Lompat ke konten
Mengatur Uang

Inflasi dan Tabungan: Cara Membaca Angka Resmi dan Dampaknya pada Uangmu

Inflasi adalah kenaikan harga secara umum dan terus menerus. Ini cara membaca rilis IHK BPS, inflasi inti, sasaran BI, dan dampaknya pada uang tabunganmu.

Tim Redaksi Uang BijakDiperbarui 14 menit bacaDitinjau Ahmad Thariq Syauqi
Karung-karung beras terbuka berisi beragam jenis beras putih, merah, dan ketan dengan label harga tulisan tangan di lapak pedagang beras pasar di Jakarta
Harga kebutuhan pokok seperti beras ikut membentuk angka inflasi, dan angka itulah yang perlu dibandingkan dengan imbal hasil tabunganmu. Foto: Midori / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Rumusan itu diambil dari laman resmi Bank Indonesia, dan dua katanya penting: umum dan terus menerus. Laman yang sama menegaskan kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan harga pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

Artikel ini tidak membahas apakah harga akan naik atau turun ke depan. Yang kami bahas adalah cara membaca angka yang sudah terbit, siapa yang menerbitkannya, dan apa artinya bagi uang yang kamu simpan. Kalau kamu sedang menata pos-pos penghasilan, mulai dari aturan 50 30 20 dan cara membuat anggaran bulanan. Kalau kamu sedang menyiapkan cadangan, kerangkanya ada di dana darurat, dan kebiasaan menyisihkannya dibahas di cara menabung.

Pembaruan data 14 Oktober 2026: inflasi tahunan September 2026 tercatat 3,28%, sedangkan inflasi bulanannya 0,30%. Publikasi resmi Bank Indonesia tanggal 1 Oktober 2026 yang mengutip BPS mendukung kedua angka itu. Ini data yang sudah terjadi, bukan ramalan.

Tabel rinci dan contoh hitungan Agustus 2026 di bawah tetap memakai Berita Resmi Statistik BPS Nomor 85/09/Th. XXIX, rilis 1 September 2026, sebagai contoh historis. Dokumen itu, laman definisi dan Target Inflasi Bank Indonesia, serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31 Tahun 2024 sebelumnya diakses pada 9 September 2026. Seri Data Inflasi dan publikasi September diperiksa ulang pada 14 Oktober 2026. Tulisan ini bersifat edukasi, bukan nasihat keuangan, bukan ajakan membeli atau menjual produk apa pun, dan tidak menjanjikan hasil.

Siapa menghitung inflasi dan siapa memakai angkanya

Ada pembagian tugas yang perlu kamu pegang sejak awal, karena banyak salah kutip dimulai dari sini. Laman resmi Bank Indonesia menyatakan perhitungan inflasi dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, yang melakukan survei untuk mengumpulkan data harga dari berbagai macam barang dan jasa yang dianggap mewakili belanja konsumsi masyarakat, lalu menghitung tingkat inflasi dengan membandingkan harga saat ini dengan periode sebelumnya. Jadi BPS adalah pembuat angka.

Bank Indonesia adalah pemakai angka itu untuk kebijakan moneter. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31 Tahun 2024 pada Pasal 1 angka 2 merumuskan hal ini dengan rapi: Inflasi Indeks Harga Konsumen atau headline inflation adalah kenaikan Indeks Harga Konsumen dari waktu ke waktu tertentu yang dihitung dan dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik. Aturan yang sama pada Pasal 1 angka 1 mendefinisikan Sasaran Inflasi sebagai suatu tingkat inflasi yang ingin dicapai dalam suatu kurun waktu tertentu.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan, adalah pihak yang menetapkan sasarannya. Laman Bank Indonesia menjelaskan bahwa dalam Perjanjian Kerja Sama antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, usulan sasaran inflasi dibahas bersama dalam rapat koordinasi tingkat kementerian dan lembaga, kemudian ditetapkan oleh Pemerintah untuk kurun waktu tertentu melalui Peraturan Menteri Keuangan.

PeranLembagaBentuk keluarannya
Menghitung dan memublikasikan inflasiBadan Pusat StatistikBerita Resmi Statistik bulanan dan tabel seri data
Menetapkan sasaran inflasiPemerintah lewat Kementerian KeuanganPeraturan Menteri Keuangan
Mengarahkan kebijakan moneter ke sasaran ituBank IndonesiaKeputusan kebijakan dan publikasi analisis

Karena tiga peran itu terpisah, satu angka inflasi yang kamu temui perlu selalu disertai keterangan sumber dan periodenya. Angka tanpa periode tidak bisa dipakai apa pun, dan itu berlaku juga untuk hitungan pribadimu seperti yang dibahas di financial check up.

Cara BPS mengukurnya: IHK, tahun dasar, dan 150 kabupaten kota

Alat ukurnya adalah Indeks Harga Konsumen. Berita Resmi Statistik BPS Nomor 85/09/Th. XXIX berjudul Perkembangan Indeks Harga Konsumen Agustus 2026, yang dirilis pada 1 September 2026, menyatakan bahwa perkembangan harga dipantau BPS di 150 kabupaten atau kota. Angka cakupan itu penting: inflasi nasional adalah agregat dari pemantauan di banyak wilayah, bukan hasil satu kota.

