Lompat ke konten
Reksadana

Reksadana Pendapatan Tetap: Isi Portofolio, Risiko, dan Bedanya dengan Pasar Uang

Reksadana pendapatan tetap wajib menaruh minimal 80% dana pada efek utang. Kenali isi portofolio, risiko NAB turun, biaya, dan bedanya dengan pasar uang.

Tim Redaksi Uang Bijak13 menit bacaDitinjau Ahmad Thariq Syauqi
Map tertutup, kacamata baca, dan kalkulator tertata di meja kayu

Reksadana pendapatan tetap adalah reksa dana yang, menurut POJK Nomor 47/POJK.04/2015, wajib menempatkan paling sedikit 80% dari Nilai Aktiva Bersih dalam bentuk efek bersifat utang. Isinya didominasi surat utang negara dan obligasi korporasi dengan jatuh tempo satu tahun atau lebih. Ada satu hal yang perlu diluruskan sejak paragraf pertama, karena inilah miskonsepsi terbesar soal produk ini: kata "pendapatan tetap" menggambarkan jenis aset di dalam portofolionya, bukan keuntungan yang kamu terima. Imbal hasilnya tidak tetap, tidak dijamin, dan Nilai Aktiva Bersih per unitnya bisa turun. Artikel ini membahas isi portofolionya, kenapa nilainya bisa berkurang, risiko gagal bayar dan likuiditas, biaya yang menggerusnya, serta bedanya dengan reksa dana pasar uang.

Apa itu reksadana pendapatan tetap

Reksa dana adalah wadah yang menghimpun dana dari banyak investor untuk dikelola Manajer Investasi. Kalau kamu benar-benar baru, ada baiknya memahami konsep dasarnya dulu sebelum masuk ke pembahasan jenis ini. Berdasarkan komposisi portofolionya, OJK membagi reksa dana konvensional menjadi empat: pasar uang, pendapatan tetap, saham, dan campuran.

Aturan yang membedakan keempatnya tertulis tegas dalam POJK Nomor 47/POJK.04/2015 tentang Pedoman Pengumuman Harian Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Terbuka. Pasal 4 peraturan itu mewajibkan reksa dana pendapatan tetap berinvestasi paling sedikit 80% dari Nilai Aktiva Bersih dalam bentuk efek bersifat utang.

Definisi resmi: menurut Pasal 1 angka 2 POJK Nomor 47/POJK.04/2015, Reksa Dana Pendapatan Tetap adalah Reksa Dana yang melakukan investasi paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dari Nilai Aktiva Bersih dalam bentuk Efek bersifat utang.

Angka 80% itu bukan sekadar formalitas administratif. Angka itu yang menentukan seluruh karakter produknya: ke mana uangmu pergi, dari mana imbal hasilnya datang, dan risiko apa yang otomatis kamu tanggung. Sisanya yang maksimal 20% biasanya ditempatkan pada instrumen pasar uang atau kas untuk menjaga likuiditas, misalnya untuk melayani investor yang mencairkan dana.

Perbandingannya dengan saudara-saudaranya jadi jelas. Reksa dana pasar uang hanya boleh memegang instrumen pasar uang dan efek utang dengan sisa jatuh tempo tidak lebih dari 1 tahun. Reksa dana saham wajib menaruh paling sedikit 80% pada efek bersifat ekuitas. Reksa dana campuran membatasi masing-masing kelas aset maksimal 79%. Perbedaan satu variabel saja, yaitu jangka waktu efek utang yang dipegang, membuat reksa dana pendapatan tetap berperilaku sangat berbeda dari pasar uang, walau keduanya sama-sama berisi surat utang.

OJK Sikapi Uangmu menempatkan jenis ini pada tingkat risiko menengah: lebih tinggi dibanding reksa dana pasar uang, namun lebih rendah dari reksa dana saham. Posisi tengah inilah yang sering disalahartikan sebagai "aman seperti tabungan", padahal bukan.

Ilustrasi komposisi portofolio reksa dana pendapatan tetap dengan porsi efek utang mendominasi
Aturan OJK mewajibkan minimal 80% Nilai Aktiva Bersih ditempatkan pada efek bersifat utang

Isi portofolionya: SBN dan obligasi korporasi

Karena minimal 80% dananya wajib di efek utang, pertanyaan berikutnya jadi penting: surat utang siapa? Menurut OJK Sikapi Uangmu, contoh efek bersifat utang adalah obligasi atau sukuk dengan jatuh tempo satu tahun atau lebih, baik yang diterbitkan korporasi maupun pemerintah. Praktiknya, isi portofolio reksa dana pendapatan tetap di Indonesia berkisar pada dua kelompok besar itu. Kalau kamu ingin memahami instrumennya lebih dalam, pelajari juga seluk-beluk obligasi secara terpisah.

