Lompat ke konten
Reksadana

Reksadana vs Deposito: Tabel Jaminan, Pajak, Pencairan, dan Cocok untuk Siapa

Jawaban singkat

Deposito adalah simpanan bank berjangka yang dijamin LPS sampai Rp2 miliar per nasabah per bank, dengan bunga yang dipotong pajak final 20%. Reksadana adalah produk pasar modal yang nilainya naik turun dan tidak dijamin LPS, tetapi keuntungannya bukan objek pajak bagi pemegang unit. Pilihan yang cocok bergantung pada kebutuhan kepastian, jangka waktu, dan kesiapanmu menerima fluktuasi.

Tim Redaksi Uang Bijak12 menit bacaDitinjau Ahmad Thariq Syauqi
Toples kaca bertutup merah berisi tumpukan koin dan selembar uang kertas terlipat, dengan satu koin diselipkan di celah tutupnya dan krayon warna-warni di sampingnya
Deposito menjual kepastian dan reksadana menjual peluang, jadi pilihan yang tepat bergantung pada kapan uang yang kamu kumpulkan akan dipakai. Foto: stevepb / Wikimedia Commons, CC0

Membandingkan reksadana vs deposito paling jujur dimulai dari satu pertanyaan: kamu butuh kepastian atau butuh peluang? Deposito adalah simpanan bank berjangka dengan bunga yang disepakati di awal dan dijamin LPS sampai Rp2 miliar per nasabah per bank. Reksadana adalah produk pasar modal yang dikelola manajer investasi, nilainya bisa naik dan turun, dan tidak dijamin LPS. Dari perbedaan itu lahir perbedaan pajak, kecepatan pencairan, dan risiko yang kami rangkum dalam tabel di bawah.

Semua angka di halaman ini diambil dari situs resmi LPS, Direktorat Jenderal Pajak, Bursa Efek Indonesia, dan OJK, diakses 1 Oktober 2026. Ketentuan bisa berubah, jadi cocokkan lagi dengan sumber yang ditautkan sebelum menempatkan dana.

Ruang bawah tanah bekas gedung bank dengan dinding penuh deretan kotak penyimpanan logam di kedua sisi dan pintu jeruji yang terbuka di tengah
Deposito bekerja seperti simpanan yang dikunci untuk jangka waktu tertentu dengan bunga yang disepakati di awal, sedangkan nilai reksadana bisa naik dan turun. Foto: Photo by Joe Mabel / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Tabel perbandingan reksadana dan deposito

Tabel ini membandingkan deposito rupiah di bank umum dengan reksadana secara umum. Karena reksadana punya beberapa jenis dengan risiko berbeda, baris jenis dan isi portofolio menyebut porsi resminya.

KriteriaDepositoReksadanaSumber, diakses 1 Okt 2026
Jenis produkSimpanan bank berjangkaUnit penyertaan dana bersama, produk pasar modalLPS, IDX
Penjaminan LPSDijamin sampai Rp2 miliar per nasabah per bankBukan simpanan bank, jadi di luar objek penjaminanLPS Kalkulator 3T, LPS FAQ: LPS hanya menjamin simpanan bank (tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito)
Batas bunga agar dijamin3,75% untuk rupiah bank umum, 6,25% untuk BPR (1 Okt 2026 sampai 31 Jan 2027)Tidak berlakuLPS
Kepastian hasilBunga disepakati di awalNilai aktiva bersih naik turun mengikuti efekIDX
Pajak atas hasilPPh final 20% atas bungaKeuntungan bukan objek pajak bagi pemegang unitDJP PP 131/2000, DJP
Pengecualian pajakTidak dipotong bila deposito dan tabungan tidak melebihi Rp7.500.000Tidak relevanDJP PP 131/2000
PencairanSaat jatuh tempo, pencairan awal mengikuti aturan bankDibayar paling lambat 7 hari bursa setelah perintah lengkapPOJK 23/2016 Pasal 24
Isi portofolioUangmu sendiri di satu bankPasar uang: hanya efek utang di bawah 1 tahun. Pendapatan tetap: minimal 80% efek utang. Saham: minimal 80% efek ekuitasIDX
Siapa yang mengelolaBankManajer investasiIDX
Nilai pokok bisa turun karena pasarTidak, bunga disepakati di awal dan tidak ikut harga pasarBisa, nilai aktiva bersih mengikuti harga efekIDX
Poin kunci: deposito dan reksadana bukan dua versi dari produk yang sama. Yang satu simpanan dengan kepastian bunga dan penjaminan, yang lain investasi dengan nilai yang bergerak. Membandingkan keduanya hanya dari angka imbal hasil di iklan selalu menyesatkan, karena risikonya tidak setara.