Tabel-tabel dalam rilis itu memberi label tahun dasar secara eksplisit, yaitu 2022 sama dengan 100. Artinya nilai indeks 100 mewakili tingkat harga rata-rata pada tahun 2022. Rilis tersebut mencantumkan IHK umum sebesar 108,51 pada Agustus 2025, 109,92 pada Desember 2025, dan 111,97 pada Agustus 2026. Dari tiga angka itu saja kamu sudah bisa menghitung sendiri tiga jenis inflasi tanpa menunggu siapa pun.

Catatan kaki pada tabel wilayah menyebut dua jenis sampel, yaitu sampel baru hasil Survei Biaya Hidup 2022 dan sampel lanjutan dari Survei Biaya Hidup 2018. Keterangan itu menjelaskan mengapa daftar wilayah dalam rilis bisa berubah komposisinya antarwaktu, dan mengapa membandingkan angka wilayah lintas periode panjang perlu kehati-hatian.

Angka dalam rilis Agustus 2026NilaiArtinya
Tahun dasar2022 = 100Tingkat harga rata-rata 2022 dijadikan titik acuan
Cakupan pemantauan150 kabupaten atau kotaBasis wilayah penghitungan inflasi nasional
IHK Agustus 2025108,51Tingkat harga setahun sebelum periode rilis
IHK Desember 2025109,92Titik awal perhitungan tahun kalender 2026
IHK Agustus 2026111,97Tingkat harga pada periode rilis

Perhatikan bahwa IHK adalah angka indeks, bukan persentase. Nilai 111,97 tidak berarti harga naik 111,97 persen. Ia berarti tingkat harga berada 11,97 persen di atas tingkat harga tahun dasar 2022. Kesalahan membaca dua satuan ini adalah salah satu sumber kekeliruan paling sering di internet.

Sebelas kelompok pengeluaran yang membentuk keranjangnya

Isi keranjang belanja yang diukur tidak dipilih sembarangan. Laman resmi Bank Indonesia menyatakan bahwa berdasarkan the Classification of Individual Consumption by Purpose atau COICOP 2018, IHK dikelompokkan ke dalam sebelas kelompok pengeluaran. Daftarnya adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau; pakaian dan alas kaki; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga; kesehatan; transportasi; informasi, komunikasi, dan jasa keuangan; rekreasi, olahraga, dan budaya; pendidikan; penyediaan makanan dan minuman atau restoran; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Rilis BPS Agustus 2026 memberi tingkat inflasi tahun ke tahun untuk setiap kelompok itu, sekaligus andil atau sumbangannya terhadap inflasi umum. Kolom andil inilah yang sering dilewati padahal paling menjelaskan. Ia menunjukkan berapa bagian dari angka 3,19 persen yang berasal dari tiap kelompok, sehingga kelompok dengan kenaikan persentase besar tetapi bobot kecil tidak terlihat lebih penting daripada yang sebenarnya.

Kelompok pengeluaranInflasi y-on-y Agustus 2026Andil y-on-y
Makanan, minuman, dan tembakau3,86%1,13%
Pakaian dan alas kaki1,20%0,06%
Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga1,01%0,16%
Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga2,00%0,10%
Kesehatan2,12%0,06%
Transportasi4,79%0,58%
Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan1,72%0,10%
Rekreasi, olahraga, dan budaya1,75%0,03%
Pendidikan1,20%0,07%
Penyediaan makanan dan minuman atau restoran2,67%0,27%
Perawatan pribadi dan jasa lainnya9,25%0,63%

Baris terakhir adalah contoh bagus tentang cara membaca andil. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi, 9,25 persen, tetapi andilnya 0,63 persen, sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 3,86 persen menyumbang 1,13 persen. Rilis itu juga menyebut komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahun ke tahun, di antaranya daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, tarif angkutan udara, dan emas perhiasan, sementara bawang merah, telur ayam ras, tomat, kelapa, dan tarif jalan tol tercatat menyumbang deflasi.

Satu catatan penting untuk rumah tanggamu sendiri: keranjang BPS adalah keranjang rata-rata nasional, bukan keranjangmu. Kalau pengeluaran terbesarmu ada di kelompok tertentu, inflasi yang kamu rasakan bisa berbeda dari angka umum. Cara menyusun keranjangmu sendiri dibahas di cara menyusun anggaran rumah tangga. Karena emas perhiasan disebut sebagai salah satu penyumbang, pembahasan terpisah mengenai pergerakan harganya ada di kenapa harga emas naik turun dan bentuk fisiknya di emas batangan.

