Lompat ke konten
Menabung

Deposito BSI: Akad, Cara Buka, dan Hal yang Perlu Dicek

Panduan deposito BSI: akad mudharabah, nisbah bagi hasil per tenor, setoran minimum, penjaminan LPS sampai Rp2 miliar, pajak, dan cara membukanya.

Tim Redaksi Uang Bijak12 menit bacaDitinjau Ahmad Thariq Syauqi
Buku tabungan hijau, dokumen deposito pada papan jalan, pena, dan tumpukan koin di atas meja kayu

Deposito BSI sering jadi pintu masuk orang yang ingin menyimpan dana berjangka tanpa meninggalkan prinsip syariah. Bank Syariah Indonesia menawarkan simpanan berjangka dengan akad mudharabah, artinya hasil yang kamu terima berasal dari bagi hasil pengelolaan dana, bukan dari bunga yang dijanjikan tetap di muka. Perbedaan akad ini bukan sekadar ganti istilah: cara menghitung hasil, cara membacanya di penawaran, sampai cara membandingkannya dengan produk bank lain ikut berubah. Artikel ini membedah fitur resminya satu per satu, menunjukkan cara menghitung perkiraan hasil dengan asumsi yang jujur, dan menutupnya dengan daftar periksa sebelum kamu menempatkan dana.

Sebelum masuk ke detail, pastikan dulu konsep dasarnya kokoh. Kalau kamu belum akrab dengan cara kerja simpanan berjangka secara umum, baca dulu deposito, karena semua prinsip dasarnya, dari tenor sampai jatuh tempo, berlaku juga di sini.

Apa itu deposito BSI dan akad yang dipakainya

Menurut halaman produk resminya, BSI Deposito Rupiah adalah simpanan berjangka yang dikelola dengan akad mudharabah, ditujukan bagi nasabah perorangan dan perusahaan dalam mata uang rupiah, dengan pilihan jangka waktu 1, 3, 6, dan 12 bulan. BSI sendiri berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia, dan tercatat sebagai peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan.

Akad mudharabah berarti kamu menempatkan dana untuk dikelola bank, lalu pendapatan dari pengelolaan itu dibagi antara kamu dan bank menurut porsi yang disepakati di awal. Porsi itulah yang disebut nisbah. Di sinilah letak perbedaan paling mendasar dengan deposito konvensional: yang disepakati di muka bukan besaran hasilnya, melainkan cara membaginya. Kalau pendapatan pengelolaan sedang tinggi, hasil yang kamu terima ikut naik, dan sebaliknya.

Konsekuensi praktisnya, kamu tidak akan menemukan janji persentase hasil tetap di dokumen deposito BSI. Yang tercantum adalah nisbah, misalnya 25% untuk nasabah berbanding 75% untuk bank. Angka hasil final baru diketahui setelah periode berjalan, mengikuti kinerja pengelolaan dana bank. Pola pikir ini mirip dengan memahami imbal hasil yang naik turun di reksadana pasar uang, meskipun mekanisme dan risikonya berbeda.

Kenapa bank syariah repot-repot memakai struktur ini? Karena dalam prinsip syariah, imbalan tetap yang diperjanjikan di muka atas simpanan uang tergolong bunga, dan bunga itulah yang dihindari. Mudharabah menggantinya dengan kemitraan: kamu pemilik dana, bank pengelola, dan hasil usahanya dibagi menurut kesepakatan. Struktur yang sama membuat laporan hasil deposito syariah dibaca berbeda: alih-alih satu persentase tetap, kamu akan melihat realisasi bagi hasil yang diumumkan bank dari waktu ke waktu. Banyak bank menyajikannya dalam bentuk angka setara persentase per tahun supaya mudah dibandingkan, tetapi status angkanya tetap realisasi masa lalu, bukan janji masa depan.

Perlu dicatat juga, BSI memiliki beberapa produk simpanan berjangka. Artikel ini membahas BSI Deposito Rupiah untuk umum. Di daftar produk resminya ada pula deposito dalam skema lain seperti deposito wakaf, yang tujuannya berbeda dan perlu dipelajari terpisah lewat halaman resminya.