Jaminan LPS: garis pemisah paling tegas

Perbedaan yang paling menentukan ada di penjaminan. Menurut LPS, yang dijamin adalah simpanan nasabah bank yang berbentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. Kalkulator 3T LPS menyebut batasnya Rp2 miliar per nasabah per bank. Kalau totalmu di satu bank melebihi Rp2 miliar, LPS hanya menjamin sampai jumlah itu, dan sisanya diselesaikan lewat proses likuidasi.

Penjaminan itu punya syarat yang sering terlupa, yaitu syarat 3T: simpanan tercatat dalam pembukuan bank, tingkat bunganya tidak melebihi tingkat bunga penjaminan, dan nasabah tidak melakukan tindakan yang merugikan bank. Untuk periode 1 Oktober 2026 sampai 31 Januari 2027, tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum adalah 3,75%, simpanan valuta asing 2%, dan simpanan rupiah di BPR 6,25%.

Bagian berikut yang paling penting: LPS menegaskan bahwa kalau nasabah memperoleh bunga melebihi batas itu, simpanannya tidak dijamin secara keseluruhan, baik pokok maupun bunga. Jadi deposito dengan bunga promosi yang jauh di atas 3,75% di bank umum bukan sekadar "lebih untung", ia juga keluar dari jaring pengaman. Penjelasan lengkapnya ada di artikel deposito adalah.

Reksadana berada di luar seluruh skema ini. Walaupun kamu membelinya lewat aplikasi bank, yang kamu pegang adalah unit penyertaan, bukan simpanan bank. Perlindungannya datang dari bentuk lain, yaitu pengawasan OJK dan kewajiban manajer investasi mengelola dana sesuai kebijakan yang tertulis di prospektus. Itu perlindungan dari penyalahgunaan, bukan perlindungan dari turunnya harga.

Praktisnya, sebelum menempatkan deposito, ada tiga hal sederhana yang bisa kamu cek sendiri. Pertama, pastikan banknya peserta penjaminan LPS. Kedua, bandingkan bunga yang ditawarkan dengan tingkat bunga penjaminan periode berjalan. Ketiga, jumlahkan seluruh simpananmu di bank yang sama, karena batas Rp2 miliar berlaku per nasabah per bank, bukan per rekening. Kalau dananya melebihi batas, menyebarnya ke beberapa bank adalah cara yang umum dipakai agar seluruhnya tetap dalam cakupan penjaminan.

Untuk reksadana, pemeriksaan yang setara adalah memastikan manajer investasi dan agen penjualnya terdaftar di OJK, membaca prospektus, dan memahami jenis efek yang dibeli. Pemeriksaan ini tidak menghilangkan risiko harga, tetapi memastikan kamu berurusan dengan lembaga yang diawasi dan produk yang jelas aturannya.

Pajak: yang dipotong di depan dan yang sudah dibayar di dalam

Bunga deposito dipotong pajak sebelum sampai ke rekeningmu. Berdasarkan PP Nomor 131 Tahun 2000, bunga deposito dan tabungan dikenakan pajak final sebesar 20% dari jumlah bruto untuk wajib pajak dalam negeri. Pengecualiannya, pajak tidak dipotong bila jumlah deposito dan tabungan tidak melebihi Rp7.500.000.