Lapak sayur di pasar mingguan beratap seng dengan tumpukan kacang panjang, mentimun, dan tomat, sementara pedagang dan pembeli beraktivitas di lorong pasar
Keranjang yang dipakai untuk menghitung inflasi tidak hanya berisi bahan makanan, tetapi juga mencakup kelompok pengeluaran lain dalam hidup sehari-hari. Foto: Natalia Wewo / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Tiga cara menghitung inflasi dan kapan memakai yang mana

Rilis BPS menyajikan tiga angka sekaligus, dan catatan di bawah tabelnya mendefinisikan ketiganya tanpa ruang tafsir. Inflasi month-to-month adalah persentase perubahan IHK Agustus 2026 terhadap IHK Juli 2026. Inflasi year to date adalah persentase perubahan IHK Agustus 2026 terhadap IHK Desember 2025. Inflasi year-on-year adalah persentase perubahan IHK Agustus 2026 terhadap IHK Agustus 2025.

Untuk Agustus 2026, rilis itu mencatat inflasi month-to-month 0,21 persen, year to date 1,86 persen, dan year-on-year 3,19 persen. Ketiganya benar dan tidak saling bertentangan, karena mengukur jarak dari titik awal yang berbeda.

JenisTitik pembandingAngka Agustus 2026Cocok untuk
Month-to-month (m-to-m)IHK Juli 20260,21%Melihat tekanan harga paling baru
Year to date (y-to-d)IHK Desember 20251,86%Melihat akumulasi sepanjang tahun kalender
Year-on-year (y-on-y)IHK Agustus 20253,19%Membandingkan dengan periode yang sama tahun lalu

Rilis yang sama menyediakan pembanding antartahun untuk bulan Agustus, dan tabel itu berguna untuk melihat bahwa satu bulan bisa berperilaku berbeda antartahun. Pada Agustus 2024 inflasi month-to-month tercatat minus 0,03 persen, pada Agustus 2025 minus 0,08 persen, dan pada Agustus 2026 positif 0,21 persen. Untuk year to date, angkanya 0,87 persen pada 2024, 1,60 persen pada 2025, dan 1,86 persen pada 2026. Untuk year-on-year, 2,12 persen pada 2024, 2,31 persen pada 2025, dan 3,19 persen pada 2026.

Laman Data Inflasi Bank Indonesia, yang diperiksa ulang pada 14 Oktober 2026, menampilkan seri bulanan tahun ke tahun: Januari 3,55 persen, Februari 4,76 persen, Maret 3,48 persen, April 2,42 persen, Mei 3,08 persen, Juni 3,34 persen, Juli 2,88 persen, dan Agustus 3,19 persen. Laman yang sama mencatat Desember 2025 sebesar 2,92 persen dan November 2025 sebesar 2,72 persen. Secara terpisah, publikasi IHK September 2026 yang dirujuk di awal artikel mencatat September 3,28 persen. Angka 3,28 persen milik September, bukan Juni. Perhatikan bahwa angkanya naik turun antarbulan, dan itu alasan tambahan untuk tidak menarik kesimpulan dari satu bulan saja.

Kesalahan yang paling sering terjadi: membandingkan inflasi bulanan satu periode dengan inflasi tahunan periode lain, lalu menyimpulkan ada lonjakan atau penurunan besar. Dua angka itu memakai titik pembanding berbeda, jadi selisihnya tidak berarti apa pun. Sebelum membandingkan dua angka inflasi, pastikan keduanya jenis yang sama dan bacalah catatan di bawah tabelnya.

Inflasi inti dan dua komponen non-inti

Selain pengelompokan berdasarkan COICOP, BPS juga memublikasikan pengelompokan lain yang disebut disagregasi inflasi. Laman resmi Bank Indonesia menjelaskan bahwa disagregasi dilakukan untuk menghasilkan indikator inflasi yang menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental.

Menurut laman itu, inflasi inti adalah komponen inflasi yang cenderung stabil atau persisten dalam pergerakannya dan dipengaruhi faktor fundamental, yaitu interaksi permintaan dan penawaran, lingkungan eksternal seperti nilai tukar serta harga komoditas internasional dan perkembangan ekonomi global, serta ekspektasi inflasi di masa depan. Inflasi non-inti adalah komponen yang cenderung memiliki volatilitas tinggi karena dipengaruhi selain faktor fundamental, dan terdiri atas dua bagian. Komponen bergejolak atau volatile food dipengaruhi kejutan dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau perkembangan harga komoditas pangan. Komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices dipengaruhi kejutan berupa kebijakan harga pemerintah seperti harga bahan bakar bersubsidi, tarif listrik, dan tarif angkutan.

Laman yang sama menyebut satu angka bobot yang menjelaskan banyak hal: dari bobot dalam keranjang IHK, kelompok volatile food dan administered prices mencakup kurang lebih 40 persen. Karena dua kelompok itulah yang paling dipengaruhi kejutan penawaran, laman Bank Indonesia menyimpulkan kemampuan Bank Indonesia mengendalikan inflasi relatif terbatas apabila terdapat kejutan yang sangat besar.

