Lompat ke konten
Menabung

Investasi Adalah: Arti, Instrumen, dan Risiko yang Perlu Dipahami Pemula

Investasi adalah menempatkan uang pada aset agar tumbuh, lengkap dengan risikonya. Pahami bedanya dari menabung, peta instrumen, dan cara cek legalitas.

Tim Redaksi Uang Bijak12 menit bacaDitinjau Ahmad Thariq Syauqi
Beberapa tunas tanaman muda dengan tinggi yang berbeda-beda tumbuh di dalam pot tanah liat berjajar di atas meja kayu gelap

Investasi adalah penempatan uang atau aset pada instrumen tertentu untuk memperoleh manfaat pada masa depan. Nilainya dapat naik maupun turun, sehingga hasil tidak pernah pasti. Sebelum memilih instrumen, investor perlu memahami tujuan, jangka waktu, likuiditas, biaya, dan risiko kehilangan sebagian atau seluruh dana yang ditempatkan.

Investasi adalah upaya menempatkan uang pada suatu aset dengan harapan nilainya tumbuh dan memberi keuntungan di kemudian hari, dengan konsekuensi bahwa nilai itu juga bisa turun. OJK merumuskannya secara sederhana sebagai upaya membelanjakan sejumlah uang atau dana pada sesuatu hal yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan di masa depan, dan wujudnya bisa berupa properti, surat berharga seperti deposito, saham, dan obligasi, logam mulia, perhiasan, atau bentuk lainnya. Definisi itu sering dikutip sampai di sini lalu berhenti. Padahal kalimat OJK berikutnya justru yang paling menentukan nasib uangmu: dalam melakukan investasi terdapat dua hal utama yang wajib dipahami, yaitu tingkat imbal hasil yang ditawarkan (return) dan tingkat risiko (risk). Panduan ini membahas keduanya secara seimbang, memetakan instrumen yang tersedia di Indonesia, menjelaskan apa yang harus beres sebelum kamu mulai, dan menunjukkan cara mengenali penawaran yang tidak berizin.

Menabung dan investasi menjawab dua kebutuhan yang berbeda

Banyak orang memakai dua kata ini bergantian, lalu kecewa karena berharap uangnya bertumbuh cepat sekaligus bisa diambil kapan saja tanpa kehilangan nilai. Dua hal itu tidak pernah datang bersamaan dalam satu produk.

Menabung berarti menaruh uang di tempat yang nilai nominalnya relatif tidak bergerak dan bisa kamu ambil dengan cepat. Yang kamu beli sebenarnya bukan pertumbuhan, melainkan kepastian dan akses. Uang Rp5.000.000 yang kamu simpan hari ini akan tetap tercatat Rp5.000.000 bulan depan, dan itulah gunanya. Investasi bekerja dengan logika terbalik. Kamu menukar kepastian jangka pendek dengan kemungkinan pertumbuhan jangka panjang, dan pertukaran itu tidak bisa kamu batalkan di tengah jalan tanpa biaya.

OJK sendiri memposisikan keduanya sebagai kegiatan yang berdampingan. Dalam penjelasannya soal memenuhi kebutuhan keuangan masa depan, disebutkan bahwa selain menabung, masyarakat juga melakukan kegiatan investasi. Kata "selain" di situ penting. Investasi bukan versi upgrade dari menabung yang membuat tabungan jadi tidak relevan. Keduanya mengisi pos yang berbeda dalam keuanganmu, dan pos yang satu tidak bisa menambal tugas pos yang lain.

Lalu kenapa repot berinvestasi kalau menabung sudah terasa aman? Jawaban OJK di artikel edukasinya cukup gamblang: dengan berinvestasi berarti kamu melindungi nilai aset kekayaanmu dari gerusan inflasi, dan berinvestasi adalah cara yang tepat agar kamu dapat mencapai tujuan keuanganmu. Ini poin yang sering luput. Angka di buku tabunganmu memang tidak turun, tetapi daya belinya bisa menyusut diam-diam ketika harga barang naik lebih cepat daripada bunga yang kamu terima. Nominal yang tetap tidak sama dengan nilai yang terjaga.