Reksadana bekerja berbeda. Menurut artikel Direktorat Jenderal Pajak, keuntungan yang diperoleh dari reksa dana tidak termasuk objek pajak, merujuk UU PPh Pasal 4 ayat 3. Alasannya, pajak atas hasil investasi sudah dikenakan pada level portofolio reksa dana, sehingga investor sebenarnya sudah menanggungnya secara tidak langsung. Meski begitu, DJP mengingatkan bahwa investasi tetap wajib dilaporkan di SPT Tahunan.

Contoh hitungan (angka ilustrasi, bukan bunga bank tertentu): deposito Rp10.000.000 dengan bunga 3% per tahun menghasilkan bunga kotor Rp300.000 setahun. Setelah dipotong pajak final 20%, bunga bersihnya Rp240.000, setara 2,4% per tahun. Cara menghitung untuk tenor bulanan ada di panduan cara hitung bunga deposito.

Jangan berhenti di pajak. Bebas pajak di tangan investor tidak berarti reksadana pasti memberi hasil lebih tinggi. Hasil bersih reksadana sudah dikurangi biaya pengelolaan dan biaya lain yang tercantum di prospektus, dan bisa negatif kalau nilai efeknya turun. Pajak hanyalah satu baris dalam perbandingan, bukan penentu tunggal.

Ada satu catatan tambahan untuk penabung dengan saldo kecil. Karena pengecualian pajak PP Nomor 131 Tahun 2000 dihitung dari jumlah deposito dan tabungan yang tidak melebihi Rp7.500.000, saldo kecil bisa saja tidak dipotong pajak bunga sama sekali. Begitu jumlahnya melewati batas itu, potongan 20% berlaku atas bunga bruto. Jadi untuk saldo kecil, selisih perlakuan pajak antara deposito dan reksadana bisa jauh lebih tipis daripada yang sering digambarkan.

Gedung Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kebumen beratap genteng merah dengan papan nama hitam bertuliskan nama kantor di halaman depan
Pajak deposito dipotong langsung dari bunga, sedangkan pajak di reksadana sudah diperhitungkan di dalam nilai unitnya, jadi bandingkan hasil bersihnya. Foto: DARMAS SB / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Pencairan dana dan jangka waktu

Deposito dirancang dengan tanggal jatuh tempo. Kamu menyepakati tenor di awal, dan bunga penuh dibayar kalau dana dibiarkan sampai jatuh tempo. Pencairan sebelum tanggal itu umumnya bisa dilakukan, tetapi bank dapat mengenakan penalti atau memotong bunga sesuai ketentuan produknya. Besarnya berbeda di tiap bank, jadi baca syarat produk sebelum menempatkan dana. Bentuk bukti kepemilikannya kami jelaskan di artikel bilyet deposito.

Reksadana tidak punya tanggal jatuh tempo. Kamu bisa menjual kembali unit kapan saja pada hari bursa, dan POJK Nomor 23/POJK.04/2016 Pasal 24 mewajibkan pembayaran dilakukan paling lambat 7 hari bursa sejak perintah penjualan kembali diterima manajer investasi secara lengkap. Dalam praktik banyak yang lebih cepat, tetapi batas hukumnya adalah 7 hari bursa.

Masalahnya, fleksibilitas reksadana dibayar dengan ketidakpastian nilai. Kamu bebas menjual kapan saja, tetapi kamu tidak bisa memilih harga. Kalau nilai aktiva bersih sedang turun tepat ketika kamu butuh uang, kerugiannya terealisasi. Deposito sebaliknya: kurang fleksibel soal waktu, tetapi nominalnya tidak turun karena gejolak pasar.

Ada juga perbedaan kecil yang terasa dalam keseharian. Deposito biasanya bisa diperpanjang otomatis saat jatuh tempo, sehingga dana yang lupa kamu urus akan terus berputar dengan bunga yang berlaku saat perpanjangan. Reksadana tidak punya mekanisme perpanjangan karena memang tidak ada tanggal jatuh tempo, jadi dana tetap berada di sana sampai kamu memutuskan menjualnya. Keduanya menuntut disiplin yang berbeda: deposito menuntut kamu mengingat tanggal, reksadana menuntut kamu tenang saat nilainya bergerak.