KomponenIHK Agustus 2026m-to-my-to-dy-on-yAndil y-on-y
Umum (headline)111,970,21%1,86%3,19%3,19%
Inti109,980,21%1,97%2,92%1,87%
Harga diatur pemerintah113,69-0,33%2,52%3,32%0,65%
Bergejolak118,080,88%0,72%4,06%0,67%
Energi110,74-0,25%2,86%3,18%0,36%
Bahan makanan116,780,71%1,40%4,22%0,87%

Angka pada tabel itu diambil dari rilis BPS Agustus 2026. Bacaannya begini: dari inflasi umum tahun ke tahun 3,19 persen, komponen inti menyumbang 1,87 persen, komponen harga diatur pemerintah 0,65 persen, dan komponen bergejolak 0,67 persen. Komponen inti sendiri naik lebih pelan daripada dua komponen lainnya pada periode itu. Kalau kamu ingin memahami tekanan harga yang bersifat mendasar, komponen inti yang perlu kamu lihat, sedangkan lonjakan pada komponen bergejolak sering bersifat sementara.

Lorong pasar tradisional beratap tinggi dengan deretan karung jaring merah berisi bawang merah menumpuk di kedua sisi dan timbangan di atas meja lapak
Harga bahan pangan seperti bawang bisa naik turun tajam, dan itulah sebabnya angka inflasi dipisahkan antara inti dan komponen yang bergejolak. Foto: Ivuvisual / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Sasaran inflasi Bank Indonesia dan dasar hukumnya

Sasaran inflasi bukan ramalan dan bukan pula angka yang dipilih Bank Indonesia sendiri. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31 Tahun 2024 tentang Sasaran Inflasi Tahun 2025, Tahun 2026, dan Tahun 2027 yang ditetapkan di Jakarta pada 16 Mei 2024 mengatur tiga hal secara berurutan.

Pasal 2 menetapkan jenis dan bentuknya. Jenis sasaran inflasi yang ditetapkan menggunakan Inflasi IHK tahunan year-on-year pada akhir tahun, dan bentuknya menggunakan titik dengan deviasi. Jadi yang dinilai bukan rata-rata sepanjang tahun, melainkan angka tahun ke tahun pada akhir tahun. Pasal 3 menetapkan tingkatnya: 2,5 persen untuk tahun 2025, 2,5 persen untuk tahun 2026, dan 2,5 persen untuk tahun 2027, dengan deviasi sebesar 1,0 persen. Pasal 4 menyatakan aturan itu berlaku pada tanggal diundangkan.

Konsiderans aturan tersebut menyebut dasar koordinasinya. Ada Pasal 21 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengatur bahwa Pemerintah dan Bank Indonesia berkoordinasi dalam penetapan dan pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter. Ada juga Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023, yang menjadikan sasaran inflasi acuan bagi penetapan dan pelaksanaan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia.

Laman Target Inflasi di situs Bank Indonesia menyajikan target dan inflasi aktual berdampingan per tahun, dan tabel itu berguna untuk memahami bahwa sasaran memang tidak selalu tercapai. Pada tabel yang kami akses, tahun 2020 bertarget 3 plus minus 1 persen dengan aktual 1,68 persen, tahun 2021 bertarget 3 plus minus 1 persen dengan aktual 1,87 persen, tahun 2022 bertarget 3 plus minus 1 persen dengan aktual 5,51 persen, tahun 2023 bertarget 3 plus minus 1 persen dengan aktual 2,61 persen, tahun 2024 bertarget 2,5 plus minus 1 persen dengan aktual 1,57 persen, dan tahun 2025 bertarget 2,5 plus minus 1 persen dengan aktual 2,92 persen. Untuk tahun 2026, tabel itu mencantumkan target 2,5 plus minus 1 persen tanpa angka aktual tahunan, karena tahunnya belum berakhir.

TahunTarget inflasiInflasi aktual (%, yoy)
20223 plus minus 1%5,51
20233 plus minus 1%2,61
20242,5 plus minus 1%1,57
20252,5 plus minus 1%2,92
20262,5 plus minus 1%Belum tersedia

Perlu ditegaskan: kami tidak menulis proyeksi inflasi ke depan, dan sasaran di atas bukan proyeksi. Ia target kebijakan yang ditetapkan Pemerintah. Laman Bank Indonesia juga mencatat bahwa pencapaian sasaran inflasi memerlukan kerja sama dan koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia, dan bahwa koordinasi teknis itu diwujudkan lewat Tim Koordinasi Penetapan Sasaran, Pemantauan dan Pengendalian Inflasi di tingkat pusat sejak tahun 2005, yang sejak tahun 2008 diperluas ke level daerah.

Cara membaca rilis resmi BPS sendiri

Kamu tidak perlu bergantung pada ringkasan siapa pun. Rilis inflasi BPS punya struktur yang stabil dari bulan ke bulan, jadi sekali kamu hafal letaknya, membaca rilis berikutnya hanya butuh beberapa menit.