OJK juga menekankan bahwa setiap orang memiliki tujuan keuangan yang berbeda. Ada yang menyiapkan dana pendidikan anak lima tahun ke depan, ada yang merencanakan dana pernikahan tahun depan, ada pula yang sekadar ingin membeli kendaraan atau gawai penunjang pekerjaan. Perbedaan tujuan inilah yang menentukan instrumen mana yang tepat dan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Artinya pertanyaan yang benar bukan "investasi apa yang bagus", melainkan "uang ini untuk apa dan kapan akan dipakai". Kalau jawabannya "mungkin sebentar lagi, saya belum tahu pasti", maka uang itu memang belum siap diinvestasikan. Tempatnya masih di tabungan atau dana darurat.

Dua hal yang menentukan hasil investasimu: imbal hasil dan risiko

Inilah bagian yang paling sering dilewati orang, dan menurut OJK justru menjadi pangkal masalah.

Mari mulai dari definisi yang jelas. OJK menyebut risiko adalah suatu ketidakpastian yang menimbulkan lahirnya peristiwa kerugian (loss) yang tidak diinginkan. Perhatikan kata "ketidakpastian". Risiko bukan berarti kamu pasti rugi, tetapi juga bukan berarti kamu pasti untung. Risiko adalah rentang kemungkinan, dan investasi selalu punya rentang itu. OJK bahkan menyebut investasi dan risiko bagai dua sisi mata uang logam, suatu kombinasi yang tidak dapat dipisahkan.

Dari sana muncul prinsip yang mungkin sudah sering kamu dengar tapi jarang diambil serius: high risk, high return. OJK menerjemahkannya begini, semakin tinggi return yang kamu harapkan, semakin tinggi pula risiko yang akan kamu tanggung nanti. Konsekuensi logisnya sederhana dan tegas. Kalau ada yang menawarkan imbal hasil jauh di atas kelaziman sambil meyakinkan bahwa uangmu tidak mungkin berkurang, yang sedang terjadi bukan penemuan produk ajaib. Yang sedang terjadi adalah salah satu dari dua hal: risikonya disembunyikan darimu, atau angkanya memang tidak nyata.

Diagram jungkat-jungkit dengan tumpuan segitiga, beberapa lingkaran kecil di satu sisi dan satu lingkaran besar di sisi lain
Imbal hasil dan risiko selalu berada di satu batang yang sama, menaikkan satu sisi otomatis menaikkan sisi lainnya

Karena rentang risiko setiap orang berbeda, OJK meminta setiap calon investor mengenali profil risikonya lebih dulu. Ada yang merasa nyaman mengambil risiko (risk-takers), ada yang kurang berani atau ragu-ragu (risk-moderate), dan ada yang benar-benar tidak berani mengambil risiko (risk-averse). Dari situ OJK membagi tiga profil beserta karakternya. Profil konservatif adalah sebutan bagi yang menghindari risiko tinggi dan mencari instrumen dengan nilai kenaikan yang cenderung stabil. Profil moderat masih dapat menoleransi sebagian risiko penurunan nilai investasi. Profil agresif cocok bagi yang mengejar peningkatan nilai investasi dalam jangka panjang dan dapat menoleransi penurunan nilai dalam jumlah besar.

Poin kunci: OJK menyatakannya tanpa basa-basi, tidak ada satu pun instrumen investasi yang cocok untuk semua orang. Setiap orang perlu mengenali profil risiko masing-masing sebelum melakukan investasi sehingga nantinya dapat memilih instrumen yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Itu sebabnya menyalin portofolio orang lain, termasuk portofolio yang dipamerkan di media sosial, adalah cara memulai yang buruk. Kamu menyalin pilihannya tanpa menyalin kondisi keuangan, jangka waktu, dan toleransi kerugiannya.

