Lompat ke konten
Mengatur Uang

Zero Based Budgeting Adalah: Cara Kerja, Langkah, dan Contoh Hitungannya

Zero based budgeting adalah metode anggaran yang memberi tugas pada setiap rupiah penghasilan sampai sisanya nol. Ini cara kerja, 7 langkah, contoh tabel, dan bedanya dengan 50/30/20.

Tim Redaksi Uang Bijak11 menit bacaDitinjau Ahmad Thariq Syauqi
Buku agenda terbuka di atas meja kayu dengan beberapa pena dan kacamata di atasnya
Zero based budgeting dimulai di atas kertas: setiap rupiah penghasilan bulan ini ditulis tugasnya sebelum dibelanjakan. Foto: Shixart1985 / Wikimedia Commons, CC BY 2.0

Zero based budgeting adalah metode anggaran yang membagi seluruh penghasilan dalam satu periode ke pos-pos yang jelas sampai penghasilan dikurangi semua alokasi sama dengan nol. Rumus intinya sederhana: penghasilan dikurangi pengeluaran, tabungan, cicilan, dan investasi yang direncanakan harus menyisakan Rp0 tanpa tugas.

Nol di sini sering disalahpahami. Artinya bukan kamu menghabiskan seluruh gaji, melainkan setiap rupiah sudah punya pekerjaan sebelum bulan berjalan. Menabung, mengisi dana darurat, dan membayar utang juga dihitung sebagai pekerjaan. Yang tidak boleh ada hanyalah uang yang "nganggur" tanpa rencana, karena uang seperti itu biasanya habis tanpa jejak.

Artikel ini menjelaskan cara kerja zero based budgeting untuk keuangan pribadi, tujuh langkah menyusunnya, contoh tabel alokasi, perbandingannya dengan aturan 50/30/20, serta kelebihan dan kekurangannya. Ini bagian dari seri pilar mengatur uang. Tulisan ini edukasi, bukan saran investasi.

Apa itu zero based budgeting

Istilah zero based budgeting awalnya dipakai dalam penganggaran organisasi. Gagasannya: setiap periode, anggaran disusun dari nol. Tidak ada pos yang otomatis berlanjut hanya karena tahun lalu ada. Setiap pengeluaran harus dibenarkan ulang.

Dalam keuangan pribadi, prinsip yang sama diterapkan setiap bulan. Kamu tidak menyalin anggaran bulan lalu begitu saja. Kamu bertanya ulang untuk tiap pos: apakah bulan ini masih perlu, dan berapa jumlah yang masuk akal? Bulan dengan acara keluarga, misalnya, punya pos yang tidak ada di bulan biasa.

Ada dua ciri yang membedakan metode ini dari cara lain:

  • Semua uang diberi tugas. Penghasilan habis dibagi di atas kertas, termasuk ke pos tabungan. Tidak ada kategori "sisa nanti saja dipikirkan".
  • Disusun ulang tiap periode. Angka tiap pos mengikuti kebutuhan nyata bulan itu, bukan persentase tetap.

Ciri pertama sejalan dengan saran OJK di materi dana darurat Sikapi Uangmu: sisihkan uang saat menerima pendapatan, bukan sisakan setelah pengeluaran. Zero based budgeting memformalkan saran itu untuk semua pos, bukan hanya dana darurat.

Kenapa metode ini relevan untuk keuangan pribadi

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 dari OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan 66,46% sementara inklusi keuangan 80,51%. Banyak orang sudah punya rekening, dompet digital, dan akses pinjaman, tetapi belum tentu punya cara yang rapi untuk mengendalikannya.

Masalah yang paling sering muncul bukan kekurangan penghasilan semata, melainkan uang yang bocor ke pengeluaran kecil yang tidak tercatat. Jajan harian, langganan yang lupa dihentikan, ongkos kirim, dan biaya admin terasa remeh satu per satu, tetapi menumpuk di akhir bulan. Zero based budgeting menutup kebocoran itu karena setiap rupiah harus masuk ke salah satu pos, termasuk pos jajan yang jumlahnya dibatasi.

Metode ini juga cocok untuk orang yang merasa "gaji selalu habis tanpa tahu ke mana". Dengan menulis tugas tiap rupiah di awal, kamu punya pembanding yang jelas di akhir bulan. Kalau dalam perencanaan keuangan tujuan jangka panjang sudah ditulis, zero based budgeting adalah alat bulanan untuk benar-benar menyisihkan uang menuju tujuan itu.