  1. Periksa identitas rilisnya. Setiap Berita Resmi Statistik punya nomor dan tanggal, misalnya Nomor 85/09/Th. XXIX tanggal 1 September 2026. Catat keduanya bersama angka yang kamu ambil, supaya kutipanmu bisa diperiksa ulang.
  2. Baca abstraksi di laman rilis. Bagian ini memuat angka utama, yaitu inflasi tahun ke tahun beserta nilai IHK, plus provinsi dan kabupaten atau kota dengan inflasi tertinggi dan terendah.
  3. Buka Tabel 1 untuk kelompok pengeluaran. Di sini ada IHK tiga periode, tingkat inflasi tiga jenis, dan dua kolom andil. Baca catatan di bawah tabelnya lebih dulu, karena di situlah definisi tiap kolom berada.
  4. Bedakan satuan. Kolom IHK berisi angka indeks, kolom tingkat inflasi berisi persen, dan kolom andil berisi persen terhadap inflasi umum. Ketiganya tidak boleh dipertukarkan.
  5. Buka tabel perbandingan antartahun. Bagian ini memperlihatkan bulan yang sama pada beberapa tahun, cara paling cepat menilai apakah suatu bulan berperilaku tidak biasa.
  6. Buka tabel komponen untuk melihat inti, harga diatur pemerintah, dan bergejolak. Ini yang menjawab pertanyaan sumber kenaikan harganya berasal dari mana.
  7. Turunkan ke wilayahmu bila perlu. Rilis memuat rincian per provinsi dan per kabupaten atau kota, dan angka wilayahmu bisa cukup jauh dari angka nasional. Pada Agustus 2026, misalnya, inflasi tahun ke tahun tertinggi di tingkat provinsi tercatat di Maluku Utara sebesar 5,28 persen dengan IHK 114,25, dan terendah di Kalimantan Utara sebesar 2,17 persen dengan IHK 110,00. Di tingkat kabupaten atau kota, tertinggi tercatat di Kabupaten Kapuas sebesar 6,20 persen dengan IHK 114,56 dan terendah di Kabupaten Morowali sebesar 1,22 persen dengan IHK 113,28.

Untuk seri waktu yang lebih panjang, arsip Berita Resmi Statistik di laman BPS memuat rilis bulan-bulan sebelumnya, sedangkan Bank Indonesia menyediakan laman Data Inflasi yang menampilkan seri bulanan tahun ke tahun dalam satu tabel. Dua tempat itu berguna ketika kamu ingin melihat pola, bukan satu titik.

Dampaknya pada tabungan, dengan ilustrasi aritmetika

Bagian ini murni ilustrasi hitungan, bukan proyeksi, dan tidak menyatakan apa pun tentang periode ke depan. Kami hanya memakai satu angka yang sudah terbit, yaitu inflasi tahun ke tahun Agustus 2026 sebesar 3,19 persen, lalu menghitung ke belakang.

Prinsipnya sederhana. Kalau tingkat harga umum naik sebesar i dalam bentuk desimal, maka uang bernominal tetap punya daya beli setara nominal dibagi satu ditambah i. Dengan i sebesar 0,0319, uang Rp10.000.000 yang disimpan tanpa tambahan apa pun punya daya beli setara sekitar Rp9.691.000 dibandingkan setahun sebelumnya. Selisihnya sekitar Rp309.000, dan selisih itu tidak hilang dari rekeningmu, melainkan hilang dari kemampuan uang itu membeli barang.

Dibalik arahnya, agar daya belinya setara dengan setahun sebelumnya, nominal Rp10.000.000 perlu menjadi sekitar Rp10.319.000. Angka Rp319.000 itulah yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekadar bertahan, belum bertambah.

Uraian ilustrasiAngka
IHK Agustus 2025 (BPS, 2022 = 100)108,51
IHK Agustus 2026 (BPS, 2022 = 100)111,97
Inflasi y-on-y Agustus 2026 (BPS)3,19%
Nominal tabungan pada ilustrasi iniRp10.000.000
Daya beli setara pada tingkat harga Agustus 2026Sekitar Rp9.691.000
Selisih daya beliSekitar Rp309.000
Nominal yang dibutuhkan agar daya beli setaraSekitar Rp10.319.000

Tiga catatan agar ilustrasi ini tidak disalahpakai. Pertama, 3,19 persen adalah angka nasional untuk periode Agustus 2025 sampai Agustus 2026, bukan angka yang berlaku untuk periode lain dan bukan angka yang berlaku untuk keranjang belanjamu sendiri. Kedua, kami sengaja tidak memasukkan imbal hasil produk apa pun ke dalam hitungan, karena tingkat bunga dan hasil investasi berbeda antarproduk, berubah sewaktu-waktu, dan hanya sah diambil dari dokumen resmi produk yang kamu pertimbangkan. Cara menghitungnya untuk produk simpanan berjangka dijelaskan di cara hitung bunga deposito. Ketiga, hitungan ini melihat ke belakang. Kami tidak memproyeksikan inflasi ke depan.

Kalau kamu memakai ilustrasi ini untuk memeriksa targetmu sendiri, misalnya target menabung seperti di cara menabung 10 juta 3 bulan atau tabungan pendidikan seperti di cara menabung dana pendidikan anak, gantilah angka inflasinya dengan angka rilis terbaru dan sebutkan periodenya. Untuk memilih tempat menyimpannya, mekanisme produk simpanan dibahas di cara menabung di bank, dan cakupan penjaminannya di penjaminan LPS.