Kelompok pertama adalah Surat Berharga Negara, termasuk Surat Utang Negara yang diterbitkan pemerintah. Menurut OJK Sikapi Uangmu, SUN merupakan surat pengakuan utang yang pembayaran bunga dan pokoknya dijamin oleh negara sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002, sehingga risiko gagal bayarnya sangat minim. Kelompok kedua adalah obligasi korporasi, yaitu surat utang yang diterbitkan perusahaan. Di sinilah konsekuensinya berubah. Sumber yang sama menyebutkan bahwa jika kita membeli obligasi korporasi, terdapat kemungkinan terjadi gagal bayar, baik kupon maupun nilai pokok saat jatuh tempo, akibat kondisi keuangan atau perekonomian yang tidak menguntungkan.

Isi portofolioPenerbitKonsekuensi bagi investor
Surat Berharga Negara (SUN, obligasi negara, sukuk negara)Pemerintah Republik IndonesiaPembayaran kupon dan pokok dijamin negara sesuai UU Nomor 24 Tahun 2002, risiko gagal bayar sangat minim
Obligasi korporasiPerusahaanAda kemungkinan gagal bayar kupon atau pokok, diperingkat berkala oleh Lembaga Pemeringkat Efek
Instrumen pasar uang dan kas (maksimal 20%)Bank, penerbit jangka pendekBantalan likuiditas untuk melayani pencairan investor

Konsekuensi praktisnya begini. Semakin besar porsi obligasi korporasi dalam sebuah produk, semakin besar potensi imbal hasilnya, tetapi semakin besar pula risiko kredit yang kamu tanggung. Dua produk yang sama-sama berlabel "pendapatan tetap" bisa punya karakter risiko yang jauh berbeda hanya karena komposisi penerbitnya berbeda. Satu produk mungkin 90% berisi SBN, produk lain mungkin dipenuhi obligasi korporasi berperingkat menengah. Label jenisnya sama, isinya tidak.

Karena itu, membaca prospektus dan fund fact sheet bukan formalitas. Di dokumen itulah kebijakan investasi dan komposisi portofolio diungkapkan secara resmi. Menilai reksa dana pendapatan tetap hanya dari namanya, atau hanya dari grafik kinerja masa lalu, sama saja dengan menilai isi kotak dari bungkusnya.

Kenapa "pendapatan tetap" tidak berarti imbal hasilnya tetap

Ini bagian terpenting dari artikel ini, dan bagian yang paling jarang ditulis terang-terangan oleh pihak yang menjual produknya.

Banyak orang membaca frasa "pendapatan tetap" lalu menyimpulkan bahwa keuntungannya pasti, stabil, dan mengalir rutin seperti bunga deposito. Kesimpulan itu keliru. Frasa tersebut adalah terjemahan dari fixed income, sebuah istilah yang menggambarkan kelas asetnya, yaitu surat utang yang membayar kupon dengan jadwal dan besaran tetap kepada pemegang obligasinya. Yang tetap adalah kewajiban penerbit obligasi kepada pemegang obligasi, bukan hasil akhir yang kamu terima sebagai pemegang unit penyertaan reksa dana.

Jarak antara dua hal itu diisi oleh harga pasar. Dan harga pasar bergerak.

Mekanismenya dijelaskan gamblang oleh Bursa Efek Indonesia. Saat tingkat suku bunga pasar naik, sementara besarnya tingkat pengembalian atas efek bersifat utang adalah tetap, maka return riil dari investor dianggap menjadi relatif lebih kecil. Hal itu menyebabkan terjadi aksi jual efek bersifat utang, sehingga harga efek tersebut menjadi turun. Logikanya sederhana: kalau ada obligasi baru yang menawarkan kupon lebih tinggi, obligasi lama dengan kupon rendah jadi kurang menarik, jadi harganya harus turun agar tetap laku.