Beberapa amplop kertas abu-abu di atas latar merah
Metode amplop adalah cara fisik menjalankan zero based budgeting: tiap pos punya wadah sendiri dan jatahnya tidak dicampur. Foto: Miaow Miaow / Wikimedia Commons, domain publik

7 langkah menyusun zero based budgeting

Berikut urutan yang bisa kamu ikuti setiap awal bulan. Langkahnya sengaja dibuat sederhana supaya bisa dikerjakan dengan buku catatan biasa.

  1. Tulis penghasilan bersih bulan ini. Pakai angka yang benar-benar masuk ke rekening setelah potongan. Kalau penghasilanmu tidak tetap, pakai angka terendah yang realistis dari beberapa bulan terakhir.
  2. Daftar pengeluaran wajib. Tempat tinggal, makan, listrik, air, transportasi, pulsa atau internet, dan cicilan. Pos ini diisi lebih dulu karena tidak bisa ditawar.
  3. Tetapkan pos tabungan dan dana darurat. Tulis jumlahnya sebagai pengeluaran yang harus "dibayar" ke dirimu sendiri. Kalau dana darurat belum penuh, pos ini diprioritaskan.
  4. Masukkan tujuan dengan tenggat. Misalnya biaya sekolah tahun depan, pajak kendaraan, atau hadiah lebaran. Bagi menjadi setoran bulanan seperti metode sinking fund.
  5. Alokasikan pos keinginan. Makan di luar, hiburan, dan belanja pribadi tetap boleh, tetapi dengan batas yang jelas.
  6. Hitung sampai selisihnya nol. Jumlahkan semua pos, lalu kurangkan dari penghasilan. Kalau masih ada sisa, beri tugas. Kalau minus, kurangi pos keinginan dulu, baru pos lain.
  7. Catat, bandingkan, dan susun ulang. Selama bulan berjalan, catat pengeluaran nyata. Di akhir bulan, bandingkan dengan rencana, lalu pakai hasilnya untuk menyusun anggaran bulan berikutnya dari nol.

Langkah ketujuh sejalan dengan langkah keempat dan kelima dalam panduan "Cara Merencanakan Keuangan" OJK: laksanakan rencana dengan disiplin, lalu tinjau dan sempurnakan secara periodik. Tanpa evaluasi, anggaran hanya menjadi daftar harapan.

Contoh tabel zero based budgeting

Tabel berikut memakai angka ilustrasi untuk satu orang dengan penghasilan bersih Rp5.000.000 per bulan. Angka ini bukan patokan biaya hidup dan bukan rekomendasi, hanya untuk memperlihatkan cara menghitung sampai nol.

PosJenisAlokasi (ilustrasi)
Sewa kamar kosWajibRp1.300.000
Makan dan kebutuhan dapurWajibRp1.200.000
TransportasiWajibRp400.000
Listrik, air, internet, pulsaWajibRp250.000
Kiriman untuk orang tuaWajibRp400.000
Dana daruratTabunganRp600.000
Tabungan tujuan (misalnya liburan atau gawai)TabunganRp300.000
Investasi rutinTabunganRp200.000
Makan di luar dan hiburanKeinginanRp250.000
Cadangan lain-lainPenyanggaRp100.000
Total alokasiRp5.000.000
Penghasilan dikurangi alokasiRp0

Perhatikan dua hal. Pertama, pos tabungan ditulis sejajar dengan pos sewa, bukan di bawah "kalau ada sisa". Kedua, ada pos cadangan kecil sebagai penyangga, supaya pengeluaran tak terduga yang kecil tidak langsung merusak pos lain.

Kalau dana darurat sudah mencapai target, Rp600.000 di pos itu tidak hilang. Ia dipindahkan ke tugas baru, misalnya investasi jangka panjang atau tujuan lain. Inilah sebabnya metode ini harus disusun ulang tiap bulan.

Struk belanja kertas termal dari sebuah toko berisi tanggal, satu barang, diskon, dan total
Struk dan catatan transaksi adalah bahan evaluasi akhir bulan, tempat terlihat pos mana yang meleset dari rencana. Foto: Donald Trung Quoc Don / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Zero based budgeting vs aturan 50/30/20

Dua metode ini sama-sama populer, tetapi cara berpikirnya berbeda. Aturan 50/30/20 sudah kami bahas lengkap di aturan 50/30/20. Ringkasnya, penghasilan dibagi ke tiga kelompok dengan persentase tetap.