OJK juga menunjuk satu kebiasaan yang berulang kali memakan korban. Menurut lembaga itu, masyarakat atau investor seringkali hanya memperhatikan tingkat imbal hasil yang ditawarkan namun lupa atau kurang memperhatikan tingkat risiko yang mungkin dihadapi. Kenyataan inilah yang disebut OJK menjadi salah satu penyebab makin maraknya kasus penipuan dan korban penawaran investasi yang diduga ilegal. Jadi kebiasaan membaca angka return lebih dulu bukan sekadar kurang cermat, melainkan pintu masuk paling umum menuju kerugian yang sebenarnya bisa dihindari.

Ada satu alat peredam yang direkomendasikan OJK, yaitu diversifikasi. Dalam berinvestasi, risiko tidak mungkin dihindari sama sekali, tetapi setidaknya risiko dapat diminimalisasi dengan membagi penempatan pada beberapa instrumen. Perhatikan kalimatnya sekali lagi: diminimalisasi, bukan dihilangkan. Diversifikasi memperkecil kemungkinan seluruh uangmu hancur bersamaan, bukan menyulap investasi menjadi tanpa kemungkinan rugi.

Peta instrumen investasi yang tersedia di Indonesia

Setelah paham soal risiko, barulah peta instrumen berguna. Tanpa urutan itu, daftar di bawah cuma jadi katalog belanja.

OJK memetakan bahwa investasi dapat dilakukan melalui pasar modal ataupun melalui pembelian logam mulia. Di pasar modal, instrumen yang secara umum tersedia mencakup saham, obligasi atau sukuk, dan reksa dana. Daftar topiknya lebih rinci lagi, mulai dari Surat Utang Negara, Sukuk Ritel, Sukuk Tabungan, Reksa Dana Terbuka, Reksa Dana Indeks, Reksa Dana Exchange Traded Fund, sampai Kontrak Opsi Saham. Di luar pasar modal, deposito juga masuk dalam daftar surat berharga yang disebut OJK saat mendefinisikan bentuk-bentuk investasi.

Tabel berikut merangkum apa yang sebenarnya kamu pegang pada tiap instrumen, dari mana keuntungannya datang, dan risiko apa yang melekat padanya. Ini peta, bukan peringkat, dan urutannya tidak menyiratkan mana yang lebih baik.

InstrumenYang sebenarnya kamu pegangSumber keuntunganRisiko utama yang melekat
Tabungan dan depositoSimpanan di bankBunga atau bagi hasilNominal terjaga dalam batas penjaminan LPS, tetapi imbal hasilnya bisa tergerus inflasi
Surat Berharga Negara ritelPosisi sebagai pemberi pinjaman kepada negaraKupon berkala dan pengembalian pokokHarga bergerak berlawanan dengan suku bunga, dan bukan simpanan bank
Reksa danaUnit penyertaan pada portofolio yang dikelola manajer investasiKenaikan nilai unitNilai unit naik dan turun mengikuti isi portofolionya
SahamTanda penyertaan modal pada perusahaanDividen dan capital gainCapital loss, dividen tidak dibagikan, delisting, hak klaim terakhir saat likuidasi
Logam muliaAset fisikSelisih harga jual dan harga beliHarga berfluktuasi, ada selisih harga beli dan jual serta biaya penyimpanan

Beberapa catatan penting di balik tabel itu. Untuk saham, OJK mendefinisikannya sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak pada suatu perusahaan atau Perseroan Terbatas, yang memberimu klaim atas pendapatan dan aset perusahaan serta hak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Keuntungannya bisa datang dari dividen dan capital gain. Namun OJK juga menuliskan risikonya secara terbuka: kamu bisa tidak mendapat dividen ketika kinerja perusahaan turun, bisa mengalami capital loss saat menjual di bawah harga beli, sahammu bisa dihapus pencatatannya dari bursa sehingga menjadi tidak likuid, dan bila emiten dilikuidasi pemegang saham memiliki hak klaim terakhir setelah seluruh kewajiban dibayarkan. Kemungkinan terburuknya, kalau tidak ada aktiva tersisa, pemegang saham tidak memperoleh apa-apa.