Sekarang sambungkan ke reksa dananya. Nilai Aktiva Bersih reksa dana dihitung oleh Bank Kustodian setiap hari bursa berdasarkan nilai pasar wajar portofolionya, sesuai Peraturan Bapepam-LK Nomor IV.B.1. Artinya, ketika harga obligasi di dalam portofolio turun, NAB per unit ikut turun pada hari itu juga. Tidak ada mekanisme yang menahannya.

Waspada: "pendapatan tetap" bukan berarti aman seperti deposito. Nilai Aktiva Bersih per unitnya bisa turun, dan imbal hasilnya tidak dijamin siapa pun. OJK sendiri menegaskan lewat Sikapi Uangmu bahwa investasi reksa dana tidak melulu bicara kenaikan nilai, akan ada momen ketika nilai produk reksa dana turun mengikuti kondisi pasar yang ada. Kalau ada yang menawarkan produk ini dengan janji imbal hasil pasti, itu tanda bahaya.

Ada satu faktor yang memperbesar efek ini, yaitu jangka waktu. Menurut Bursa Efek Indonesia, semakin pendek jangka waktu efek bersifat utang, semakin kecil tingkat ketidakpastian atau risikonya. Semakin sebuah obligasi mendekati tanggal jatuh temponya, harganya semakin mendekati nilai nominal. Di sinilah letak perbedaan mendasar dengan reksa dana pasar uang: pasar uang hanya boleh memegang efek utang dengan sisa jatuh tempo di bawah 1 tahun, sehingga nyaris tidak sensitif terhadap perubahan bunga. Reksa dana pendapatan tetap memegang obligasi bertenor satu tahun atau lebih, yang justru sensitif. Aturan 80% itu, secara langsung, adalah sumber volatilitasnya.

Sebagai ilustrasi mekanisme (angka rekaan untuk penjelasan, bukan gambaran kinerja produk mana pun): misalkan kamu memegang 1.000 unit dengan NAB Rp1.500 per unit, jadi nilainya Rp1.500.000. Suku bunga pasar naik, harga obligasi di portofolio terkoreksi, dan NAB turun ke Rp1.455 per unit. Nilai investasimu menjadi Rp1.455.000, atau turun 3%. Jumlah unitmu tidak berkurang sama sekali, yang berubah adalah harganya. Kalau kamu terpaksa mencairkan saat itu, kerugian tersebut berubah dari sekadar angka merah di layar menjadi kerugian nyata.

Risiko gagal bayar dan risiko likuiditas

Selain pergerakan suku bunga, ada dua risiko lain yang perlu kamu pahami sebelum menempatkan dana.

Risiko kredit atau gagal bayar. Risiko ini melekat pada obligasi korporasi di dalam portofolio. Menurut Bursa Efek Indonesia, risiko kredit menggambarkan kemampuan penerbit efek bersifat utang dalam melakukan pembayaran bunga atau pelunasan pokok secara tepat waktu sesuai jatuh temponya. Efek utang diperingkat secara berkala oleh Lembaga Pemeringkat Efek, dan investor dapat memanfaatkan informasi peringkat itu untuk mengukur risikonya. Yang penting dipahami: dampaknya tidak menunggu sampai penerbitnya benar-benar gagal bayar. Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa ketika peringkat sebuah efek utang turun, hal itu mengindikasikan risiko penerbit dalam memenuhi kewajibannya menjadi lebih tinggi dan berpotensi gagal bayar, sehingga permintaan atas efek itu menurun dan harganya ikut turun. Penurunan peringkat saja sudah cukup untuk menekan NAB.

Risiko likuiditas. OJK Sikapi Uangmu menyebutkan risiko likuiditas sebagai kesulitan Manajer Investasi menyediakan uang tunai bila investor ramai-ramai mencairkan reksa dananya. Skenarionya begini: saat pasar sedang tertekan dan banyak investor mencairkan bersamaan, Manajer Investasi mungkin harus menjual obligasi di portofolio pada harga yang sedang jelek untuk memenuhi permintaan itu. Penjualan paksa tersebut menekan NAB lebih jauh, yang merugikan investor yang bertahan. Obligasi korporasi umumnya kurang likuid dibanding surat berharga negara, jadi porsi korporasi yang besar memperbesar risiko ini.

Sumber yang sama juga menyebut risiko wanprestasi, yaitu ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan reksa dana tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal yang tidak diinginkan, yang dapat menyebabkan penurunan NAB.