AspekZero based budgetingAturan 50/30/20
Dasar pembagianKebutuhan nyata tiap pos bulan ituPersentase tetap untuk tiga kelompok
Tingkat detailRinci, per posKasar, per kelompok besar
Waktu menyusunLebih lama, disusun ulang tiap bulanCepat, cukup sekali hitung
Sisa uang tanpa tugasHarus nolTidak diatur secara khusus
Cocok untukOrang yang ingin kontrol ketat atau sedang melunasi utangPemula yang butuh pegangan sederhana
Risiko utamaMelelahkan, mudah ditinggalkan kalau terlalu ketatTerlalu longgar untuk penghasilan pas-pasan

Tidak ada yang lebih benar secara mutlak. Banyak orang memulai dengan 50/30/20 untuk membangun kebiasaan, lalu beralih ke zero based budgeting ketika ingin lebih ketat, misalnya saat mengejar dana darurat atau melunasi cicilan. Ada juga yang menggabungkan: memakai 50/30/20 sebagai batas kelompok, lalu merinci isi tiap kelompok dengan cara zero based.

Kalau penghasilanmu kecil, persentase 50% untuk kebutuhan sering tidak cukup. Di situ zero based budgeting lebih jujur, karena angkanya mengikuti kebutuhan nyata, bukan persentase ideal. Pembahasan menyusun pos bulanan yang lebih umum ada di cara membuat anggaran bulanan.

Kelebihan dan kekurangan

Sebelum memilih metode ini, timbang dulu cocok tidaknya dengan kebiasaanmu.

Kelebihan:

  • Kebocoran terlihat. Karena tiap rupiah harus punya pos, pengeluaran kecil yang biasanya hilang ikut tercatat.
  • Tabungan tidak bergantung sisa. Pos tabungan dibayar di awal, sesuai saran OJK untuk menyisihkan saat menerima pendapatan.
  • Fleksibel terhadap perubahan. Bulan dengan kebutuhan khusus bisa disusun berbeda tanpa merusak sistem.
  • Membantu melunasi utang. Setiap rupiah ekstra bisa langsung diberi tugas mempercepat pelunasan.

Kekurangan:

  • Butuh waktu. Menyusun ulang semua pos setiap bulan lebih lama dibanding memakai persentase tetap.
  • Butuh disiplin mencatat. Tanpa catatan pengeluaran, evaluasi akhir bulan tidak mungkin dilakukan.
  • Mudah terasa mengekang. Anggaran yang terlalu ketat tanpa pos hiburan sering ditinggalkan di bulan kedua.
  • Kurang cocok saat penghasilan sangat fluktuatif kecuali disusun berdasarkan angka terendah dan didukung dana darurat yang tebal.

Cara menjalankannya: amplop, rekening terpisah, atau catatan

Zero based budgeting bisa dijalankan dengan beberapa alat. Pilih yang paling mungkin kamu pakai terus, bukan yang paling canggih.

  • Metode amplop. Uang tunai dibagi ke amplop sesuai pos. Kalau amplop makan di luar habis, berarti jatah bulan itu selesai. Cara ini efektif untuk pos yang sering bocor, tetapi kurang praktis kalau sebagian besar transaksimu sudah nontunai.
  • Rekening terpisah. Pos besar seperti dana darurat dan tabungan tujuan dipindah ke rekening lain di tanggal gajian. OJK sendiri menyarankan rekening khusus untuk dana darurat agar tidak tercampur. Pilihan tempatnya bisa dibaca di cara menabung di bank dan tabungan berjangka.
  • Catatan atau lembar kerja. Satu tabel berisi pos, rencana, dan realisasi. Ini yang paling fleksibel dan cocok untuk transaksi digital.

Banyak orang memakai kombinasi: rekening terpisah untuk pos tabungan, catatan untuk pos harian, dan amplop atau dompet digital terpisah khusus untuk jajan. Kalau kamu sering membayar dengan QRIS, pastikan riwayat transaksinya dicek mingguan supaya pos harian tidak terlewat.

Layar mesin ATM menampilkan menu transaksi di samping slot kartu
Transfer otomatis di tanggal gajian membantu memindahkan jatah tiap pos ke rekening masing-masing sebelum tergoda dibelanjakan. Foto: Syced / Wikimedia Commons, CC0

Kesalahan umum saat memakai zero based budgeting

Metode ini sederhana di atas kertas, tetapi ada beberapa jebakan yang membuatnya gagal di praktik.