Untuk reksa dana, OJK mengutip Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 Pasal 1 ayat (27) yang menyatakan reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh manajer investasi. Reksa dana memang mampu mengurangi risiko karena dana disebarkan pada berbagai produk, tetapi OJK menambahkan pengingat yang sering dilupakan pemasar: bukan berarti reksa dana bebas dari risiko, sehingga investor tetap perlu mempelajari berbagai risiko produk ini.

Untuk obligasi dan SBN ritel, posisimu adalah pemberi pinjaman, bukan pemilik. Sedangkan deposito berdiri di kutub paling tenang dari peta ini justru karena ia bukan aset yang diperdagangkan.

Yang harus beres sebelum rupiah pertamamu masuk

Ada urutan yang membosankan tapi menentukan, dan melompatinya adalah alasan paling umum orang menjual investasinya di waktu yang paling buruk.

Syarat pertama adalah dana darurat. OJK menjelaskan dana darurat atau emergency fund merupakan alokasi uang yang digunakan untuk keperluan di saat keadaan genting, misalnya biaya pengobatan karena sakit, biaya hidup apabila terjadi kecelakaan atau PHK, atau biaya perbaikan rumah akibat musibah seperti banjir dan kebakaran. Soal besarannya, OJK menyebut idealnya jumlah dana darurat yang perlu disiapkan adalah 6 sampai 12 kali jumlah pengeluaran per bulan, bergantung pada jumlah tanggungan dan pola konsumsi. Untuk yang masih lajang, 6 kali pengeluaran bulanan sudah dinilai cukup, sementara yang sudah berkeluarga atau memiliki tanggungan disarankan menyiapkan setidaknya 9 sampai 12 kali pengeluaran per bulan.

OJK juga menegaskan sifat dana ini: karena fungsinya antisipatif, penempatannya harus mudah diakses atau dicairkan. Kalimat itu langsung menutup satu pertanyaan yang sering muncul. Dana darurat tidak boleh ditaruh di aset yang harganya bisa turun tepat ketika kamu butuh uang, karena kamu akan dipaksa menjual rugi di hari terburuk. Kalau kamu belum yakin dengan angkamu sendiri, hitung dulu di kalkulator dana darurat.

Syarat kedua adalah kejelasan tujuan dan jangka waktu. Ini konsekuensi langsung dari penjelasan OJK bahwa perbedaan tujuan keuangan menentukan instrumen mana yang paling tepat serta periode waktu yang dibutuhkan. Uang yang akan dipakai tahun depan dan uang yang baru akan dipakai sepuluh tahun lagi tidak layak diperlakukan sama, bahkan kalau pemiliknya orang yang sama.

Syarat ketiga adalah waktu belajar. OJK memakai kalimat yang enak diingat, invest your time before your money, investasikanlah waktumu sebelum uangmu. Alasannya praktis: penting meluangkan waktu mempelajari seluk-beluk produk investasi sebelum menyetorkan dana, mulai dari manfaat, biaya, sampai hak dan kewajiban. Tanpa pengetahuan yang cukup, kemungkinan kerugianmu justru membesar.

Contoh hitungan (angka contoh, bukan patokan dan bukan proyeksi): misalkan pengeluaran bulananmu Rp4.000.000 dan kamu masih lajang. Mengikuti acuan 6 kali pengeluaran bulanan, dana daruratmu berada di kisaran Rp24.000.000. Kalau kamu berkeluarga dengan pengeluaran yang sama dan memakai acuan 9 kali, angkanya menjadi Rp36.000.000. Ganti angka ini dengan pengeluaranmu yang sebenarnya, bukan dengan pengeluaran yang kamu harapkan. Kamu bisa menguji berbagai skenario jangka waktu di simulasi investasi.