Soal pencairan, Peraturan Bapepam-LK Nomor IV.B.1 mengatur bahwa pembayaran atas unit penyertaan yang dijual kembali dilakukan sesegera mungkin, paling lambat 7 hari bursa sejak dokumen permintaan lengkap diterima Manajer Investasi. Banyak produk memproses lebih cepat, tetapi ketentuan resminya memberi ruang sampai 7 hari bursa. Ini perlu kamu perhitungkan kalau uangnya mungkin dibutuhkan mendadak.

Reksa dana tidak dijamin LPS, ini bedanya dengan deposito

Poin ini layak berdiri sendiri karena begitu sering disalahpahami, terutama oleh orang yang membeli reksa dana lewat aplikasi bank dan mengira produknya setara dengan simpanan.

Menurut FAQ Lembaga Penjamin Simpanan, LPS menjamin simpanan nasabah bank yang berbentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. Reksa dana tidak ada dalam daftar tersebut, dan memang tidak bisa masuk, karena reksa dana bukan produk perbankan melainkan produk pasar modal. OJK Sikapi Uangmu menyatakannya lugas: dana investor tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan karena bukan produk perbankan.

Artinya, kalau NAB produkmu turun, tidak ada lembaga mana pun yang mengganti selisihnya. Bandingkan dengan deposito, yang pokoknya dijamin LPS sampai batas dan syarat yang berlaku. Ini perbedaan yang bersifat struktural, bukan sekadar detail teknis.

Yang perlu diluruskan juga: tidak dijamin LPS bukan berarti tidak ada perlindungan sama sekali. Kekayaan reksa dana disimpan terpisah di Bank Kustodian, dikelola berdasarkan Kontrak Investasi Kolektif, dan seluruh industrinya diawasi OJK. Yang tidak dijamin adalah nilainya, bukan legalitas atau keamanan penyimpanannya. Dua hal ini sering tertukar dalam percakapan sehari-hari.

Poin kunci: LPS menjamin nilai pokok simpanan bank. OJK mengawasi pasar modal, tetapi tidak menjamin nilai investasimu. Tidak ada satu pun lembaga yang menjanjikan bahwa NAB reksa dana pendapatan tetapmu tidak akan turun. Kalau kamu butuh kepastian nilai pokok, instrumen yang dijamin LPS lebih sesuai, dengan konsekuensi imbal hasilnya berbeda.

Satu hal yang menguntungkan investor perlu disebut juga demi adil. Menurut Direktorat Jenderal Pajak, keuntungan dari reksa dana tidak termasuk objek pajak, karena UU Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (3) huruf i mengecualikan bagian laba yang diterima pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif dari objek pajak. Bunga deposito, sebaliknya, dipotong pajak final. Keuntungan reksa dana tetap perlu dilaporkan di SPT Tahunan sebagai penghasilan yang bukan objek pajak.

Biaya yang menggerus imbal hasilmu

Bagian ini hampir tidak pernah muncul di materi promosi, padahal biaya adalah satu-satunya variabel yang pasti terjadi. Imbal hasil belum tentu datang, biaya sudah pasti berjalan.

Rinciannya diatur dalam POJK Nomor 23/POJK.04/2016 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif. Pasal 31 ayat (1) menyebutkan biaya yang menjadi beban reksa dana meliputi biaya pengelolaan Manajer Investasi, biaya Bank Kustodian, biaya asuransi portofolio efek jika ada, biaya transaksi pembelian dan penjualan portofolio efek, biaya pembaruan prospektus dan pendistribusiannya, serta biaya atas jasa akuntan yang memeriksa laporan keuangan tahunan reksa dana.

Perhatikan frasa "beban reksa dana". Biaya-biaya itu tidak ditagihkan sebagai invoice terpisah ke rekeningmu. Biaya itu dipotong dari aset reksa dana, sehingga sudah tercermin di dalam angka NAB yang kamu lihat. Inilah sebabnya biaya terasa tidak terlihat: kamu tidak pernah merasa membayarnya, padahal terus terpotong setiap hari. NAB yang kamu baca adalah angka setelah biaya.

Ada satu poin yang jarang dibahas dan layak kamu tahu. POJK Nomor 47/POJK.04/2015 Pasal 3 melarang reksa dana pasar uang memungut biaya penjualan dan biaya pembelian kembali unit penyertaan. Larangan itu spesifik untuk jenis pasar uang saja. Reksa dana pendapatan tetap tidak dilarang, sehingga produknya boleh membebankan biaya pembelian, biaya penjualan kembali, atau biaya pengalihan. Boleh, bukan berarti pasti. Ada produk yang menggratiskannya. Yang jelas, kamu tidak bisa mengasumsikan bebas biaya transaksi seperti di pasar uang.