Catatan: bagi hasil bukan berarti hasilnya misterius. Bank syariah mengumumkan realisasi bagi hasil secara berkala, dan kamu berhak bertanya berapa realisasi periode-periode terakhir sebelum menempatkan dana. Yang tidak ada hanyalah janji angka pasti di depan.

Nisbah bagi hasil deposito BSI per tenor

Halaman resmi BSI mencantumkan nisbah untuk tiap tenor, dibedakan menurut nominal penempatan. Berikut angka yang tercantum saat artikel ini ditulis, dengan format nisbah nasabah berbanding nisbah bank.

TenorDi bawah Rp1 miliarRp1 miliar sampai di bawah Rp5 miliarRp5 miliar ke atas
1 bulan25% : 75%26% : 74%29% : 71%
3 bulan25% : 75%26% : 74%29% : 71%
6 bulan26% : 74%27% : 73%29% : 71%
12 bulan26% : 74%27% : 73%29% : 71%

Tiga hal layak dibaca dari tabel itu. Pertama, tenor panjang diberi nisbah sedikit lebih tinggi, pola yang sama dengan deposito pada umumnya karena bank lebih leluasa mengelola dana yang menetap lama. Kedua, nominal besar mendapat porsi lebih besar, jadi penabung kakap dihargai lebih. Ketiga, dan ini paling penting, angka nisbah bukan angka hasil. Nisbah 25% tidak berarti kamu menerima 25% per tahun dari uangmu; itu porsi kamu atas pendapatan pengelolaan yang besarnya berubah-ubah.

Angka nisbah di atas bisa direvisi bank sewaktu-waktu. Jadikan tabel ini gambaran struktur, bukan patokan mati, dan cek halaman resmi BSI untuk angka periode berjalan. Kebiasaan memverifikasi angka ke sumber resmi sebelum memutuskan adalah kebiasaan yang sama yang kami tekankan di bunga deposito tertinggi untuk produk konvensional.

Untuk membandingkan penawaran antar bank syariah, bandingkan realisasi bagi hasil beberapa periode terakhir untuk tenor dan nominal yang sama, bukan hanya angka nisbahnya. Nisbah tinggi atas pendapatan pengelolaan yang kecil bisa saja menghasilkan lebih sedikit daripada nisbah sedang atas pendapatan yang besar.

Jam pasir dengan pasir mengalir di samping tiga tumpukan koin yang meninggi
Tenor menentukan nisbah: dana yang menetap lebih lama diberi porsi bagi hasil lebih besar

Menghitung perkiraan hasil: contoh berlabel asumsi

Karena hasil mudharabah mengikuti pendapatan pengelolaan bank, satu-satunya cara jujur membuat ilustrasi adalah memakai asumsi yang dinyatakan terbuka. Ilustrasi berikut memakai asumsi tingkat imbalan setara 4% per tahun. Tegaskan sekali lagi: 4% ini asumsi untuk ilustrasi perhitungan, bukan angka dari BSI, bukan janji, dan realisasinya bisa lebih rendah atau lebih tinggi.

Misal kamu menempatkan Rp10.000.000 pada tenor 3 bulan, dan perhitungan disederhanakan per dua belas bulan sama besar. Dengan asumsi imbalan setara 4% per tahun, perkiraan bagi hasil sebulan adalah Rp10.000.000 dikali 4% dibagi 12, yaitu sekitar Rp33.333 sebelum pajak. Pajak penghasilan final atas penghasilan dari deposito adalah 20% dari jumlah bruto sesuai PP Nomor 131 Tahun 2000, sehingga potongannya sekitar Rp6.667 dan yang mendarat di rekeningmu sekitar Rp26.667 per bulan. Selama tenor 3 bulan, perkiraan totalnya sekitar Rp80.000 bersih, dengan catatan realisasi tiap bulan bisa berbeda.

Perlu diketahui, definisi deposito dalam aturan pajak itu mencakup deposito dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang ditempatkan pada bank, dan pemotongan dilakukan langsung oleh bank sebelum hasil dibayarkan. Jadi angka yang kamu terima sudah bersih, dan kamu bisa melihat rinciannya di catatan transaksi rekening. Teknik menghitung yang lebih rinci, termasuk cara kerja hari bunga pada produk konvensional, dibahas di cara hitung bunga deposito.