Karena itu, untuk dana darurat yang bisa dibutuhkan kapan saja, pertimbangkan instrumen yang nilainya stabil dan mudah dicairkan. Untuk tujuan dengan tanggal jelas, deposito dengan tenor yang pas sering lebih tenang. Untuk tujuan yang masih bertahun-tahun lagi, reksadana memberi ruang lebih luas.

Reksadana pasar uang: tetangga terdekat deposito

Kalau kamu sedang membandingkan deposito dengan reksadana, kemungkinan besar yang ada di pikiranmu adalah reksadana pasar uang. Menurut Bursa Efek Indonesia, reksadana pasar uang hanya berinvestasi pada efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun, dengan tujuan menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal. Isinya bisa mencakup deposito dan surat utang jangka pendek.

Karena itu reksadana pasar uang sering disebut "mirip deposito", tetapi tiga hal tetap berbeda. Pertama, kamu memegang unit reksadana, bukan deposito atas namamu, sehingga tidak ada penjaminan LPS. Kedua, nilainya tetap bisa berubah walaupun biasanya pergerakannya kecil. Ketiga, hasilnya tidak disepakati di awal, melainkan mengikuti kinerja portofolio setelah biaya.

Di atas pasar uang ada reksadana pendapatan tetap, yang menurut IDX menempatkan sekurang-kurangnya 80% asetnya pada efek bersifat utang dan risikonya relatif lebih besar dari pasar uang. Lalu ada reksadana saham dengan minimal 80% pada efek bersifat ekuitas dan risiko lebih tinggi lagi. Semakin jauh dari pasar uang, semakin jauh pula karakternya dari deposito. Ulasan lengkapnya ada di reksadana pasar uang dan reksadana adalah.

Waspada: produk yang mengaku reksadana tetapi menjanjikan imbal hasil tetap per bulan patut dicurigai. Reksadana yang wajar tidak bisa menjanjikan hasil pasti. Pastikan manajer investasi dan agen penjualnya terdaftar di OJK sebelum menyetor dana.

Simulasi sederhana: melihat dua cara kerja yang berbeda

Supaya perbedaannya terasa nyata, bayangkan dua orang yang sama-sama menyisihkan Rp10.000.000 selama satu tahun. Angka di bagian ini sengaja ilustrasi, bukan bunga bank tertentu dan bukan kinerja reksadana tertentu, karena keduanya berubah setiap waktu.

Orang pertama menaruh dananya di deposito bertenor 12 bulan dengan bunga 3% per tahun, di bawah batas penjaminan LPS untuk bank umum. Sejak hari pertama ia sudah tahu hasilnya: bunga kotor Rp300.000, dipotong pajak final 20% menjadi Rp240.000. Di akhir tahun saldonya Rp10.240.000, dan selama setahun itu ia tidak perlu memantau apa pun.

Orang kedua membeli reksadana. Ia tidak tahu hasil akhirnya di hari pertama. Kalau nilai aktiva bersih per unit naik 4% dalam setahun setelah biaya, nilainya menjadi Rp10.400.000 tanpa potongan pajak di tangannya. Kalau nilai itu turun 2%, nilainya menjadi Rp9.800.000. Keduanya mungkin terjadi, dan tidak ada pihak yang menjamin salah satunya.

Skenario ilustrasiHasil akhir setahunKepastian di awal
Deposito, bunga 3%, pajak 20%Rp10.240.000Pasti, selama syarat penjaminan terpenuhi
Reksadana, nilai naik 4% setelah biayaRp10.400.000Tidak pasti
Reksadana, nilai turun 2% setelah biayaRp9.800.000Tidak pasti

Tabel ini bukan perkiraan, melainkan cara berpikir. Pelajarannya: reksadana bisa unggul dan bisa tertinggal, sedangkan deposito memberi angka yang bisa kamu rencanakan. Pertanyaannya bukan mana yang lebih tinggi di atas kertas, melainkan apakah kamu sanggup menerima baris ketiga ketika dana itu sudah dijadwalkan untuk dipakai.