Cara mengenali penawaran investasi ilegal

Bagian ini bukan pelengkap. Bagi pemula, risiko terbesar sering bukan harga yang turun, melainkan menyerahkan uang kepada pihak yang memang tidak berniat mengembalikannya.

OJK menulis karakteristik penipuan investasi dalam daftar yang pendek dan tajam. Pertama, return atau keuntungan yang ditawarkan sangat tinggi, bahkan seringkali tidak masuk akal, dan/atau dalam jumlah yang dipastikan. Kedua, produk investasi ditawarkan dengan janji akan dijamin dengan instrumen tertentu seperti emas atau giro, atau dijamin oleh pihak tertentu seperti pemerintah dan bank. Ketiga, menggunakan nama perusahaan besar secara tidak sah untuk meyakinkan calon investor. Keempat, dana masyarakat tidak dicatat dalam segregated account atau akun terpisah, agar mudah digunakan secara tidak bertanggung jawab.

Ciri pertama pantas dibaca dua kali karena memuat dua hal sekaligus. Bukan hanya angka yang tinggi, melainkan juga angka yang dipastikan. Janji kepastian imbal hasil justru bertabrakan langsung dengan definisi investasi itu sendiri, yang menurut OJK selalu mengandung ketidakpastian. Begitu ada pihak yang menghapus ketidakpastian dari kalimat penawarannya, yang dia jual bukan lagi investasi.

Mata kail berumpan menggantung di ruang gelap di atas permukaan datar
Imbal hasil tinggi yang dijanjikan pasti adalah umpan yang paling sering dipakai penawaran tanpa izin

OJK juga merinci ciri money game atau skema piramida, yang kerap menyamar sebagai peluang usaha. Tandanya antara lain tidak ada produk yang dijual, atau kalaupun ada dijual dengan harga yang tidak sesuai sehingga fungsinya sekadar kedok. Bonus aktif diperoleh dari perekrutan anggota baru, bonus pasif dihitung dari persentase nilai investasi yang ditanamkan, bayaran bonusnya tidak masuk akal, satu orang boleh punya lebih dari satu akun, dan perusahaannya tidak memiliki izin yang sesuai.

Lalu apa langkah konkretnya? OJK memberi urutan lewat tips berinvestasi secara aman. Kenali profil investasimu, pilih jenis dan produk sesuai kebutuhan, lalu perhatikan aspek legalitasnya. Pada tahap legalitas, OJK meminta kamu memastikan apakah lembaga yang menjual atau menawarkan produk tersebut telah memperoleh izin usaha yang sesuai dengan bidang usahanya. Setelah itu pahami siapa regulator yang mengawasi perusahaan tersebut, karena itu diperlukan untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi di masa mendatang. Terakhir, baca dengan saksama ketentuan produknya agar kamu memahami hak, kewajiban, manfaat, biaya, dan risikonya.

Frasa "sesuai dengan bidang usahanya" itu penting dan sering dijadikan celah. Izin tidak berlaku lintas bidang. OJK menjelaskan bahwa ia mengawasi pelaku usaha jasa keuangan di sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non bank. Sementara pialang berjangka dan pedagang berjangka berada di bawah Bappebti, koperasi di bawah Kementerian Koperasi dan UKM, serta penyelenggara jasa sistem pembayaran di bawah Bank Indonesia. Artinya sebuah entitas bisa saja benar-benar terdaftar untuk satu hal, lalu memakai status itu untuk menawarkan hal lain yang sama sekali tidak dicakup izinnya. Yang perlu kamu cocokkan bukan sekadar ada atau tidaknya izin, melainkan apakah izin itu memang untuk kegiatan yang sedang ditawarkan kepadamu.