Supaya terasa untuk nominal yang lebih besar, ulangi hitungan yang sama untuk Rp50.000.000 pada tenor 12 bulan, masih dengan asumsi imbalan setara 4% per tahun yang sama dan sekali lagi hanya sebagai ilustrasi. Perkiraan bagi hasil sebulan sebelum pajak adalah Rp50.000.000 dikali 4% dibagi 12, sekitar Rp166.667. Setelah potongan pajak final 20%, sekitar Rp133.333 per bulan, atau kira-kira Rp1.600.000 selama setahun penuh. Dua ilustrasi ini sengaja memakai asumsi yang sama supaya kamu melihat polanya: hasil bergerak proporsional terhadap nominal dan waktu, sedangkan variabel yang tidak bisa dikunci adalah tingkat realisasinya.

Dari sini juga kelihatan cara memakai ilustrasi dengan benar: perlakukan sebagai alat menguji rencana, bukan ramalan. Kalau target hasilmu hanya tercapai dengan asumsi imbalan yang jauh di atas realisasi beberapa periode terakhir, rencananya yang perlu direvisi, bukan asumsinya yang dinaikkan. Lebih baik menabung lebih besar daripada berharap pada angka yang tidak dijanjikan siapa pun; teknik menyusunnya bisa kamu mulai dari cara menabung.

Satu jebakan yang sering terjadi: membandingkan ilustrasi bagi hasil bank syariah dengan bunga tetap bank konvensional seolah keduanya setara. Keduanya baru bisa dibandingkan setelah kamu menyamakan asumsi, tenor, nominal, dan pajak, lalu tetap mengingat bahwa satu angka bersifat realisasi berubah-ubah dan satu lagi janji tetap. Pemahaman tentang arah pergerakan imbal hasil simpanan secara umum bisa kamu tambah dari suku bunga deposito.

Penting: waspadai siapa pun yang menjanjikan angka pasti untuk produk bagi hasil. Janji semacam itu bertentangan dengan cara kerja akadnya sendiri, dan biasanya datang dari pihak yang sedang menjual sesuatu, bukan dari dokumen resmi bank.

Setoran minimum, ARO, dan fitur lain yang perlu dipahami

Dari halaman resminya, setoran awal minimal deposito BSI adalah Rp2.000.000, dengan rekening sumber berupa tabungan atau giro BSI. Artinya kamu perlu membuka rekening BSI lebih dulu bila belum punya, baru menempatkan deposito dari rekening itu. Sebagai penanda kepemilikan, BSI menerbitkan bilyet deposito. Apa saja fungsi dokumen ini dan kenapa harus disimpan baik-baik, penjelasannya ada di bilyet deposito.

Fitur berikutnya yang wajib dipahami adalah perpanjangan otomatis alias ARO, Automatic Roll Over. BSI menyediakan tiga mode. Pertama, ARO pokok: saat jatuh tempo, pokok diperpanjang otomatis ke tenor yang sama, sedangkan bagi hasil dikirim ke rekening sumber. Kedua, ARO pokok plus bagi hasil: pokok dan bagi hasil sama-sama digulung menjadi penempatan baru, cocok untuk yang ingin efek menggulung tanpa repot. Ketiga, non-ARO: deposito berhenti di tanggal jatuh tempo dan dananya kembali ke rekening sumber.

Pilihan mode ini kelihatan sepele tapi menentukan perilaku uangmu berbulan-bulan ke depan, dan salah pilih di awal sering baru ketahuan setelah beberapa kali jatuh tempo terlewat begitu saja. Non-ARO yang terlupa bisa membuat dana menganggur di rekening tanpa hasil, sementara ARO yang tidak disadari bisa membuat dana terkunci lagi persis ketika kamu membutuhkannya. Tentukan modenya secara sadar saat membuka, dan catat tanggal jatuh tempo di pengingat ponselmu.

Untuk pemantauan, halaman resmi menyebut fasilitas kanal elektronik Byond by BSI dan BSI Net dalam kapasitas inquiry, artinya melihat posisi deposito. Urusan penempatan dan pencairan sebaiknya kamu konfirmasi langsung ke cabang atau kanal layanan resmi BSI, termasuk lewat BSI Call di 14040 yang tercantum di situsnya.