Kesalahan umum saat membandingkan reksadana dan deposito

Membandingkan imbal hasil kotor dengan imbal hasil bersih. Iklan deposito biasanya menampilkan bunga sebelum pajak, sementara kinerja reksadana biasanya ditampilkan setelah biaya. Bandingkan keduanya dalam bentuk yang sama, yaitu hasil bersih yang benar-benar sampai ke tanganmu.

Mengira semua yang dibeli di bank dijamin LPS. Bank juga menjadi agen penjual reksadana dan produk lain. Yang dijamin LPS hanya simpanan, sedangkan reksadana yang dibeli di aplikasi bank tetap produk pasar modal tanpa penjaminan.

Mengejar bunga deposito tertinggi tanpa melihat batas LPS. Bunga yang jauh di atas tingkat bunga penjaminan memang menggoda, tetapi konsekuensinya simpanan itu tidak dijamin sama sekali. Perbandingan bunga antarbank kami bahas di artikel bunga deposito tertinggi.

Memilih jenis reksadana yang tidak sesuai jangka waktu. Reksadana saham untuk dana yang akan dipakai tiga bulan lagi sama berisikonya dengan menaruh uang belanja di pasar saham. Cocokkan jenis reksadana dengan jarak waktu tujuanmu.

Melupakan biaya di dalam reksadana. Biaya pengelolaan dan biaya lain dibebankan ke dana dan sudah tercermin dalam nilai aktiva bersih. Biaya itu tetap berjalan walaupun nilai reksadana sedang turun, jadi baca bagian biaya di prospektus sebelum membeli.

Reksadana cocok untuk siapa, deposito cocok untuk siapa?

Setelah melihat tabel dan uraian di atas, pertanyaannya bergeser dari "mana yang lebih untung" menjadi "dana ini untuk apa dan kapan dipakai".

Deposito cenderung lebih cocok kalau kamu butuh kepastian nominal pada tanggal tertentu, misalnya biaya sekolah tahun depan atau uang muka yang jadwalnya sudah jelas. Deposito juga cocok kalau kamu tidak nyaman melihat nilai simpanan turun walau sementara, dan kamu ingin perlindungan penjaminan LPS selama bunganya di bawah batas. Konsekuensinya, hasil bersihnya terbatas setelah pajak 20%, dan pencairan sebelum jatuh tempo bisa terkena penalti.

Reksadana cenderung lebih cocok kalau jangka waktu tujuanmu lebih panjang, kamu siap menerima nilai yang naik turun, dan kamu ingin fleksibilitas menjual kapan saja pada hari bursa. Jenisnya bisa disesuaikan dengan jangka waktu: pasar uang untuk yang pendek, pendapatan tetap atau saham untuk yang lebih panjang. Konsekuensinya, tidak ada penjaminan LPS dan tidak ada hasil yang pasti.

Memakai keduanya juga wajar. Deposito bisa menjadi tempat dana dengan tanggal pakai yang jelas, sementara reksadana menjadi tempat dana untuk tujuan jangka panjang. Kalau kamu sedang menimbang reksadana dengan saham, baca juga reksadana atau saham. Pilihan jenis reksadana lain ada di halaman reksadana, dan dasar menabung di bank ada di halaman menabung.