Deretan uang kertas rupiah lama dari berbagai pecahan dan tahun terbit dipajang dalam plastik pelindung di atas meja pameran koleksi
Pecahan yang dulu cukup untuk belanja kini tinggal benda koleksi, gambaran sederhana bagaimana inflasi menggerus daya beli uang dari waktu ke waktu. Foto: Anis Eka from Malang, Indonesia / Wikimedia Commons, CC BY 2.0

Apa artinya untuk pilihan instrumen, dan apa yang tidak boleh disimpulkan

Kesimpulan yang benar dari angka inflasi bukan berhenti menabung, melainkan memisahkan fungsi setiap pos uang. Tabungan dan produk simpanan dirancang untuk kepastian pencairan dan risiko nilai yang rendah, bukan untuk mengalahkan kenaikan harga. Untuk dana yang mungkin kamu butuhkan besok, kepastian itu justru nilai utamanya, dan ukuran cadangannya sudah dibahas di dana darurat.

Untuk dana bertujuan jangka menengah dan panjang, pilihan wadahnya lebih beragam, dan yang perlu kamu lakukan adalah membaca dokumen resmi tiap produk, bukan membandingkan angka imbal hasil yang beredar di internet. Mekanisme produk simpanan berjangka dijelaskan di deposito adalah, cara membaca acuan bunganya di suku bunga deposito dan bunga deposito tertinggi. Untuk instrumen pasar modal, kerangka dasarnya ada di investasi adalah, bentuk paling konservatif di keluarga reksa dana dibahas di reksadana pasar uang, pengelompokan produknya di jenis reksadana dan pengertian dasarnya di reksadana adalah, strategi yang mengikuti indeks acuan di reksadana indeks, sedangkan surat utang beserta cara kerja kuponnya di obligasi adalah.

Fungsi pos uangmuYang paling pentingPertanyaan yang perlu kamu ajukan
Belanja bulananKetersediaan seketikaApakah dana ini bisa dipakai hari ini tanpa syarat
Dana daruratKepastian pencairan dan risiko nilai rendahBerapa lama dana bisa cair dan apakah nilainya bisa turun
Tujuan 1 sampai 3 tahunKejelasan jangka waktu dan biayaKapan jatuh temponya dan biaya apa yang menempel
Tujuan di atas 5 tahunKejelasan risiko dan struktur biayaApa yang bisa membuat nilainya turun dan siapa memikul biayanya

Ada tiga hal yang tidak boleh kamu simpulkan dari artikel ini. Pertama, jangan menyimpulkan bahwa inflasi akan berada pada level tertentu di masa depan, karena kami tidak memproyeksikan dan angka yang tersedia hanya angka yang sudah terjadi plus sasaran kebijakan. Kedua, jangan menyimpulkan bahwa satu jenis produk keuangan lebih baik daripada yang lain, karena situs ini menjelaskan mekanisme dan tidak memberi peringkat produk. Ketiga, jangan memakai angka 3,19 persen sebagai angka permanen, karena BPS memperbaruinya setiap bulan.

Inflasi bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan, tetapi cara kamu membaca dan memakai angkanya sepenuhnya bisa. Kebiasaan yang paling berguna cuma dua: selalu sebutkan jenis inflasi dan periodenya saat menyebut angka, dan selalu ambil angkanya dari rilis resmi yang bisa kamu buka ulang. Dengan dua kebiasaan itu, kamu sudah lebih tertib daripada sebagian besar pembicaraan soal harga yang kamu dengar sehari-hari.

Artikel ini disusun sebagai edukasi, bukan nasihat keuangan, bukan saran investasi, bukan ajakan membeli atau menjual produk apa pun, dan tidak menjanjikan hasil. Angka inflasi, IHK, dan sasaran inflasi dapat berubah. Tabel Agustus bersumber dari pemeriksaan historis 9 September 2026; snapshot September dan seri bulanan diperiksa ulang pada 14 Oktober 2026. Verifikasi selalu pada laman resmi BPS dan Bank Indonesia sebelum memakainya untuk keputusan apa pun. Pelajari topik lain di platform mengatur uang dan menabung Uang Bijak, coba hitungan sederhana di tools kami, dan baca disclaimer sebelum menggunakan informasi di situs ini.