Perlindungan LPS untuk deposito BSI

Halaman resmi BSI menutup informasinya dengan pernyataan penting: BSI merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan, dengan maksimum nilai simpanan yang dijamin Rp2 miliar per nasabah. Angka yang sama ditegaskan LPS di kanal resminya, lengkap dengan syarat yang populer disebut 3T.

Isi 3T versi ringkasnya: simpananmu tercatat dalam pembukuan bank, imbalan yang kamu terima tidak melebihi batas penjaminan yang ditetapkan LPS pada periode berjalan, dan kamu tidak melakukan tindakan yang merugikan bank, misalnya terlibat pembiayaan macet yang disengaja atau tindak pidana perbankan. Tiga syarat ini berlaku untuk simpanan di bank umum peserta penjaminan, dan LPS menyediakan simulasi pengecekannya lewat kalkulator 3T di situs resminya.

Satu nuansa yang jarang dibahas: promosi berhadiah. Di laman penjaminannya, LPS mengimbau nasabah agar bijak dalam menerima cashback dari bank, karena imbalan tambahan semacam itu ikut diperhitungkan dalam menilai apakah imbalan simpananmu masih dalam batas penjaminan. Jadi ketika sebuah penawaran datang membawa hadiah atau cashback, hitung nilai totalnya sebagai bagian dari imbalan, bukan bonus terpisah, lalu nilai lagi apakah simpananmu masih memenuhi syarat penjaminan.

Praktik amannya sederhana. Simpan semua bukti penempatan, dari bilyet sampai catatan transaksi rekening sumber. Kalau total simpananmu di satu bank mendekati Rp2 miliar, pertimbangkan memecah penempatan ke bank lain supaya tiap bagian tetap dalam batas penjaminan, pola yang sama dengan strategi yang dibahas di cara menabung di bank. Dan setiap kali ada tawaran imbalan yang terasa jauh di atas pasar, cek dulu batas penjaminan LPS periode berjalan sebelum tergiur.

Model payung kecil menaungi tumpukan koin dengan gembok dan map dokumen di sampingnya
Penjaminan LPS melindungi simpanan sampai Rp2 miliar per nasabah per bank selama syarat 3T terpenuhi

Cara buka deposito BSI dan daftar periksa sebelum menempatkan dana

Sebelum masuk alur teknis, pastikan dulu deposito memang jawaban untuk kebutuhanmu. Kalau dananya mungkin terpakai sewaktu-waktu, tabungan biasa lebih masuk akal walau hasilnya lebih kecil, karena tidak ada tenor yang mengunci. Kalau dananya menganggur lama dan kamu siap menerima naik turun nilai, instrumen investasi bisa dipertimbangkan. Deposito berada di tengah: dana terkunci sementara, nominal pokok tidak berkurang, dan hasilnya mengikuti realisasi bagi hasil. Menempatkan produk pada perannya masing-masing jauh lebih menentukan daripada mengejar selisih imbalan kecil antar produk.

Alur pembukaannya mengikuti pola umum bank: siapkan rekening BSI aktif sebagai rekening sumber, siapkan dana minimal Rp2.000.000, lalu ajukan penempatan deposito lewat cabang atau kanal resmi BSI. Saat pengajuan kamu akan memilih tenor, mode perpanjangan, dan menandatangani akad. Karena detail persyaratan dokumen tidak dirinci di halaman produk yang kami rujuk, konfirmasi kebutuhan dokumennya ke BSI langsung, biasanya berupa identitas diri dan data rekening.

Sebelum tanda tangan, jalankan daftar periksa ini. Pertama, tanyakan nisbah dan realisasi bagi hasil beberapa periode terakhir untuk tenor serta nominal yang kamu incar, lalu bandingkan dengan tabel resmi. Kedua, pastikan tenornya cocok dengan rencana pemakaian dana; jangan mengunci uang yang mungkin kamu butuhkan bulan depan. Ketiga, putuskan mode ARO secara sadar dan minta dicatatkan. Keempat, pastikan simpananmu memenuhi syarat penjaminan LPS. Kelima, pastikan dana darurat kamu aman di tempat yang cair, karena deposito bukan pengganti dana darurat.