Langkah sebelum memutuskan

  1. Tulis tujuan dan tanggal pakainya. Dana yang dipakai kurang dari setahun lagi berbeda kebutuhannya dengan dana untuk lima tahun lagi.
  2. Pastikan dana darurat terpisah. Jangan mencampur dana darurat dengan dana investasi.
  3. Untuk deposito, cek bunganya terhadap batas LPS. Bunga di atas 3,75% untuk rupiah di bank umum pada periode ini berarti simpanannya tidak dijamin.
  4. Untuk reksadana, baca prospektus dan fund fact sheet. Lihat jenis, kebijakan investasi, dan biayanya.
  5. Bandingkan hasil bersih. Hitung bunga deposito setelah pajak 20%, dan lihat kinerja reksadana setelah biaya, dengan sadar bahwa kinerja masa lalu tidak menjamin hasil ke depan.
  6. Gunakan lembaga berizin. Bank peserta penjaminan LPS untuk deposito, manajer investasi dan agen penjual terdaftar OJK untuk reksadana.
Disclaimer: artikel ini bersifat edukasi dan bukan saran investasi, ajakan, maupun rekomendasi untuk membeli produk keuangan tertentu. Nilai reksadana dapat naik dan turun, dan kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Angka penjaminan, pajak, dan ketentuan pencairan dikutip dari sumber resmi per 1 Oktober 2026 dan dapat berubah, jadi cek kembali sebelum menempatkan dana.
Dua jam pasir, satu berisi pasir abu-abu dan satu berisi cairan kuning, berdiri di rak kayu putih di samping kotak kuning dan wadah logam kecil
Jangka waktu kapan uangmu akan dipakai lebih menentukan pilihan antara reksadana dan deposito daripada besar imbal hasil di brosur. Foto: Aaaatu / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa beda reksadana dan deposito secara sederhana?
Deposito adalah simpanan di bank dengan jangka waktu tertentu dan bunga yang disepakati di awal. Reksadana adalah wadah dana bersama yang dikelola manajer investasi dan diinvestasikan ke efek seperti surat utang atau saham. Deposito memberi kepastian bunga dan penjaminan LPS, sedangkan nilai reksadana bergerak mengikuti harga efek di dalamnya.
Apakah reksadana dijamin LPS seperti deposito?
Tidak. LPS menjamin simpanan nasabah bank yang berbentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan. Reksadana adalah produk pasar modal, bukan simpanan bank, sehingga tidak masuk cakupan penjaminan LPS walaupun dibeli lewat aplikasi bank.
Berapa batas deposito yang dijamin LPS?
LPS menjamin simpanan sampai Rp2 miliar per nasabah per bank. Syaratnya, bunga simpananmu tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS. Untuk simpanan rupiah di bank umum, tingkat itu 3,75% pada periode 1 Oktober 2026 sampai 31 Januari 2027. Kalau bunganya melebihi batas itu, simpanannya tidak dijamin sama sekali.
Mana yang pajaknya lebih ringan, reksadana atau deposito?
Bunga deposito dipotong PPh final 20% untuk wajib pajak dalam negeri, kecuali jumlah deposito dan tabungan tidak melebihi Rp7.500.000 sesuai PP Nomor 131 Tahun 2000. Keuntungan reksadana bukan objek pajak bagi pemegang unit karena pajaknya sudah dikenakan di level portofolio. Tetapi pajak hanya satu faktor, hasil bersih tetap bergantung pada kinerja reksadananya.
Berapa lama dana reksadana cair dibanding deposito?
Menurut POJK Nomor 23/POJK.04/2016, pembayaran penjualan kembali unit reksadana dilakukan paling lambat 7 hari bursa sejak perintah diterima lengkap. Deposito dirancang untuk dicairkan saat jatuh tempo. Pencairan sebelum jatuh tempo mungkin dikenai penalti sesuai ketentuan masing-masing bank, jadi cek syaratnya sebelum menempatkan dana.
Apakah reksadana pasar uang sama dengan deposito?
Tidak sama. Reksadana pasar uang hanya berinvestasi pada efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun, dan isinya bisa termasuk deposito. Tetapi kamu memegang unit reksadana, bukan deposito atas namamu, sehingga nilainya bisa berubah dan tidak dijamin LPS.
Lebih baik reksadana atau deposito untuk pemula?
Tidak ada jawaban tunggal, dan artikel ini tidak menganjurkan salah satu. Deposito lebih masuk akal untuk dana yang butuh kepastian nilai dan tanggal pakai yang jelas. Reksadana lebih masuk akal untuk tujuan yang jangka waktunya lebih panjang dan bisa menerima nilai turun sementara. Banyak orang memakai keduanya untuk tujuan berbeda.
Tentang penulis
Tim Redaksi Uang Bijak
Redaksi Editorial · Profil & kredensial

Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.

Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab

Masih ada yang ingin ditanyakan soal reksadana? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.

Tanya via WhatsApp