, idealnya setelah kamu membaca dokumen produknya sendiri dan memastikan penerbitnya diawasi OJK.
Kapan waktu terbaik mulai menabung dana pendidikan anak?
Berapa persen kenaikan biaya pendidikan per tahun?
Mana yang lebih dulu, dana darurat atau dana pendidikan?
Apa wadah yang cocok kalau anak masuk sekolah 2 tahun lagi?
Apakah asuransi pendidikan sama dengan tabungan pendidikan?
Kenapa nilai tunai asuransi pendidikan unit link kecil di tahun-tahun awal?
Perlukah dana pendidikan tiap anak dipisah?
Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.
Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab
Sumber
OJK Sikapi Uangmu - Asuransi Pendidikan Menjaga Masa DepanDana pendidikanOJK Sikapi Uangmu - Salah Merencanakan Dana Pendidikan, Apa Penyebabnya?Kesalahan perencanaanOJK Sikapi Uangmu - Ayo Pahami Risiko Unit Link!Biaya unit linkOJK Sikapi Uangmu - Jeli Memilih Unit-LinkAlokasi premiOJK Sikapi Uangmu - Teliti Sebelum Membeli! Kenali Asuransi Unit LinkPAYDI dan biayanyaOJK Sikapi Uangmu - Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan Beda Loh!Asuransi vs tabunganOJK Sikapi Uangmu - Tidak Ada Kata Terlambat untuk Dana DaruratDana daruratBPS - Inflasi Year-on-Year Juni 2026 sebesar 3,34 PersenInflasi umumBPS - Inflasi Tahunan (Y-on-Y) Menurut Kelompok dan Sub Kelompok 09 PendidikanInflasi pendidikanSetiap angka dan klaim di artikel ini dirujuk ke sumber resmi di atas beserta tanggalnya.
Panduan lain yang berkaitan.
Asuransi Jiwa Adalah: Pengertian, Jenis, dan Siapa yang Butuh (Panduan Pemula)
Jenis Asuransi di Indonesia: Panduan Dasar Fungsi, Istilah, dan Cara Kerjanya
Aturan 50/30/20: Cara Memakainya dan Kapan Porsinya Perlu Disesuaikan
Masih ada yang ingin ditanyakan soal keuangan keluarga? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.
Tanya via WhatsApp