Kalau dananya cukup besar dan jadwal kebutuhannya bertingkat, pertimbangkan memecah penempatan ke beberapa tenor, misalnya sebagian di 3 bulan dan sebagian di 12 bulan. Pola bertingkat seperti ini menjaga sebagian dana selalu mendekati jatuh tempo sehingga lebih cepat bisa dipakai tanpa mengorbankan porsi yang menikmati nisbah tenor panjang. Kuncinya tetap sama: setiap penempatan harus punya alasan, tanggal jatuh tempo yang tercatat, dan mode perpanjangan yang kamu sadari.

Terakhir, tempatkan deposito ini dalam peta keuanganmu yang lebih besar. Deposito cocok untuk dana yang sudah punya jadwal pakai dan tidak boleh berkurang nominalnya, sementara tujuan jangka panjang bisa mempertimbangkan instrumen lain, termasuk produk syariah seperti yang dibahas di reksadana syariah dan tinjauan kehalalannya di apakah reksadana halal. Ragam cara menyimpan lain bisa kamu jelajahi di halaman menabung, dan cara kami menyusun artikel ini terbuka di proses review. Untuk batasan tanggung jawab konten, lihat disclaimer.

Pertanyaan yang sering diajukan
Deposito BSI memakai bunga atau bagi hasil?
Bagi hasil. Halaman resmi BSI menyebut produk ini sebagai simpanan berjangka yang dikelola dengan akad mudharabah, sehingga hasil yang kamu terima berasal dari pembagian pendapatan pengelolaan dana sesuai nisbah yang disepakati, bukan dari bunga dengan persentase tetap seperti di bank konvensional.
Berapa setoran minimum deposito BSI?
Menurut halaman resmi BSI Deposito Rupiah, setoran awal minimal Rp2.000.000. Dananya ditarik dari rekening sumber berupa tabungan atau giro BSI, jadi kamu perlu punya rekening BSI lebih dulu sebelum menempatkan deposito.
Berapa nisbah bagi hasil deposito BSI saat ini?
Saat artikel ini ditulis, halaman resmi BSI mencantumkan nisbah nasabah 25% sampai 29% tergantung tenor dan nominal penempatan. Angka nisbah bisa berubah mengikuti kebijakan bank, jadi selalu cek halaman resmi BSI atau tanyakan ke cabang sebelum menempatkan dana.
Apakah deposito BSI dijamin LPS?
Ya. Halaman resmi BSI menyatakan BSI adalah peserta penjaminan LPS dengan maksimum nilai simpanan yang dijamin Rp2 miliar per nasabah. Agar jaminan berlaku, penuhi syarat 3T: tercatat di pembukuan bank, imbalan tidak melebihi batas penjaminan yang ditetapkan LPS, dan tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.
Apa itu ARO pada deposito BSI?
ARO atau Automatic Roll Over adalah perpanjangan otomatis saat deposito jatuh tempo belum dicairkan. BSI menyediakan tiga pilihan: ARO pokok saja, ARO pokok plus bagi hasil, dan non-ARO yang berhenti di tanggal jatuh tempo. Pilihan ini menentukan ke mana bagi hasilmu mengalir, jadi tentukan sejak awal penempatan.
Apakah bagi hasil deposito dikenai pajak?
Aturan pajaknya merujuk PP Nomor 131 Tahun 2000 yang menetapkan pajak penghasilan final 20% dari jumlah bruto untuk penghasilan dari deposito bagi wajib pajak dalam negeri, dan definisi depositonya mencakup deposito dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang ditempatkan di bank. Pemotongan dilakukan otomatis oleh bank.
Bisakah deposito BSI dicairkan sebelum jatuh tempo?
Ketentuan pencairan sebelum jatuh tempo tidak dirinci di halaman produk yang kami rujuk, jadi tanyakan langsung ke BSI sebelum menempatkan dana, termasuk ada tidaknya biaya atau konsekuensi lain. Prinsip amannya: hanya tempatkan dana yang memang tidak akan kamu pakai selama tenor berjalan.
Tentang penulis
Tim Redaksi Uang Bijak
Redaksi Editorial · Profil & kredensial

Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.

Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab

Masih ada yang ingin ditanyakan soal menabung? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.

Tanya via WhatsApp