Pertanyaan yang sering diajukan
Inflasi adalah apa menurut definisi resmi?
Laman resmi Bank Indonesia menyatakan inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Laman yang sama menegaskan kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan harga pada barang lainnya. Kebalikannya disebut deflasi. Jadi dua kata kunci definisinya adalah meluas dan berlanjut, bukan sekadar mahal.
Siapa yang menghitung inflasi di Indonesia?
Badan Pusat Statistik. Laman Bank Indonesia menyatakan perhitungan inflasi dilakukan oleh BPS, yang melakukan survei untuk mengumpulkan data harga dari berbagai macam barang dan jasa yang dianggap mewakili belanja konsumsi masyarakat, lalu membandingkan harga saat ini dengan periode sebelumnya. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31 Tahun 2024 pada Pasal 1 angka 2 juga mendefinisikan Inflasi Indeks Harga Konsumen sebagai kenaikan Indeks Harga Konsumen dari waktu ke waktu tertentu yang dihitung dan dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik. Bank Indonesia memakai angka itu sebagai acuan kebijakan, bukan menghitungnya sendiri.
Berapa inflasi Indonesia pada rilis terbaru yang digunakan di artikel ini?
Inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat 3,28 persen year-on-year. Publikasi Bank Indonesia tanggal 1 Oktober 2026 secara eksplisit mengutip data Badan Pusat Statistik dan juga mencatat inflasi bulanan 0,30 persen. Angka tersebut kami periksa pada 14 Oktober 2026. Tabel Agustus 2026 dalam artikel ini dipertahankan sebagai contoh historis untuk belajar membaca rilis, bukan sebagai snapshot terbaru atau proyeksi.
Apa bedanya inflasi bulanan, tahun kalender, dan tahun ke tahun?
Catatan pada tabel Berita Resmi Statistik BPS menjelaskan ketiganya secara eksplisit. Inflasi month-to-month adalah persentase perubahan Indeks Harga Konsumen Agustus 2026 terhadap Juli 2026. Inflasi year to date adalah persentase perubahan terhadap Desember 2025, jadi mengukur akumulasi sejak awal tahun kalender. Inflasi year-on-year adalah persentase perubahan terhadap Agustus 2025. Karena periode pembandingnya berbeda, ketiganya tidak boleh dibandingkan satu sama lain.
Apa itu inflasi inti dan kenapa dipisahkan?
Laman resmi Bank Indonesia menyebut inflasi inti sebagai komponen inflasi yang cenderung stabil atau persisten dalam pergerakannya dan dipengaruhi faktor fundamental, yaitu interaksi permintaan dan penawaran, lingkungan eksternal seperti nilai tukar serta harga komoditas internasional, dan ekspektasi inflasi di masa depan. Sisanya disebut inflasi non-inti, yang terdiri atas komponen bergejolak dan komponen harga yang diatur pemerintah. Pemisahan ini dilakukan supaya terlihat bagian mana dari kenaikan harga yang berasal dari kondisi mendasar perekonomian dan bagian mana yang berasal dari kejutan sementara.
Berapa sasaran inflasi Indonesia dan siapa yang menetapkannya?
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31 Tahun 2024 tanggal 16 Mei 2024 tentang Sasaran Inflasi Tahun 2025, Tahun 2026, dan Tahun 2027 pada Pasal 3 menetapkan sasaran sebesar 2,5 persen untuk masing-masing tahun tersebut, dengan deviasi sebesar 1,0 persen. Pasal 2 aturan itu menyatakan jenis sasaran yang dipakai adalah Inflasi Indeks Harga Konsumen tahunan year-on-year pada akhir tahun, dan bentuknya titik dengan deviasi. Laman Bank Indonesia menjelaskan usulan sasaran dibahas dalam rapat koordinasi tingkat kementerian dan lembaga lalu ditetapkan Pemerintah lewat Peraturan Menteri Keuangan.
Bagaimana cara menghitung dampak inflasi pada tabungan saya?
Bagi nominal tabunganmu dengan satu ditambah tingkat inflasi dalam bentuk desimal untuk memperoleh nilai setaranya pada tingkat harga yang baru. Misalnya dengan inflasi year-on-year 3,19 persen, uang Rp10.000.000 setara sekitar Rp9.691.000 dalam daya beli setahun sebelumnya, jadi selisihnya sekitar Rp309.000. Sebaliknya, agar daya belinya setara, nominalnya perlu menjadi sekitar Rp10.319.000. Hitungan ini ilustrasi memakai angka yang sudah terbit, bukan ramalan, dan tidak menyatakan apa pun tentang periode ke depan.
Apakah menabung menjadi tidak berguna karena inflasi?
Tidak. Fungsi tabungan adalah menyediakan dana yang bisa dipakai kapan saja dengan risiko nilai yang rendah, bukan mengejar imbal hasil. Untuk kebutuhan mendesak dan cadangan jangka pendek, kepastian pencairan lebih penting daripada perlindungan terhadap kenaikan harga. Yang perlu dihindari adalah menaruh seluruh dana jangka panjang di satu tempat yang memang tidak dirancang untuk itu. Pisahkan dulu fungsi setiap pos uangmu, baru pilih wadahnya.
Berapa inflasi Indonesia tahun depan?
Kami tidak menulis angka proyeksi inflasi, dan sebaiknya kamu juga tidak memakai angka proyeksi dari sumber mana pun sebagai dasar keputusan yang pasti. Yang tersedia secara resmi ada dua hal berbeda: angka inflasi yang sudah terjadi, dipublikasikan BPS setiap bulan, dan sasaran inflasi yang ditetapkan Pemerintah lewat Peraturan Menteri Keuangan. Sasaran bukan ramalan, melainkan target kebijakan. Laman Bank Indonesia sendiri mencatat kemampuan mengendalikan inflasi relatif terbatas apabila terdapat kejutan yang sangat besar.
Tentang penulis
Tim Redaksi Uang Bijak
Redaksi Editorial · Profil & kredensial

Tim editorial Uang Bijak yang menyusun, menyunting, dan meninjau seluruh konten edukasi keuangan. Setiap angka dirujuk ke sumber resmi (OJK, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, BPS, KSEI, dan LPS) beserta tanggalnya.