  • Menganggap nol berarti menghabiskan uang. Ini salah kaprah paling umum. Nol berarti tidak ada uang tanpa tugas, bukan saldo nol.
  • Lupa pos tahunan. Pajak kendaraan, biaya sekolah, atau perpanjangan langganan tahunan datang sekaligus. Tanpa pos bulanan, pos ini menjebol anggaran di bulan jatuh temponya.
  • Tidak menyisakan pos cadangan. Selalu ada pengeluaran kecil yang tidak terduga. Pos penyangga kecil lebih realistis daripada berpura-pura semuanya bisa diprediksi.
  • Memakai penghasilan bulan terbaik. Untuk penghasilan tidak tetap, pakai angka terendah yang realistis.
  • Cicilan terlalu besar. Laman Masa Dewasa di Sikapi Uangmu OJK menyebut aturan umum bahwa total cicilan sebaiknya tidak melebihi 30% dari pendapatan. Kalau cicilan sudah memakan porsi lebih besar, zero based budgeting hanya akan memperlihatkan betapa sempitnya ruang gerak, dan prioritasnya adalah menurunkan beban utang.
  • Berhenti mengevaluasi. Anggaran yang tidak pernah dibandingkan dengan pengeluaran nyata akan makin jauh dari kenyataan.

Mengisi dana darurat dengan zero based budgeting

Salah satu kegunaan terbaik metode ini adalah membangun dana darurat. Materi Sikapi Uangmu OJK menyebut jumlah ideal 6 sampai 12 kali pengeluaran bulanan: 6 kali untuk lajang, dan setidaknya 9 sampai 12 kali untuk yang berkeluarga atau punya tanggungan. OJK juga menekankan bahwa dana ini tidak perlu dikumpulkan sekaligus.

Dengan zero based budgeting, dana darurat menjadi satu pos dengan setoran tetap. Contohnya, dengan pengeluaran rutin Rp4.000.000 per bulan, target untuk lajang adalah Rp24.000.000. Setoran Rp600.000 per bulan seperti di tabel ilustrasi akan mencapainya dalam sekitar 40 bulan. Kalau terasa terlalu lama, kamu bisa memindahkan sebagian pos keinginan ke pos ini, atau mengalokasikan bonus dan penghasilan tambahan langsung ke sana.

Hitung kebutuhanmu sendiri dengan kalkulator dana darurat, dan baca alasan lengkapnya di artikel dana darurat. Setelah dana darurat penuh, pos yang sama bisa dialihkan ke investasi. Dasar-dasarnya ada di investasi adalah dan pilihan untuk pemula seperti reksadana pasar uang.

Koin lima ratus rupiah tampak belakang difoto sangat dekat dengan detail bunga melati
Dalam zero based budgeting, sisa sekecil apa pun tetap diberi tugas, misalnya ditambahkan ke tabungan atau dana darurat. Foto: Crisco 1492 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Siapa yang paling cocok memakai metode ini

Zero based budgeting paling terasa manfaatnya untuk beberapa kelompok berikut:

  • Pekerja baru yang ingin membangun kebiasaan sejak gaji pertama, sebelum gaya hidup ikut naik.
  • Orang yang sedang melunasi utang, karena setiap rupiah ekstra bisa diarahkan ke pelunasan.
  • Keluarga muda yang pengeluarannya banyak pos dan sering berubah. Untuk konteks rumah tangga, lihat juga cara menyusun anggaran rumah tangga.
  • Orang yang merasa gaji selalu habis tanpa jejak, karena metode ini memaksa setiap pengeluaran tercatat.

Sebaliknya, kalau kamu sudah punya kebiasaan menabung otomatis yang berjalan baik dan pengeluaranmu stabil, metode yang lebih sederhana mungkin cukup. Yang penting bukan metodenya, melainkan konsistensinya. Untuk mengecek apakah kondisi keuanganmu sudah sehat, gunakan financial check up.

Kesimpulan

Zero based budgeting adalah metode anggaran yang memberi tugas pada setiap rupiah penghasilan sampai sisanya nol. Kuncinya ada di tiga kebiasaan: menulis alokasi di awal bulan, memperlakukan tabungan sebagai pos wajib, dan mengevaluasi lalu menyusun ulang dari nol setiap bulan.