Sesuai POJK Nomor 25/POJK.04/2020, prospektus reksa dana wajib memuat alokasi biaya yang mencakup biaya yang menjadi beban Manajer Investasi, beban reksa dana, dan beban pemodal, serta wajib mencantumkan faktor risiko yang utama. Semua yang perlu kamu ketahui soal biaya sudah diwajibkan ada di sana. Masalahnya, hampir tidak ada yang membacanya.

Kenapa ini penting justru di reksa dana pendapatan tetap? Karena potensi imbal hasil jenis ini lebih terbatas dibanding reksa dana saham. Biaya dengan besaran yang sama akan memakan porsi yang jauh lebih besar dari hasil yang moderat. Selisih biaya pengelolaan antarproduk yang terlihat kecil bisa berarti banyak ketika dibiarkan berjalan bertahun-tahun. Bandingkan biaya antarproduk sejenis sebelum memutuskan, dan lihat pilihan produk yang tersedia dengan mata yang kritis, bukan hanya melihat grafik kinerja masa lalu.

Map tertutup dan kalkulator di atas meja, menggambarkan prospektus reksa dana
Prospektus wajib merinci alokasi biaya dan faktor risiko utama, dokumen inilah yang perlu dibaca sebelum menyetor dana

Bedanya dengan reksadana pasar uang

Keduanya sama-sama berisi surat utang dan sama-sama dianggap "aman" oleh banyak orang. Yang membedakan hanya satu variabel utama, jangka waktu efek yang dipegang, tetapi konsekuensinya berantai ke mana-mana.

AspekReksa dana pasar uangReksa dana pendapatan tetap
Aturan portofolioHanya instrumen pasar uang dan efek utang sisa jatuh tempo maksimal 1 tahunPaling sedikit 80% Nilai Aktiva Bersih pada efek bersifat utang
Jangka waktu efekDi bawah 1 tahunUmumnya 1 tahun atau lebih
Volatilitas NABSangat rendah, jarang turunLebih besar, NAB bisa turun saat suku bunga naik
Tingkat risiko (versi OJK)Paling rendah di antara empat jenisMenengah, di atas pasar uang, di bawah saham
Sensitif terhadap suku bungaNyaris tidakYa, ini sumber risiko utamanya
Risiko gagal bayarKecil, tenor sangat pendekAda, terutama dari obligasi korporasi
Biaya beli dan jualDilarang dipungut (POJK 47/2015 Pasal 3)Tidak dilarang, tergantung produk
Horizon yang umum disebutDi bawah 1 sampai 3 tahun, termasuk dana darurat1 sampai 3 tahun (versi OJK Sikapi Uangmu)
Penjaminan LPSTidak dijaminTidak dijamin

Cara membacanya begini. Kalau uangmu mungkin dibutuhkan sewaktu-waktu dan nilainya tidak boleh berkurang, misalnya untuk dana darurat, fluktuasi NAB reksa dana pendapatan tetap adalah risiko nyata yang tidak sepadan. Kamu bisa saja butuh dana persis saat NAB sedang turun. Untuk kebutuhan seperti itu, karakter reksa dana pasar uang lebih cocok.

Sebaliknya, OJK Sikapi Uangmu menyebut reksa dana pendapatan tetap paling pas untuk jangka waktu antara 1 sampai 3 tahun dan cocok bagi pemilik profil risiko konservatif. Dengan rentang waktu selama itu, fluktuasi jangka pendek punya ruang untuk pulih, dan kupon dari obligasi di portofolio punya waktu untuk bekerja. Sumber yang sama juga menyebut jenis ini bisa dipakai sebagai diversifikasi saat kondisi ekonomi belum stabil.

Pertanyaan yang lebih tepat bukan "mana yang lebih bagus", melainkan "kapan uang ini akan saya pakai". Horizon waktumu yang menentukan, bukan label produknya. Kalau kamu belum pernah bertransaksi sama sekali, pelajari dulu langkah-langkah berinvestasi reksa dana, dan pastikan membelinya lewat Manajer Investasi atau Agen Penjual Efek Reksa Dana yang berizin OJK. Untuk gambaran menyeluruh soal jenis-jenisnya, kamu bisa menelusuri pilar reksa dana kami.