Ditinjau oleh Ahmad Thariq Syauqi · Editor & Penanggung Jawab

Sumber

BPS - Berita Resmi Statistik Nomor 85/09/Th. XXIX: Perkembangan Indeks Harga Konsumen Agustus 2026Rilis 1 September 2026, beserta berkas PDF Berita Resmi Statistik Nomor 85/09/Th. XXIX yang kami unduh dari tombol unduh pada laman ini: pemantauan di 150 kabupaten/kota, IHK Agustus 2025 108,51 dan Desember 2025 109,92 serta Agustus 2026 111,97 pada tahun dasar 2022=100, inflasi m-to-m 0,21%, y-to-d 1,86%, y-on-y 3,19%, Tabel 1 sebelas kelompok pengeluaran beserta tingkat inflasi dan andilnya, catatan definisi m-to-m terhadap Juli 2026 dan y-to-d terhadap Desember 2025 dan y-on-y terhadap Agustus 2025, Tabel 2 perbandingan bulan Agustus 2024 sampai 2026, Tabel 9 komponen inti 2,92% dan harga diatur pemerintah 3,32% dan bergejolak 4,06% serta energi 3,18% dan bahan makanan 4,22% beserta andilnya, inflasi y-on-y provinsi tertinggi Maluku Utara 5,28% dan terendah Kalimantan Utara 2,17%, kabupaten/kota tertinggi Kabupaten Kapuas 6,20% dan terendah Kabupaten Morowali 1,22%, catatan sampel SBH2022 dan SBH2018, diakses 9 September 2026Bank Indonesia - Inflasi (Fungsi Utama, Moneter)Definisi inflasi dan deflasi, keterangan bahwa perhitungan inflasi dilakukan BPS lewat survei harga barang dan jasa yang mewakili belanja konsumsi, pengukuran IHK berdasarkan COICOP 2018 yang dikelompokkan ke dalam 11 kelompok pengeluaran beserta daftarnya, disagregasi inflasi (inflasi inti, komponen bergejolak atau volatile food, komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices) beserta faktor pengaruhnya, penyebab inflasi (cost push, demand pull, ekspektasi inflasi adaptif dan forward-looking), keterangan bahwa bobot volatile food dan administered prices mencakup kurang lebih 40% dari bobot IHK, pembentukan TPI di tingkat pusat sejak 2005 dan perluasan ke daerah sejak 2008, keterangan bahwa sasaran inflasi ditetapkan Pemerintah lewat Peraturan Menteri Keuangan dan rujukan ke PMK Nomor 31 Tahun 2024 dengan sasaran 2,5% dan deviasi 1,0% untuk 2025 sampai 2027, widget Inflasi IHK (yoy) 3,19% posisi 31 Agustus 2026, diakses 9 September 2026Bank Indonesia - Target InflasiTabel target inflasi dan inflasi aktual (%, yoy) per tahun: 2020 target 3±1% aktual 1,68; 2021 target 3±1% aktual 1,87; 2022 target 3±1% aktual 5,51; 2023 target 3±1% aktual 2,61; 2024 target 2,5±1% aktual 1,57; 2025 target 2,5±1% aktual 2,92; 2026 target 2,5±1% tanpa angka aktual tahunan, diakses 9 September 2026Bank Indonesia - Data InflasiSeri inflasi bulanan (%, yoy) yang terlihat pada tabel: Agustus 2026 3,19; Juli 2026 2,88; Juni 2026 3,34; Mei 2026 3,08; April 2026 2,42; Maret 2026 3,48; Februari 2026 4,76; Januari 2026 3,55; Desember 2025 2,92; November 2025 2,72. Diperiksa ulang pada 14 Oktober 2026. Angka September dirujuk terpisah ke publikasi IHK September 2026.Bank Indonesia - IHK September 2026 Tetap Terjaga (mengutip BPS)Rilis 1 Oktober 2026 mengutip data BPS: inflasi September 2026 3,28% yoy dan 0,30% mtm; diakses 14 Oktober 2026.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31 Tahun 2024 tentang Sasaran Inflasi Tahun 2025, Tahun 2026, dan Tahun 2027Konsiderans yang merujuk Pasal 21 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023, Pasal 1 angka 1 (definisi Sasaran Inflasi) dan angka 2 (definisi Inflasi IHK atau headline inflation), Pasal 2 (jenis sasaran memakai Inflasi IHK tahunan year-on-year pada akhir tahun, bentuk titik dengan deviasi), Pasal 3 (2,5% untuk tahun 2025, 2026, dan 2027 dengan deviasi 1,0%), Pasal 4, ditetapkan di Jakarta pada 16 Mei 2024, diakses 9 September 2026peraturan.go.id - Halaman Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31 Tahun 2024Halaman metadata resmi peraturan tersebut pada basis data peraturan.go.id, dipakai untuk memastikan nomor, judul, dan tanggal penetapan 16 Mei 2024, diakses 9 September 2026

Setiap angka dan klaim di artikel ini dirujuk ke sumber resmi di atas beserta tanggalnya.

Masih ada yang ingin ditanyakan soal mengatur uang? Ceritakan kondisimu, kami bantu arahkan langkah yang masuk akal.

Tanya via WhatsApp