Mulailah dari satu bulan saja. Tulis penghasilan bersihmu, isi pos wajib, tetapkan pos tabungan dan dana darurat, sisakan pos cadangan kecil, lalu hitung sampai selisihnya nol. Kalau ada pertanyaan, kamu bisa tanya lewat WhatsApp.

Tulisan ini bersifat edukasi, bukan nasihat keuangan, bukan saran investasi, dan tidak merekomendasikan produk apa pun. Angka dalam contoh adalah ilustrasi untuk menjelaskan cara menghitung, bukan patokan biaya hidup.

Pertanyaan yang sering diajukan
Zero based budgeting adalah apa?
Zero based budgeting adalah metode anggaran pribadi yang membagi seluruh penghasilan satu periode ke pos-pos yang jelas sampai selisih penghasilan dikurangi semua alokasi sama dengan nol. Nol di sini bukan berarti uangnya habis dibelanjakan, melainkan setiap rupiah sudah punya tugas, termasuk tugas menabung, membayar utang, dan mengisi dana darurat.
Apakah zero based budgeting berarti tidak menabung?
Tidak. Tabungan, dana darurat, dan investasi justru ditulis sebagai pos sendiri di awal, sama seperti pos makan atau listrik. Yang dibuat nol adalah uang tanpa tugas, bukan saldo rekening. Kalau kamu menyisihkan Rp1.000.000 untuk tabungan, angka itu sudah dihitung dalam alokasi sehingga sisa tanpa tugasnya nol.
Apa beda zero based budgeting dengan aturan 50/30/20?
Aturan 50/30/20 membagi penghasilan ke tiga kelompok besar dengan persentase tetap, yaitu kebutuhan, keinginan, dan tabungan. Zero based budgeting tidak memakai persentase baku. Setiap pos dihitung dari kebutuhan nyata bulan itu, lalu disesuaikan sampai totalnya sama dengan penghasilan. 50/30/20 lebih cepat dibuat, zero based budgeting lebih rinci dan lebih ketat.
Kenapa disebut zero based?
Karena setiap periode anggaran disusun dari nol, bukan dengan menyalin anggaran bulan lalu lalu menambah sedikit. Setiap pos harus dibenarkan ulang: apakah masih perlu, dan berapa jumlah yang wajar bulan ini. Istilah zero based budgeting awalnya dipakai dalam penganggaran organisasi, lalu diadaptasi untuk keuangan pribadi.
Apakah cocok untuk penghasilan yang tidak tetap?
Bisa, dengan penyesuaian. Susun anggaran berdasarkan penghasilan terendah yang realistis dalam beberapa bulan terakhir, bukan rata-rata atau bulan terbaik. Kalau penghasilan bulan itu ternyata lebih besar, kelebihannya langsung diberi tugas, misalnya menambah dana darurat. Pekerja lepas juga sebaiknya menyimpan dana darurat lebih tebal.
Berapa dana darurat yang perlu masuk ke pos anggaran?
Materi dana darurat di Sikapi Uangmu OJK menyebut jumlah ideal 6 sampai 12 kali pengeluaran bulanan, cukup 6 kali untuk lajang dan setidaknya 9 sampai 12 kali untuk yang berkeluarga atau punya tanggungan. Dalam zero based budgeting, pengisian dana darurat dijadikan pos bulanan sampai jumlah itu tercapai.
Apa kelemahan zero based budgeting?
Metode ini butuh waktu dan disiplin mencatat. Menyusun ulang semua pos setiap bulan lebih melelahkan dibanding memakai persentase tetap, dan anggaran yang terlalu ketat tanpa pos cadangan mudah jebol oleh pengeluaran kecil yang tidak terduga. Karena itu banyak orang menambahkan pos lain-lain atau cadangan kecil.
Perlu aplikasi khusus untuk menjalankannya?
Tidak wajib. Buku catatan, lembar kerja di ponsel, atau beberapa amplop sudah cukup. Yang penting ada satu tempat untuk menulis rencana alokasi di awal bulan dan satu kebiasaan untuk membandingkannya dengan pengeluaran nyata di akhir bulan.
Tentang penulis
Tim Redaksi Uang Bijak
Redaksi Editorial · Profil & kredensial

Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.

Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab

Masih ada yang ingin ditanyakan soal mengatur uang? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.

Tanya via WhatsApp