Terakhir, satu catatan teknis yang berguna. Nilai Aktiva Bersih awal setiap unit penyertaan wajib ditetapkan Rp1.000 sesuai Peraturan Bapepam-LK Nomor IV.B.1, lalu bergerak mengikuti nilai pasar wajar portofolionya. Jadi NAB per unit yang tinggi tidak berarti produknya "mahal", dan NAB rendah tidak berarti "murah". Angka itu hanya menunjukkan sudah sejauh mana produk tersebut berjalan sejak diluncurkan, bukan indikator murah atau mahal seperti harga barang.

Ilustrasi grafik garis nilai aktiva bersih yang bergerak naik dan turun
Nilai Aktiva Bersih dihitung setiap hari bursa dari nilai pasar wajar portofolio, sehingga bisa naik dan turun

Disclaimer: artikel ini bersifat edukasi keuangan, bukan nasihat atau ajakan investasi. Uang Bijak tidak merekomendasikan produk atau Manajer Investasi tertentu. Semua rujukan aturan bersumber dari lembaga resmi dan berlaku pada tanggal artikel ini diterbitkan. Setiap keputusan investasi ada di tanganmu, sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing, dan bila perlu berkonsultasilah dengan penasihat keuangan berizin. Kinerja masa lalu bukan jaminan hasil di masa depan.

Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu reksadana pendapatan tetap?
Menurut POJK Nomor 47/POJK.04/2015, Reksa Dana Pendapatan Tetap adalah reksa dana yang wajib melakukan investasi paling sedikit 80% dari Nilai Aktiva Bersih dalam bentuk efek bersifat utang. Efek utang di sini berupa obligasi atau sukuk dengan jatuh tempo satu tahun atau lebih, baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi.
Apakah imbal hasil reksadana pendapatan tetap benar-benar tetap?
Tidak. Kata pendapatan tetap merujuk pada jenis aset di dalam portofolionya, yaitu surat utang yang membayar kupon dengan jadwal tetap, bukan pada keuntungan yang kamu terima. Imbal hasil untuk investor tidak dijamin, tidak tetap, dan bisa negatif dalam periode tertentu.
Apakah NAB reksadana pendapatan tetap bisa turun?
Bisa. OJK sendiri menegaskan bahwa nilai produk reksa dana akan ada momennya turun mengikuti kondisi pasar. Penyebab paling umum adalah kenaikan suku bunga pasar yang menekan harga obligasi di dalam portofolio, sehingga Nilai Aktiva Bersih per unit ikut turun.
Kenapa harga obligasi turun saat suku bunga naik?
Menurut Bursa Efek Indonesia, ketika suku bunga pasar naik sementara tingkat pengembalian obligasi bersifat tetap, imbal hasil riil obligasi lama dianggap relatif lebih kecil. Kondisi itu memicu aksi jual sehingga harga efek utang tersebut turun. Karena NAB dihitung dari nilai pasar wajar portofolio, penurunan harga obligasi langsung tercermin di NAB.
Apakah reksadana pendapatan tetap dijamin LPS?
Tidak. LPS hanya menjamin simpanan bank berupa tabungan, deposito, giro, dan sertifikat deposito. Reksa dana adalah produk pasar modal, bukan produk perbankan, sehingga berapa pun nilainya tidak ada jaminan pengembalian pokok dari LPS.
Apa saja biaya di reksadana pendapatan tetap?
Menurut POJK Nomor 23/POJK.04/2016, biaya yang menjadi beban reksa dana meliputi biaya pengelolaan Manajer Investasi, biaya Bank Kustodian, biaya transaksi portofolio, biaya pembaruan prospektus, dan biaya jasa akuntan. Selain itu, berbeda dengan reksa dana pasar uang, jenis pendapatan tetap tidak dilarang memungut biaya pembelian dan penjualan kembali. Rinciannya wajib ada di prospektus.
Reksadana pendapatan tetap cocok untuk jangka waktu berapa lama?
OJK Sikapi Uangmu menyebut jenis ini paling pas untuk jangka waktu antara 1 sampai 3 tahun dengan profil risiko konservatif. Untuk kebutuhan yang bisa muncul sewaktu-waktu seperti dana darurat, jenis pasar uang biasanya lebih sesuai karena fluktuasi nilainya lebih kecil.
Tentang penulis
Tim Redaksi Uang Bijak
Redaksi Editorial · Profil & kredensial

Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.

Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab

Masih ada yang ingin ditanyakan soal reksadana? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.

Tanya via WhatsApp