Kalau masih ragu, jangan menebak. Penanganan penawaran tanpa izin dikoordinasikan oleh Satgas PASTI, yang dibentuk berdasarkan Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor 1/KDK.08/2023 tertanggal 30 November 2023 dan merupakan perubahan penyebutan dari Satgas Waspada Investasi. Satgas ini bukan satuan kerja OJK semata, melainkan wadah koordinasi antarinstansi yang beranggotakan 16 kementerian dan lembaga. Kanal resminya terbuka untuk pertanyaan maupun laporan melalui Kontak OJK 157, WhatsApp di nomor 081157157157, dan email satgaspasti@ojk.go.id.

Waspada: kalimat "dijamin pemerintah" atau "dijamin bank" di dalam penawaran justru masuk daftar karakteristik penipuan versi OJK, bukan tanda aman. Perlu kamu tahu pula batas penjaminan yang sebenarnya. Menurut LPS, yang dijamin adalah simpanan nasabah bank berbentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu, dengan nilai paling tinggi Rp2 miliar per nasabah per bank. Saham, reksa dana, obligasi, dan emas tidak ada dalam daftar itu karena memang bukan simpanan bank. Jadi tidak ada produk investasi pasar modal yang bisa mengklaim jaminan LPS.

Memulai dengan kepala dingin

Kalau kamu sudah sampai di sini, kamu sudah melewati bagian yang paling sering dilewati orang lain, dan itu modal yang lebih berharga daripada modal uang.

Urutan yang masuk akal kira-kira begini. Pertama, pastikan dana daruratmu ada di tempat yang mudah dicairkan, dengan acuan 6 sampai 12 kali pengeluaran bulanan sesuai kondisimu. Kedua, tuliskan tujuan uangnya dan kapan akan dipakai, karena dari situlah jangka waktu dan pilihan instrumen ditentukan, bukan dari tren yang sedang ramai. Ketiga, kenali profil risikomu dengan jujur, termasuk seberapa besar penurunan nilai yang benar-benar sanggup kamu tahan tanpa panik. Keempat, pelajari produknya sampai kamu bisa menjelaskan sendiri dari mana untungnya datang dan dalam kondisi apa kamu bisa rugi. Kelima, verifikasi legalitas penyedianya dan cocokkan dengan bidang usaha yang diizinkan. Keenam, sebarkan penempatanmu supaya satu kejadian buruk tidak menghabiskan semuanya.

Satu hal yang perlu kamu terima sejak awal: tidak ada titik ketika risiko investasi hilang sepenuhnya. Yang berubah seiring pengalaman bukan besarnya risiko, melainkan kemampuanmu mengenali, mengukur, dan memilih risiko mana yang bersedia kamu tanggung. Investor yang tenang bukan investor yang menemukan jalan tanpa risiko, melainkan yang sudah tahu apa yang mungkin terjadi dan sudah memutuskan sikapnya sebelum hal itu terjadi.

Perlu diingat juga bahwa angka imbal hasil, harga, dan ketentuan produk bergerak sepanjang waktu, jadi tidak ada angka yang bisa kamu pegang selamanya dari artikel mana pun, termasuk dari artikel ini. Saat kamu benar-benar hendak menempatkan dana, cek langsung ke sumber resmi: informasi produk di situs OJK, ketentuan penjaminan di situs LPS, dan dokumen resmi dari penyedia tempat kamu bertransaksi. Kalau kamu masih ingin memperkuat fondasinya lebih dulu, telusuri panduan di rubrik menabung kami.

Terakhir, dan ini penting: artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan bukan saran, ajakan, atau rekomendasi investasi. Uang Bijak tidak menjual produk investasi, tidak menganjurkan instrumen tertentu, dan tidak berafiliasi dengan penerbit atau penyedia mana pun. Keputusan investasi ada di tanganmu, sebaiknya diambil setelah membaca dokumen resmi produk dan menyesuaikannya dengan kondisi keuanganmu sendiri. Baca juga disclaimer kami.

Pertanyaan yang sering diajukan
Investasi adalah apa secara sederhana?
Menurut OJK, investasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai upaya membelanjakan sejumlah uang atau dana pada sesuatu hal yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan di masa depan. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari properti, surat berharga seperti deposito, saham, dan obligasi, logam mulia, perhiasan, sampai bentuk lainnya. Kata kuncinya adalah harapan keuntungan di masa depan, bukan kepastian keuntungan.
Apa bedanya menabung dan investasi?
Menabung menaruh uang di tempat yang nilainya relatif tidak bergerak dan mudah diambil, sehingga cocok untuk kebutuhan jangka pendek dan keadaan darurat. Investasi menempatkan uang pada aset yang nilainya bisa naik dan bisa turun, dengan harapan tumbuh dalam jangka lebih panjang. OJK menempatkan keduanya sebagai kegiatan yang saling melengkapi untuk memenuhi kebutuhan keuangan masa depan, bukan saling menggantikan.
Apakah investasi bisa rugi?
Bisa, dan ini bukan pengecualian melainkan bagian dari mekanismenya. OJK menyebut ada dua hal utama yang wajib dipahami dalam berinvestasi, yaitu tingkat imbal hasil yang ditawarkan (return) dan tingkat risiko (risk). Risiko sendiri didefinisikan OJK sebagai ketidakpastian yang menimbulkan lahirnya peristiwa kerugian yang tidak diinginkan. Tidak ada instrumen investasi yang menghilangkan kemungkinan rugi sepenuhnya.
Berapa dana darurat yang perlu siap sebelum mulai investasi?
OJK menyebut idealnya jumlah dana darurat yang perlu disiapkan adalah 6 sampai 12 kali jumlah pengeluaran per bulan, bergantung pada jumlah tanggungan dan pola konsumsi. Untuk yang masih lajang, 6 kali pengeluaran bulanan dinilai cukup. Bagi yang sudah berkeluarga atau punya tanggungan, angkanya setidaknya 9 sampai 12 kali pengeluaran per bulan. Dana ini perlu mudah diakses, jadi tempatnya bukan di aset yang harganya berfluktuasi.
Apakah semua produk investasi dijamin LPS?
Tidak. LPS menjamin simpanan nasabah bank yang berbentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. Saham, reksa dana, obligasi, dan emas bukan simpanan bank sehingga berada di luar cakupan penjaminan LPS. Nilai simpanan yang dijamin LPS pun ada batasnya dan ada syarat yang harus dipenuhi nasabah.
Bagaimana cara mengecek apakah penawaran investasi legal?
OJK menyarankan memastikan apakah lembaga yang menjual atau menawarkan produk tersebut telah memperoleh izin usaha yang sesuai dengan bidang usahanya, lalu memahami siapa regulator yang mengawasinya. Kalau masih ragu, kamu bisa bertanya ke kanal resmi. Satgas PASTI menyediakan Kontak OJK 157, WhatsApp di nomor 081157157157, dan email satgaspasti@ojk.go.id untuk pertanyaan maupun laporan.
Instrumen investasi apa yang paling cocok untuk pemula?
Tidak ada jawaban tunggal, dan OJK menyatakannya dengan tegas: tidak ada satu pun instrumen investasi yang cocok untuk semua orang. Setiap orang perlu mengenali profil risikonya masing-masing sebelum berinvestasi agar dapat memilih instrumen yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Tujuan keuangan, jangka waktu, dan toleransi terhadap penurunan nilai berbeda pada setiap orang, jadi keputusannya tidak bisa disalin dari orang lain.
Tentang penulis
Tim Redaksi Uang Bijak
Redaksi Editorial · Profil & kredensial

Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.

Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab

Masih ada yang ingin ditanyakan soal menabung? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.

Tanya via WhatsApp